Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

"Jalur Minyak Indonesia Diekspor ke Singapura dan Impor Lagi Jadi Bensin"

Anggi Septiani • Kamis, 2 Oktober 2025 | 23:00 WIB
Photo
Photo

BLITAR-Fenomena unik terjadi di dunia energi Indonesia. Minyak mentah dari tanah air diekspor ke Singapura, lalu diolah menjadi bensin dan diimpor kembali ke Indonesia dengan harga lebih mahal. Alur perdagangan ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang sebenarnya untung dan siapa yang merugi?

Indonesia tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak sekitar 4,8 miliar barel. Produksi harian mencapai 580 ribu barel, jumlah yang tidak bisa dibilang kecil. Namun sayangnya, kapasitas kilang di dalam negeri tidak mampu mengolah seluruh minyak mentah yang diproduksi. Inilah celah yang membuat Indonesia harus mengirim sebagian minyak mentah ke luar negeri, terutama Singapura.

Ironi muncul ketika bensin yang diimpor dari Singapura sebagian besar berasal dari minyak mentah Indonesia sendiri. Artinya, Indonesia menjual bahan baku dengan nilai rendah, lalu membeli kembali produk jadi dengan harga tinggi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor BBM dari Singapura pada 2024 mencapai USD 11,4 miliar atau sekitar Rp184 triliun. Padahal, nilai ekspor minyak mentah jauh lebih kecil.

“Situasi ini ibarat kita jual tebu murah, lalu beli kembali gula dengan harga mahal,” kata pengamat energi UGM, Fahmi Radi. Ia menegaskan, selama Indonesia tidak meningkatkan kapasitas kilang dalam negeri, siklus ini akan terus terjadi dan merugikan.

Singapura sendiri tidak memiliki ladang minyak. Namun negara dengan luas wilayah hanya sedikit lebih besar dari Jakarta itu sukses membangun ekosistem kilang sejak 1960-an. Lokasinya yang strategis di jalur pelayaran internasional menjadikan Singapura pusat perdagangan minyak dunia. ExxonMobil, Shell, hingga SRC memiliki kilang raksasa di sana dengan kapasitas produksi total 1,4 juta barel per hari.

Sementara itu, kebutuhan konsumsi bensin Singapura hanya sekitar 150 ribu barel per hari. Dengan kapasitas produksi jauh lebih besar, Singapura punya surplus lebih dari satu juta barel yang siap diekspor. Indonesia pun menjadi pasar utama karena kebutuhan domestik mencapai 1,6 juta barel per hari.

Kondisi infrastruktur kilang di Indonesia sangat jauh tertinggal. Kapasitas total kilang nasional hanya 1,1 juta barel per hari. Angka ini lebih rendah dari konsumsi dan juga lebih kecil dibanding kapasitas Singapura. Akibatnya, Indonesia harus menutup selisih dengan impor, termasuk dari minyak hasil olahan Singapura.

Tidak heran jika fenomena ekspor-impor ini sering disebut sebagai “paradoks minyak Indonesia”. Pemerintah pun menyadari ketergantungan tersebut terlalu besar. Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa impor bensin dari Singapura akan dikurangi secara bertahap. “Kita harus hentikan kebiasaan menjual murah lalu membeli mahal. Indonesia harus bisa berdikari dalam energi,” ujarnya.

Meski demikian, rencana pengalihan impor dari Singapura ke Amerika Serikat dan Timur Tengah tidak tanpa risiko. Waktu pengiriman dari Amerika bisa mencapai 40 hari, jauh lebih lama dibanding impor dari Singapura. Biaya logistik pun berpotensi membengkak.

Bagi pengamat, solusi utama bukan sekadar mengalihkan impor, melainkan membangun kilang baru di dalam negeri. Pemerintah pernah menargetkan proyek kilang baru di beberapa daerah, tetapi progresnya berjalan lambat. Selama target ini belum terealisasi, jalur ekspor-impor minyak yang merugikan Indonesia dipastikan berlanjut.

Ironi minyak mentah Indonesia yang diekspor ke Singapura lalu kembali sebagai bensin mahal menjadi cermin kelemahan sistem energi nasional. Cadangan minyak besar tidak menjamin kemandirian energi. Tanpa kilang modern dan kebijakan berani, Indonesia hanya akan terus membayar mahal untuk produk olahan yang sejatinya berasal dari sumber daya sendiri.

Editor : Anggi Septian A.P.
#impor BBM #Minyak Indonesia #singapura