BLITAR - Dari banyaknya pandangan sebelah mata bahwasanya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tidak memiliki potensi, para pemuda di Blitar ini justru melihat sebaliknya. Lewat gerakan sosial arthup, mereka menjadikan kreativitas ODGJ sebagai sebuah merchandise yang bisa menembus pasar jual.
Berawal dari tugas akhir kuliah, lahirlah sebuah gerakan kreatif yang kini memberi ruang berkarya bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Blitar. Adalah Mada Ariya Putra,32, warga Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, yang menjadi salah satu penggagas gerakan seni bersama ODGJ, arthup.
Awalnya Mada dan kedua rekannya adalah satu almamater di Institut Seni Indonesia (ISI), Solo. Walaupun dari latar belakang yang berbeda -film dokumenter dan desain komunikasi visual (DKV). Mereka menapaki jejak gerakan ini saat mengikuti kompetisi “Kejar Mimpi” pada 2022, Mada dan kedua rekannya mendapatkan juara dan juga modal untuk memulai gerakan ini. Pada 2023 ia mulai mengembangkan gerakan sosial enterpreneurship berbasis seni.
Nama arthup sendiri merupakan akronim dari Art of Hope, yang memiliki arti “Seni Harapan” dalam bahasa Indonesia. Studio arthup saat ini terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro.
Fokus gerakan ini adalah, mengajak para ODGJ di Blitar untuk menyalurkan emosi dan pengalaman mereka melalui media gambar. Yang kemudian oleh arthup diolah menjadi merchandise seperti kaos dan tas. “Kegiatan menggambar ini disebut dengan“katarsis”. Tujuan dari “katarsis” itu sendiri agar pemikiran mereka tidak terkurung, sekaligus sebagai media pelepasan emosi,” tutur Mada saat ditemui di studionya.
Setiap goresan yang dihasilkan memiliki cerita dan maksud tersendiri. Ada yang menggambar kuda, karena pernah terjatuh dari kuda. Ada yang melukis ikan karena dirinya suka memancing, hingga ada yang melukis abstrak yang menggambarkan pergulatan batin dirinya.
Dari karya-karya seni yang dihasilkan, para ODGJ bisa menambah pengalaman sekaligus untuk membantu kebutuhan sehari-hari mereka. Sebab, karya yang mereka hasilkan, sepertiga dari hasilnya akan diberikan kepada ODGJ yang menggambar tersebut.
Proses produksi merchandise yang ada di arthup ditangani oleh rekan Mada, yaitu Muhammad Arif Yanto,31. Desain hasil karya ODGJ diolah secara digital supaya rapi, lalu dicetak dengan metode sablon manual.
Metode sablon manual dipilih oleh Arif supaya hasil sablon yang tercetak memiliki kualitas yang bagus. Bahan-bahan yang digunakan dari arthup berasal dari lokalan saja. ”Saya pilih sablon manual, supaya gambar dan kualitas cetaknya bagus dan awet. Jadi tidak akan mengecewakan pengguna produk kami, “ ucap Arif selaku penanggung jawab produksi.
Pemasaran merchandise dari arthup ini rata-rata ke daerah Jakarta. “Jumlah produksi kami biasanya sebanyak 36 kaos untuk satu gambar. Selain dari gambar, arthup juga menambah quotes yang relate dengan fenomena-fenomena terbaru yang terjadi di masyarakat sekitar,” ucapnya.
Tantangan yang arthup hadapi saat ini yaitu kurangnya SDM dalam gerakan sosial ini. “Saat ini kami memang kekurangan tenaga untuk memproduksi lebih banyak lagi. Karena salah satu rekan kami juga sudah ada kesibukan tersendiri. Jadi saat ini hanya di handle berdua saja, “ ujar bapak satu anak ini.
Harapan arthup kedepannya adalah tetap bisa mempertahankan gerakan ini. Sebab, Mada dan kawan-kawannya ingin menunjukkan bahwa karya ODGJ punya cerita melalui ekspresi jiwa yang bisa di tuangkan dalam media agar saling terhubung.(*/sub) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah