Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dominasi Dolar Amerika dalam Transaksi Ekspor Indonesia Mencapai 90,9%, Menunjukkan Rendahnya Daya Tarik Rupiah di Pasar Global

Rahma Nur Anisa • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 14:00 WIB

Meski Ekspor 265 Miliar Dolar, Rupiah Hanya Digunakan 1,7?lam Perdagangan Internasional.
Meski Ekspor 265 Miliar Dolar, Rupiah Hanya Digunakan 1,7?lam Perdagangan Internasional.

BLITAR KAWENTAR - Indonesia berhasil mencatat nilai ekspor sebesar 265 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2024. Namun di balik angka yang terlihat menggembirakan ini, tersimpan fakta mengejutkan bahwa rupiah hampir tidak digunakan dalam perdagangan internasional Indonesia.

Data menunjukkan bahwa dari total nilai ekspor 265 miliar dolar tersebut, sebanyak 241 miliar dolar atau setara 90,9% transaksinya masih menggunakan dolar Amerika Serikat. Sementara itu, transaksi yang menggunakan rupiah langsung hanya bernilai 2,4 miliar dolar atau sekitar 1,7% dari total ekspor.

Minimnya penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional memiliki dampak langsung terhadap permintaan mata uang Indonesia di pasar global. Ketika sebagian besar transaksi ekspor dilakukan dalam dolar AS, mitra dagang Indonesia tidak memerlukan rupiah untuk melakukan pembayaran.

Baca Juga: Paulo Freire dan Pendidikan Kaum Tertindas: Menggugat Sistem Belajar yang Pasif

Kondisi ini berbeda dengan negara-negara lain yang berhasil mempromosikan mata uang domestik mereka dalam perdagangan internasional. Tiongkok dengan yuan, Jepang dengan yen, dan bahkan India dengan rupee secara bertahap meningkatkan penggunaan mata uang domestik dalam transaksi perdagangan.

Dominasi dolar Amerika dalam perdagangan ekspor Indonesia menunjukkan tingginya ketergantungan pada mata uang asing. Hal ini membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ketika dolar menguat, eksportir Indonesia memang diuntungkan karena nilai ekspor dalam rupiah meningkat. Namun di sisi lain, hal ini juga berarti permintaan rupiah di pasar internasional tetap rendah karena mitra dagang tidak perlu menukar mata uang mereka dengan rupiah.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Blitar Sambut Pejabat Baru, Achmad Wahyudi Siap Perkuat Layanan Pertanahan

Beberapa negara berhasil meningkatkan penggunaan mata uang domestik dalam perdagangan internasional melalui berbagai strategi. Tiongkok, misalnya, secara aktif mempromosikan penggunaan yuan dalam perdagangan bilateral dengan berbagai negara mitra.

India juga mulai mendorong penggunaan rupee dalam perdagangan dengan beberapa negara, terutama untuk komoditas tertentu. Rusia bahkan berhasil meningkatkan penggunaan rubel dalam perdagangan energi dengan beberapa negara setelah menghadapi sanksi internasional.

Beberapa faktor berkontribusi pada rendahnya penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional. Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah yang kurang meyakinkan membuat mitra dagang lebih memilih menggunakan mata uang yang lebih stabil seperti dolar AS.

Baca Juga: Mengikuti Agenda Tim Diploma Kepariwisataan Unmer Malang di Desa Wisata Semen Gandusari Blitar

Kedua, infrastruktur keuangan untuk transaksi dalam rupiah masih terbatas dibandingkan dengan sistem pembayaran dalam dolar AS yang sudah mapan secara global. Ketiga, kurangnya promosi aktif dari pemerintah Indonesia untuk mendorong penggunaan rupiah dalam perdagangan bilateral.

Rendahnya penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional membuat ekonomi Indonesia lebih rentan terhadap gejolak eksternal. Ketika terjadi krisis keuangan global atau perubahan kebijakan moneter negara maju, dampaknya akan lebih terasa pada negara yang sangat bergantung pada mata uang asing.

Selain itu, dominasi dolar dalam perdagangan juga berarti Indonesia harus menyediakan cadangan dolar yang besar untuk menjaga stabilitas sistem pembayaran. Hal ini mengurangi efisiensi penggunaan cadangan devisa negara.

Baca Juga: Bangga Jadi Bagian HANTARU 2025, Taruna STPN Ambil Peran di Upacara Kementerian ATR/BPN

Untuk meningkatkan penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional, pemerintah dapat menerapkan beberapa strategi. Pertama, negosiasi perjanjian perdagangan bilateral yang mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan.

Kedua, pengembangan infrastruktur keuangan yang mendukung transaksi dalam rupiah, termasuk sistem pembayaran lintas batas yang efisien. Ketiga, pemberian insentif kepada eksportir yang menggunakan rupiah dalam transaksi perdagangan.

Peningkatan penggunaan rupiah dalam perdagangan internasional akan membantu memperkuat posisi mata uang Indonesia di pasar global dan mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pasar global #rupiah melemah #ekspor #transaksi #mitra dagang #dominasi Dolar AS