BLITAR KAWENTAR - Ketika harga pupuk melonjak dan distribusi tersendat, banyak petani terpaksa berhemat. Namun, di tengah keterbatasan itu, muncul teknologi Effective Microorganisms (EM) yang memberikan harapan baru bagi pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Teknologi EM dikembangkan pertama kali di Jepang oleh Prof. Teruo Higa, dan kini diperkenalkan secara luas di Indonesia oleh Gede Ngurah Wididanel atau akrab disapa Pak Oles. Prinsipnya sederhana: memanfaatkan mikroorganisme baik untuk mempercepat fermentasi bahan organik menjadi pupuk alami yang ramah lingkungan.
“Di dalam tanah sudah ada mikroorganisme, tinggal bagaimana kita meningkatkan yang baik dan menekan yang jahat,” ujar Pak Oles. Dengan EM, petani dapat membuat pupuk cair sendiri dari limbah dapur, kotoran ternak, hingga sisa tanaman. Hasilnya, biaya produksi lebih rendah dan lahan tetap subur tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.
Menurut data IPSA, penerapan EM dapat menekan biaya pertanian hingga 40%. Selain itu, produk yang dihasilkan seperti sayuran, beras, dan telur organik memiliki nilai jual lebih tinggi karena semakin diminati pasar modern dan ekspor.
Namun, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada kesadaran. “Petani masih perlu diyakinkan bahwa organik itu bukan sekadar tren, tapi investasi jangka panjang bagi tanah dan kesehatan manusia,” tambahnya.
Teknologi EM kini tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga gerakan sosial dan ekonomi baru. Dari Bali, gagasan ini terus menyebar ke berbagai wilayah. Saat pupuk kimia makin langka, EM menjadi simbol kemandirian dan kreativitas petani Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan lingkungan.
Editor : M. Subchan Abdullah