Rupiah Jadi Mata Uang Terlemah di Asia Tenggara, Daya Beli Merosot 67% dalam Dekade Terakhir
Rahma Nur Anisa• Jumat, 3 Oktober 2025 | 20:00 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan drastis dalam 10 tahun terakhir
BLITAR KAWENTAR - Rupiah kini menjadi mata uang dengan performa terburuk di kawasan Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, mata uang Indonesia ini mengalami pelemahan yang sangat signifikan dibandingkan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.
Data menunjukkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah merosot drastis dari sekitar Rp 10.000 per dolar pada 2015 menjadi Rp 16.000 per dolar pada 2025, bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.000. Kondisi ini berarti daya beli rupiah terhadap barang-barang impor, khususnya dari Amerika Serikat, telah melemah hingga sepertiga dari nilai semula.
Analisis perbandingan dengan mata uang negara ASEAN lainnya menunjukkan bahwa rupiah mengalami penurunan nilai tukar yang paling parah terhadap dolar AS. Sementara mayoritas mata uang regional memang melemah, beberapa justru berhasil menguat seperti baht Thailand, dolar Singapura, dan dolar Brunei.
Ketika dibandingkan langsung dengan mata uang sesama negara ASEAN seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, atau dong Vietnam, rupiah juga menunjukkan performa yang mengecewakan. Kondisi ini tentu merugikan masyarakat Indonesia yang mayoritas menyimpan aset dalam bentuk rupiah.
Perhitungan menunjukkan bahwa secara rata-rata, rupiah kehilangan daya beli sekitar 3% setiap tahun terhadap dolar Amerika. Ditambah dengan tingkat inflasi domestik yang rata-rata 3% per tahun, nilai riil rupiah terhadap barang impor dapat turun hingga 6% setiap tahun.
Sebagai ilustrasi, uang senilai Rp 100 juta yang disimpan pada 2015, jika dikonversi ke dolar saat ini, hanya setara dengan Rp 38 juta untuk membeli barang-barang impor. Kondisi ini sangat merugikan masyarakat yang mengandalkan rupiah sebagai satu-satunya bentuk penyimpanan aset.
Terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan rupiah kehilangan daya tawar di pasar global. Pertama, rendahnya minat investasi asing yang masuk ke Indonesia. Banyak perusahaan multinasional yang awalnya tertarik berinvestasi, namun akhirnya mengurungkan niat atau bahkan pindah ke negara lain karena berbagai kendala.
Kedua, dalam perdagangan ekspor Indonesia yang mencapai 265 miliar dolar pada 2024, sebanyak 90,9% transaksi masih menggunakan dolar AS, sementara yang menggunakan rupiah hanya 1,7%. Hal ini menunjukkan minimnya penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional.
Ketiga, sektor pariwisata Indonesia yang masih kalah jauh dari negara tetangga. Pendapatan pariwisata Thailand bahkan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan Indonesia, meskipun Indonesia memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik.
Para ahli keuangan menyarankan masyarakat untuk tidak mengandalkan rupiah sebagai satu-satunya bentuk penyimpanan aset, terutama dalam jangka panjang. Diversifikasi ke mata uang yang lebih stabil seperti dolar AS menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkan.
Beberapa pilihan yang dapat dilakukan antara lain menyimpan sebagian aset dalam bentuk dolar tunai, rekening mata uang asing di bank, atau melalui instrumen keuangan digital seperti koin stabil yang nilainya terikat dengan dolar AS.
Kondisi pelemahan rupiah ini menjadi tantangan serius bagi perekonomian Indonesia dan memerlukan upaya sistematis dari pemerintah untuk memperkuat fundamental ekonomi serta meningkatkan daya tarik Indonesia di mata investor internasional. (*)