BLITAR – Tak semua usaha harus dimulai dengan modal besar. Dari kandang kecil berisi 48 ekor ayam petelur, seorang peternak di Blitar membuktikan bahwa usaha sederhana bisa menopang kebutuhan keluarga hingga dua tahun.
Kisah ini dibagikan melalui sebuah video YouTube yang viral di kalangan warganet pencari inspirasi usaha rumahan. Video tersebut menyoroti bagaimana beternak ayam petelur skala kecil bisa tetap menghasilkan pendapatan yang stabil, meski hanya dijalankan di pekarangan rumah.
“Setiap hari ayam-ayam ini rata-rata menghasilkan 2,3 kilogram telur. Kalau dijual dengan harga Rp25 ribu per kilogram, hasilnya bisa Rp57.500 per hari,” ujar narasumber dalam video tersebut.
Dengan perhitungan sederhana, pendapatan harian itu setelah dipotong biaya pakan sekitar Rp35.500, masih menyisakan keuntungan Rp22 ribu. Jika dikalikan sebulan, keuntungan bersih yang bisa dibawa pulang mencapai Rp600 ribu.
Mungkin jumlah ini terlihat kecil. Namun bagi keluarga di desa, tambahan penghasilan rutin sebesar itu bisa membantu biaya sekolah anak, belanja harian, atau menabung untuk kebutuhan mendesak.
Peternak ini juga menekankan pentingnya pengelolaan modal sejak awal. Total biaya yang dibutuhkan untuk memulai usaha 48 ekor ayam petelur mencapai Rp7,9 juta. Modal itu digunakan untuk kandang, pembelian ayam remaja, serta pakan awal.
“Kalau sabar dan telaten, ayam petelur bisa produktif sampai dua tahun. Jadi usaha ini bukan untuk cepat kaya, tapi untuk pendapatan tambahan yang stabil,” jelasnya.
Selain keuntungan dari telur, peternak juga masih bisa menjual ayam afkir setelah dua tahun dengan harga minimal Rp50 ribu per ekor. Dari 48 ekor ayam, setidaknya ada tambahan Rp2,4 juta saat masa produktif ayam berakhir.
Cerita ini menjadi bukti bahwa usaha kecil pun bisa berdampak besar bagi kehidupan keluarga. Banyak orang terinspirasi karena modal yang dibutuhkan relatif terjangkau, sementara kebutuhan telur di pasaran selalu tinggi.
Apalagi, telur merupakan bahan pokok yang tidak pernah sepi permintaan. Harganya memang bisa naik-turun, tetapi konsumen tetap membelinya untuk kebutuhan sehari-hari. Hal inilah yang membuat beternak ayam petelur dianggap lebih aman dibanding jenis usaha lain.
Tak sedikit warganet yang kemudian menanggapi kisah ini sebagai peluang usaha sampingan. Ada yang tertarik mencoba dengan jumlah lebih sedikit, ada juga yang melihat peluang jika dilakukan secara berkelompok di desa.
“Kalau dihitung per tahun, dari 48 ekor ayam bisa menghasilkan keuntungan bersih Rp7,2 juta. Dalam dua tahun, totalnya sekitar Rp14,4 juta. Belum lagi dari penjualan ayam setelah masa produktif,” lanjut narasumber.
Angka ini memang tidak membuat seseorang menjadi kaya mendadak. Namun, bagi banyak keluarga, tambahan penghasilan rutin bisa menjadi penopang penting untuk keberlangsungan hidup sehari-hari.
Lebih dari sekadar hitungan untung-rugi, kisah ini juga mengajarkan bahwa konsistensi dan pengelolaan usaha dengan cermat adalah kunci. Modal kecil bisa berkembang jika dijalankan dengan disiplin dan kesabaran.
Inspirasi sederhana ini membuktikan bahwa peluang usaha ada di sekitar kita. Dari 48 ekor ayam petelur di sebuah kandang sederhana, keluarga bisa mendapatkan rezeki yang cukup untuk bertahan, menabung, bahkan memperbaiki kualitas hidup.
Editor : Anggi Septian A.P.