BLITAR - Bingung memilih investasi antara saham atau reksa dana saham? Kamu tidak sendiri. Banyak investor pemula sering merasa galau menentukan mana yang lebih menguntungkan dan sesuai profil risiko mereka. Dalam video terbaru dari Kak Rubik, topik trading ini dibahas secara gamblang lewat “Battle Investasi: Saham vs Reksadana Saham”.
Kak Rubik menjelaskan, baik saham maupun reksa dana saham sebenarnya memiliki kesamaan mendasar: keduanya sebagian besar berisi saham. Bedanya, jika kita berinvestasi langsung di saham, kita membeli kepemilikan sebuah perusahaan secara langsung. Sedangkan reksa dana saham adalah kumpulan saham yang dikelola oleh manajer investasi profesional. Secara aturan, minimal 80% dana reksa dana saham dialokasikan ke saham, sementara sisanya bisa ditempatkan di produk pasar uang atau obligasi.
Contoh reksa dana saham yang disebutkan dalam video termasuk Sukorinvest Equity Fund dan BNP Paribas Ekuitas. Sukorinvest Equity Fund menempatkan 98% dana di saham seperti Astra, BBRI, dan Adaro, sedangkan BNP Paribas Ekuitas menempatkan 82% di saham dan sisanya di produk pasar uang seperti deposito. Dari sisi risiko, kedua instrumen ini masuk kategori high risk karena sifat saham yang fluktuatif, sehingga lebih cocok untuk investasi jangka panjang minimal lima tahun.
Namun, perbedaan utama terletak pada beberapa aspek penting. Pertama, return. Saham memungkinkan investor meraih keuntungan lebih tinggi atau kerugian lebih besar dibanding reksa dana saham. Sebagai contoh, rata-rata return lima tahun terakhir saham BCA sekitar 12% per tahun, sementara BNP Paribas Ekuitas, yang juga memegang saham BCA, mencatat return minus 2% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa return reksa dana saham lebih stabil karena dihitung dari rata-rata berbagai saham dalam portofolionya.
Kedua, modal investasi. Membeli saham memerlukan modal lebih besar, karena minimal pembelian satu lot setara 100 lembar saham. Misalnya, membeli saham BCA seharga Rp8.500 per lembar membutuhkan modal Rp850.000. Sementara itu, reksa dana saham bisa dibeli mulai dari Rp100.000, dan satu produk sudah mencakup beberapa saham, sehingga lebih terjangkau bagi pemula.
Ketiga, likuiditas. Kedua instrumen ini mudah dicairkan, namun mekanismenya berbeda. Saham dapat dijual kapan saja selama jam perdagangan dan uang masuk ke rekening dalam dua hari kerja. Reksadana saham memiliki “cut off time” dan dana baru bisa dicairkan dalam 4–7 hari kerja, tergantung waktu transaksi.
Keempat, biaya. Saham mengenakan biaya transaksi kecil dan pajak dividen, sedangkan reksa dana saham ada biaya manajer investasi 2–3,5% serta potongan lain yang biasanya sudah tercermin dalam return produk. Terakhir, tingkat risiko. Saham 100% tergantung keputusan investor, sehingga lebih berisiko. Sementara reksa dana saham dikelola oleh profesional, membuatnya lebih aman bagi pemula.
Kak Rubik menekankan, tujuan video ini bukan untuk menentukan mana yang lebih baik, tetapi membantu investor memilih instrumen yang sesuai dengan profil risiko, modal, dan tujuan keuangan. Untuk investor yang belum paham analisis saham, tidak punya banyak waktu, atau memiliki profil risiko konservatif, reksa dana saham bisa jadi pilihan tepat. Sebaliknya, bagi investor yang agresif dan memahami analisis saham, trading saham langsung bisa memberikan return lebih tinggi.
Dengan informasi ini, investor pemula bisa lebih yakin menentukan langkah awal di dunia trading. Seperti kata Kak Rubik, kuncinya adalah memilih instrumen yang sesuai kebutuhan, bukan sekadar ikut tren.
Editor : Anggi Septian A.P.