BLITAR – Kabupaten Blitar kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional lewat keberhasilannya. Hal ini dibuktikan tatkala produk lokal kendang jimbe menembus pasar ekspor ke berbagai negara, mulai dari Tiongkok, Taiwan, India, Malaysia, Singapura, Brasil, hingga Amerika Serikat.
Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi, permintaan terhadap produk unggulan itu terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Permintaan kendang jimbe dan rebana meningkat signifikan.
Untuk perajin kendang jimbe di Kabupaten Blitar tersebar di tiga kecamatan, yakni Nglegok, Garum, dan Kanigoro. Adapun produksi harian rata-rata kendang jimbe berada di antara 100 hingga 300 unit.
Untuk pasar domestik, peminat terbesar datang dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan, terutama Pontianak. "Sementara itu, pasar ekspor terbesar berasal dari Tiongkok dan Taiwan, di mana kendang jimbe Blitar kini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan,” jelasnya.
Produk kendang jimbe banyak digunakan dalam kegiatan seni seperti perkusi, karawitan, hingga edukasi musik di berbagai sekolah dasar hingga menengah. Harga kendang jimbe bervariasi, mulai Rp 25.000 hingga Rp 1 juta per unit, tergantung ukuran dan kualitas bahan. “Setiap jenis memiliki pasar tersendiri, dari pelajar hingga kolektor luar negeri,” jelas Darmadi.
Prestasi besar dicapai pada 5 November 2024, saat perajin asal Kecamatan Ngelegok melakukan lepas ekspor perdana ke Tiongkok sebanyak 24 kontainer dengan total nilai mencapai Rp 17,6 miliar.
Satu kontainer berisi sekitar 3.500 kendang jimbe, yang dikirim secara bertahap selama satu tahun. Selanjutnya, pada 22 Januari 2025, dua kontainer berukuran 40 feet berisi 5.300 kendang jimbe kembali diberangkatkan dari Desa Pojok, Kecamatan Garum, menuju pelabuhan ekspor.
Pihak Disperindag mencatat, kendang jimbe kini menjadi produk hilirisasi desa yang berhasil meningkatkan nilai ekonomi kulit sapi lokal menjadi komoditas bernilai ekspor tinggi. Kabupaten Blitar menjadi eksportir kendang jimbe yang besar pascapandemi dengan omzet mencapai puluhan miliar rupiah per tahun. “Nilai ekspornya besar, bisa di kisaran Rp 400 juta hingga Rp 600 juta untuk sekali pengiriman," katanya.
Kesuksesan tersebut menjadi bukti bahwa produk kerajinan lokal memiliki daya saing global bila didukung inovasi, konsistensi kualitas, dan pendampingan dari pemerintah daerah. "Kami terus mendorong pelaku usaha kecil agar bisa naik kelas melalui program Adi Ekspor dan business matching,” pungkasnya. (kho/ynu) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah