BLITAR - Dunia peternakan ayam petelur kembali jadi sorotan. Bukan hanya soal keuntungan harian yang tipis, tetapi juga karena adanya jurang besar antara harga telur yang fluktuatif dengan biaya pakan yang tak pernah turun.
Dalam sebuah video YouTube yang viral di kalangan peternak, terlihat jelas perbandingan antara modal pakan dan harga jual telur. Untuk 48 ekor ayam, biaya pakan harian mencapai Rp35.500. Dari hasil produksi 2,3 kilogram telur, pendapatan yang diperoleh sekitar Rp57.500 jika harga telur di pasaran Rp25 ribu per kilogram.
Sekilas, peternak masih untung sekitar Rp22 ribu per hari. Namun masalah muncul ketika harga telur turun. Misalnya, jika harga turun menjadi Rp23 ribu per kilogram, pendapatan otomatis ikut menurun drastis, hanya Rp52.900. Keuntungan bersih pun tinggal Rp17 ribu.
“Biaya pakan kan nggak pernah turun, tetap Rp35 ribu sekian. Tapi harga telur naik-turun terus. Kadang bisa bikin peternak rugi kalau jatuh terlalu rendah,” ujar narasumber dalam video tersebut.
Inilah yang menjadi kontroversi abadi di kalangan peternak ayam petelur. Modal terbesar selalu ada pada pakan, bisa mencapai 70–80 persen dari total biaya produksi. Namun, harga telur di pasaran tidak bisa dikendalikan peternak.
Ketergantungan pada mekanisme pasar membuat banyak peternak kecil di Blitar kerap was-was. Mereka hanya bisa berharap harga telur stabil di angka ideal, yaitu Rp25 ribu per kilogram ke atas. Jika harga turun di bawah itu, keuntungan akan tergerus habis.
“Pakan harus tetap ada, karena ayam nggak bisa puasa. Tapi telur kadang dihargai murah, padahal kita yang keluar modal terus,” tambah narasumber.
Kondisi ini berbeda dengan peternak besar yang biasanya punya cadangan modal lebih kuat, bahkan bisa menekan harga pakan karena membeli dalam jumlah besar. Sementara peternak kecil, dengan jumlah ayam hanya puluhan ekor, tidak punya posisi tawar yang sama.
Kontroversi harga telur vs modal pakan inilah yang membuat banyak peternak kecil harus ekstra hati-hati. Mereka harus menghitung dengan detail, termasuk menyiapkan dana cadangan untuk masa harga telur jatuh.
Meski begitu, sebagian peternak tetap optimistis. Mereka melihat usaha ini masih menguntungkan jika dikelola dengan telaten. Apalagi jika ditambah hasil penjualan ayam afkir setelah masa produktif selesai.
Namun tidak sedikit juga yang mulai menyerah. Naiknya harga pakan tanpa diimbangi harga telur yang stabil membuat usaha ini terasa seperti perjudian.
“Kadang kita sudah hitung untung, eh harga telur jeblok. Ya sudah, keuntungannya habis buat nutup biaya,” kata seorang peternak di Blitar.
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Blitar, tetapi juga di sentra-sentra peternakan ayam petelur lain di Jawa Timur. Kontroversi soal harga telur dan modal pakan ini terus berulang setiap tahun, terutama menjelang momen besar seperti Lebaran atau Natal.
Bagi peternak kecil, solusinya tidak banyak. Mereka hanya bisa menekan biaya seminimal mungkin dan berharap pasar kembali stabil. Jika tidak, usaha ternak ayam petelur bisa terancam gulung tikar.
Editor : Anggi Septian A.P.