BLITAR KAWENTAR - MBTI sering digunakan perusahaan untuk menyeleksi karyawan. Namun para ahli mengingatkan, praktik ini berisiko menutup peluang bagi talenta terbaik dan tidak etis secara ilmiah.
Di dunia kerja modern, banyak perusahaan menjadikan MBTI sebagai salah satu syarat seleksi. Tujuannya sederhana: mencocokkan kepribadian kandidat dengan budaya perusahaan. Misalnya, posisi sales dianggap cocok untuk ekstrovert, sementara posisi analis diasosiasikan dengan tipe judging.
Namun, efektivitas MBTI dalam menilai kinerja kerja dipertanyakan. Penelitian menunjukkan tes ini tidak reliabel. Hampir separuh responden yang mengulang MBTI dalam lima minggu memperoleh hasil berbeda. Selain itu, validitasnya rendah: tidak ada bukti kuat bahwa hasil MBTI dapat memprediksi kesuksesan kerja.
Baca Juga: Segini Uang Pensiun Sri Mulyani per Bulan Usai Lengser, Tak Sampai Rp4 Juta!
Bahkan, penerbit resmi MBTI sendiri menyatakan tes ini sebaiknya tidak digunakan untuk rekrutmen. Dokumenter Persona menggambarkan kasus diskriminasi di mana pelamar kerja ditolak hanya karena hasil tes. Padahal, kompetensi nyata jauh lebih relevan daripada label kepribadian.
Alternatif lebih ilmiah telah tersedia, seperti Big Five Personality Traits yang diakui psikolog modern. Tes ini mengukur kepribadian dengan skala kontinu, bukan kategori biner. Dengan begitu, hasilnya lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, popularitas MBTI tidak bisa dilepaskan dari daya tariknya. Bagi perusahaan, MBTI menawarkan “jawaban cepat” dalam menilai kandidat. Sayangnya, jawaban cepat ini bisa menimbulkan kerugian jangka panjang: talenta potensial tersisih hanya karena tidak cocok secara tipologi.
Baca Juga: Awasi Jangan Sering Kasih Gadget, Sejumlah Anak di Kota Blitar Alami Gangguan Psikologis
Menggunakan MBTI dalam rekrutmen lebih banyak mudaratnya dibanding manfaat. Perusahaan sebaiknya beralih ke metode yang lebih valid dan fokus pada kompetensi nyata. MBTI hanya pantas dijadikan bahan refleksi, bukan penentu masa depan seseorang.
Editor : M. Subchan Abdullah