Kopi, Kafe, dan Konsumerisme: Wajah Baru Gaya Hidup Milenial

Rizqina Lailal Akhtari • Dipublikasikan Jumat, 10 Oktober 2025 | 06:00 WIB

Ngopi di kafe kini jadi simbol gaya hidup dan identitas sosial: Jika tak bijak, tren ini bisa memicu hedonisme dan masalah finansial remaja.
Ngopi di kafe kini jadi simbol gaya hidup dan identitas sosial: Jika tak bijak, tren ini bisa memicu hedonisme dan masalah finansial remaja.

BLITAR KAWENTAR - Tren ngopi di kafe kini identik dengan konsumerisme. Remaja rela mengeluarkan uang besar demi secangkir kopi, bahkan ketika tujuannya hanya untuk diunggah di media sosial.

Ngopi yang dulunya sarana istirahat kini menjadi gaya hidup hedonis. Fenomena ini terlihat dari banyaknya kafe di perkotaan yang dipadati anak muda dengan laptop dan ponsel di tangan.

Ekonom budaya, Fajar Kurnia, menegaskan, “Ngopi di kafe adalah bagian dari pola konsumsi kelas menengah yang ingin menampilkan identitas sosialnya.”

Baca Juga: Warga Gununggede Wonotirto Blitar Keluhkan Bau Tak Sedap dari Limbah Peternakan Sapi hingga Wadul ke DPRD Kabupaten Blitar

Jika tidak disadari, pola konsumsi semacam ini dapat memicu masalah finansial dan memperkuat budaya konsumtif. Namun, jika diarahkan secara produktif, kafe juga bisa menjadi ruang kolaborasi dan inovasi.

Kopi di kafe mencerminkan wajah baru konsumerisme milenial. Kesadaran dan pengelolaan bijak sangat diperlukan agar tren ini tidak merugikan generasi muda.

Baca Juga: ⁠Ekskul Beladiri SMPN 2 Bakung Blitar Fokus Latih Sikap Sportif hingga Berani Aktualisasi Diri

 

Editor : M. Subchan Abdullah
Sumber : Hellothere
ngopi coffee shop Budaya Ngopi Gen Z nongki