BLITAR-Rencana pemerintah mengalihkan impor BBM dari Singapura ke Amerika Serikat menuai kekhawatiran. Salah satu masalah utama adalah waktu pengiriman yang jauh lebih lama. Jika dari Singapura hanya butuh beberapa hari, impor dari Amerika bisa memakan waktu hingga 40 hari.
Direktur Utama Pertamina, Simon Alexius Mandiri, secara terbuka menyampaikan risiko tersebut. “Waktu pengiriman minyak dari Amerika ke Indonesia bisa sampai 40 hari. Jauh lebih lama dibanding Singapura. Jika tidak dikelola dengan baik, pasokan BBM dalam negeri bisa terganggu,” ujarnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Indonesia membutuhkan sekitar 1,6 juta barel BBM per hari untuk kebutuhan domestik. Sementara kapasitas kilang nasional hanya 1,1 juta barel per hari. Selisih 500 ribu barel per hari harus ditutup dengan impor. Jika impor terlambat datang, kelangkaan bensin bisa terjadi di pasaran.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmi Radi, menilai kebijakan impor dari Amerika harus diimbangi dengan kesiapan kilang dalam negeri. “Jika impor dari Amerika datang lebih lama, cadangan di kilang dan tangki penampungan Pertamina harus cukup. Jangan sampai kebijakan bagus justru membuat krisis pasokan,” ujarnya.
Selain masalah waktu, biaya logistik juga berpotensi meningkat. Rute pengiriman minyak mentah maupun bensin dari Amerika ke Indonesia jauh lebih panjang dibanding dari Singapura. Biaya tambahan ini bisa memengaruhi harga BBM dalam negeri jika tidak ditanggung oleh pemerintah.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa pengalihan impor juga merupakan bagian dari diplomasi dagang. Indonesia berusaha memenuhi komitmen dengan Amerika Serikat untuk memperbesar volume impor energi demi menghindari hambatan tarif. Namun keputusan ini tetap harus mempertimbangkan dampaknya pada ketahanan energi nasional.
Solusi jangka panjang yang terus digaungkan adalah pembangunan kilang baru. Dengan menambah kapasitas kilang di dalam negeri, Indonesia tidak perlu terlalu bergantung pada impor. Saat ini kapasitas kilang nasional hanya 1,1 juta barel per hari, padahal konsumsi jauh lebih tinggi. Selama proyek kilang belum terealisasi, impor dengan segala risikonya akan terus menjadi kebutuhan.
Risiko impor BBM dari Amerika yang membutuhkan waktu kirim hingga 40 hari menjadi tantangan serius. Pemerintah perlu menyiapkan strategi cadangan dan distribusi yang matang agar masyarakat tidak menjadi korban dari kebijakan pengalihan impor ini. Jika tidak, tujuan mengurangi ketergantungan pada Singapura justru bisa memunculkan masalah baru berupa kelangkaan bensin di dalam negeri.
Editor : Anggi Septian A.P.