Hotman Paris Protes Bunga Deposito Turun, Purbaya: "Memang Itu Tujuan Saya"
Rahma Nur Anisa• Senin, 6 Oktober 2025 | 01:00 WIB
Tanggapan Ferry Irwandi terhadap menteri keuangan Purbaya.
BLITAR KAWENTAR - Pengacara ternama Hotman Paris Hutapea mengunggah video protes terkait kebijakan Menteri Keuangan Purbaya yang memindahkan dana kas negara sebesar 200 triliun rupiah ke bank-bank pelat merah. Hotman merasa dirugikan karena bunga depositonya turun saat melakukan perpanjangan.
"200 triliun yang dimasukkan ke bank pemerintah berakibat bunga bank menjadi turun. Penghasilan Anda dari deposito dan buku tabungan jadi berkurang," keluh Hotman dalam video yang viral di media sosial.
Hotman, yang dikenal memiliki kekayaan besar, menyarankan agar dana 200 triliun tersebut hanya diperuntukkan untuk kredit padat karya bagi perusahaan yang mempekerjakan banyak karyawan. Menurutnya, ini akan lebih bermanfaat untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Menanggapi protes Hotman Paris, Purbaya justru memberikan jawaban yang mengejutkan. Dalam konferensi pers, dia dengan tegas menyatakan bahwa penurunan bunga deposito memang menjadi tujuannya.
"Pak Hotman Paris protes sama saya waktu dia memperpanjang depositonya, bunga jadi turun, dia jadi rugi katanya. Memang itu tujuan saya, memang itu yang saya inginkan," ujar Purbaya dengan nada lugas.
Pernyataan ini sontak menjadi viral dan menuai beragam reaksi. Ada yang menganggap Purbaya berani dan jujur, namun ada pula yang mengkritik pendekatan komunikasinya yang dianggap kurang diplomatis.
Purbaya menjelaskan bahwa bank membuat program deposito dengan bunga tinggi untuk menarik dana nasabah guna memenuhi kebutuhan likuiditas. Namun ketika pemerintah menyuntikkan dana 200 triliun rupiah, kebutuhan bank akan likuiditas dari nasabah menjadi berkurang.
Ini adalah hukum ekonomi dasar penawaran dan permintaan. Ketika pasokan likuiditas terpenuhi dari pemerintah, bank tidak lagi memiliki urgensi untuk mengejar nasabah dengan bunga deposito tinggi. Akibatnya, bunga deposito turun.
"Kalau masalah likuiditas diselesaikan, bank dapat uang tapi tidak dari nasabah, tentu logikanya kebutuhan bank untuk menaikkan bunga deposito itu jadi semakin menurun," jelas Purbaya.
Dengan likuiditas yang terjamin, bank bisa lebih fokus mencari pelaku usaha yang membutuhkan kredit dengan bunga rendah, bukan berburu nasabah deposito. Ini diharapkan akan mendorong pertumbuhan sektor riil dan menyerap tenaga kerja.
Purbaya mengakui bahwa kebijakannya memang merugikan pemilik dana besar dalam jangka pendek. Namun dia berargumen bahwa ini adalah trade-off yang diperlukan untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
"Secara jangka pendek yang punya uang banyak memang agak rugi, tapi ekonomi masyarakat bisa berputar," katanya menjelaskan filosofi kebijakannya.
Dia juga menambahkan bahwa ketika bunga deposito turun, orang yang memiliki uang lebih akan cenderung membelanjakan uangnya daripada menyimpannya. "Kalau punya uang lebih, bunganya turun, kan tidak ragu untuk belanja," ujarnya.
Hotman Paris merespons dengan menyatakan bahwa dampaknya tidak sesederhana itu. "Sebagian rugi sebagian untung. Kalau yang meminjam untung bunganya pelan, pasti bunga pinjaman turun. Kalau yang punya uang ya agak rugi, bunganya turun," tanggapnya.
Para pengamat mengingatkan pentingnya pengawasan ketat terhadap penyaluran dana ke perbankan. Pengalaman saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa kebijakan serupa tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Saat itu, pemerintah memberikan bantuan kepada bank agar memberikan keringanan kepada pemilik Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Namun faktanya, keringanan tidak otomatis diberikan. Nasabah harus mengajukan sendiri, dan tidak semua pengajuan dikabulkan. Akibatnya, bank meraup untung besar sementara masyarakat tidak merasakan manfaat signifikan.
"Ini salah satu mekanisme yang memang benar-benar harus diawasi karena kalau tidak, yang rugi pemerintah sendiri dan ekonomi bakal mandek," tegas pengamat ekonomi.
Perdebatan antara Hotman Paris dan Purbaya mencerminkan dua perspektif berbeda kepentingan individu pemilik modal besar versus kepentingan ekonomi masyarakat luas.
Purbaya memilih korban jangka pendek bagi pemilik dana besar demi tujuan jangka panjang menggerakkan ekonomi rakyat. Namun keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada komitmen perbankan menyalurkan dana ke sektor produktif dan pengawasan ketat dari pemerintah. (*)