BLITAR KAWENTAR - Di tengah mahalnya pupuk kimia dan krisis lingkungan, nama Pak Oles atau Bapak Gede Ngurah Wididanel menjadi salah satu sosok penting dalam gerakan pertanian organik Indonesia. Berawal dari perjalanan akademik ke Jepang, ia membawa pulang teknologi Effective Microorganisms (EM) yang kini membantu ribuan petani di Bali dan berbagai daerah lain.
Latar belakang Pak Oles tak lepas dari dunia pertanian. Setelah lulus dari Universitas Udayana pada 1985, ia sempat bertani sebelum akhirnya dikirim ke Jepang untuk melanjutkan studi di Universitas Ryukyus, Okinawa. Di sanalah ia bertemu Profesor Teruo Higa, penemu teknologi EM campuran mikroorganisme baik yang dapat menyuburkan tanah dan menekan pertumbuhan mikroba jahat.
Setelah menempuh studi hingga tingkat master, Pak Oles kembali ke Indonesia membawa misi memperkenalkan pertanian organik berbasis EM. Butuh waktu hampir sepuluh tahun sebelum masyarakat mulai mengenal manfaat teknologi ini. Kini, konsep EM tidak hanya diterapkan pada lahan pertanian, tetapi juga pada pengolahan limbah, peternakan, perikanan, hingga industri herbal.
Menurutnya, inti dari teknologi EM adalah memperbaiki kualitas tanah tanpa polusi. “Krisis pupuk membuat petani harus kreatif. Dengan EM, mereka bisa membuat pupuk sendiri dari bahan alami,” ujarnya dalam wawancara.
Di bawah naungan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA), Pak Oles membuka pelatihan bagi generasi muda, petani, dan masyarakat umum. Ia ingin mengubah cara pandang bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan di desa, melainkan peluang ekonomi berkelanjutan yang sejalan dengan gaya hidup sehat dan ramah lingkungan.
Dari perjalanan panjangnya, Pak Oles menegaskan bahwa perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil. “Cintai lingkungan dari diri sendiri. Kalau tanah subur, air bersih, dan udara sehat ekonomi dan manusia juga ikut sehat,” katanya.
Editor : M. Subchan Abdullah