Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bisnis Makanan Siap Saji Jadi Ladang Emas Baru, UMKM Lokal Diminta Bergerak Cepat

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Minggu, 19 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Bisnis Makanan Siap Saji Jadi Ladang Emas Baru, UMKM Lokal Diminta Bergerak Cepat
Bisnis Makanan Siap Saji Jadi Ladang Emas Baru, UMKM Lokal Diminta Bergerak Cepat

BLITAR – Di tengah tren konsumsi modern dan perubahan gaya hidup pascapandemi, sektor bisnis makanan siap saji diprediksi akan menjadi ladang emas baru di tahun mendatang. Hal ini diungkapkan oleh kanal YouTube Darby Nusantara, yang menyoroti masih minimnya pemain lokal di sektor yang justru tumbuh pesat ini.

“Indonesia itu kaya. Pasarnya besar, sumber dayanya banyak. Tapi kenapa yang untung tetap pemain besar?” ujar narator Darby Nusantara dalam video berdurasi hampir satu jam itu. Menurutnya, peluang emas sering kali tidak disadari pelaku UMKM karena salah melihat arah pasar.

Sektor makanan siap saji berbasis teknologi digital dan branding modern menjadi fokus utama pembahasan. Riset dari Bank Indonesia dan Katadata disebut menunjukkan lonjakan minat masyarakat terhadap produk olahan praktis, namun belum diimbangi peningkatan jumlah pelaku usaha. “Yang beli sudah banyak, tapi yang jual masih itu-itu saja,” kata Darby.

Peluang Besar, Pemain Masih Sedikit

Darby menilai, pasar makanan siap saji lokal saat ini ibarat “tambang emas yang belum digali”. Kebanyakan pelaku UMKM masih berkutat pada pola produksi konvensional tanpa memperhatikan digitalisasi, kemasan, dan branding. Padahal, menurut laporan Nielsen, lebih dari separuh pengeluaran masyarakat urban di Indonesia kini dialokasikan untuk makanan praktis, higienis, dan bisa dikirim cepat.

“Ini bukan tren musiman, tapi perubahan gaya hidup. Orang makin malas masak tapi makin cerewet soal rasa dan kualitas,” jelas Darby. Ia juga menambahkan bahwa masyarakat menengah Asia Tenggara kini lebih banyak menghabiskan uang untuk produk siap konsumsi daripada bahan mentah, sebagaimana laporan McKinsey.

Sayangnya, pelaku lokal sering kali kalah cepat dari brand besar yang paham digitalisasi. Akibatnya, produsen lokal hanya jadi pemasok bahan mentah, sementara nilai tambah dinikmati pemain luar.

Strategi Kunci Masuk ke Bisnis Makanan Siap Saji

Darby menyebut ada enam langkah strategis untuk masuk ke pasar bisnis makanan siap saji. Pertama, pahami siapa target pelanggan. “Apakah pekerja kantoran, ibu rumah tangga, atau anak muda yang sibuk tapi ingin makan sehat? Semua punya kebutuhan berbeda,” katanya.

Langkah kedua adalah branding. Produk saja tidak cukup, karena konsumen kini membeli pengalaman dan cerita di balik merek. Ia mencontohkan bagaimana brand besar seperti Indomie dan KFC menjual gaya hidup, bukan sekadar rasa.

Langkah ketiga, kuasai pemasaran digital. Menurut Darby, pelaku usaha wajib memahami cara menjual di platform seperti TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia. “Kalau masih ngarep orang lewat depan toko, ya siap-siap ketinggalan zaman,” ujarnya.

Baca Juga: Kunjungi Faiz di Polres Kediri Kota, Okky Madasari: Pikiran Kritis Tidak Boleh di Bungkam

Selanjutnya, inovasi dalam pengemasan dan pengiriman menjadi kunci. Kini banyak layanan vacuum packaging dan logistik khusus makanan yang membuat produk tetap segar hingga ke tangan pelanggan.

Kisah Sukses dari Dapur Rumah

Sebagai contoh, Darby menampilkan kisah “Bakso Pedas 99” yang sukses mengubah usaha rumahan menjadi brand online nasional. Berawal dari pasar lokal, mereka kemudian membangun identitas visual di Instagram, memanfaatkan testimoni pelanggan, dan menjual produk via aplikasi makanan daring.

Dalam setahun, omzetnya naik tiga kali lipat. “Kuncinya cuma satu: berani digitalisasi,” ujar Darby. Contoh lain datang dari bisnis ayam goreng kekinian yang sukses berkat investasi di kemasan food grade dan kerja sama logistik dengan sistem suhu terkontrol.

Kedua studi kasus ini menunjukkan bahwa bisnis makanan siap saji lokal bisa bersaing asal punya strategi branding, kemasan, dan distribusi yang tepat.

Momentum Dukungan Pemerintah

Pemerintah, menurut Darby, juga mulai mendorong transformasi digital sektor pangan melalui program seperti Bangga Buatan Indonesia dan digitalisasi koperasi oleh Kemenkop. Dukungan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pemain baru di level UMKM.

“Kalau kalian masih ragu, berarti sudah satu langkah tertinggal. Karena dalam dunia bisnis, siapa yang datang duluan, dia yang punya tanah. Yang telat cuma bisa nyewa,” tegas Darby di akhir video.

Ia menutup dengan pesan motivatif bagi generasi muda: jangan menunggu kaya untuk memulai bisnis besar, tapi mulai dari sektor besar yang masih sepi. “Air yang diam akhirnya busuk, tapi air yang mengalir sekecil apa pun akan sampai ke laut,” ujarnya.

Dengan potensi pasar yang masih luas dan dukungan teknologi yang semakin mudah diakses, bisnis makanan siap saji kini bukan sekadar tren, tapi medan baru bagi UMKM untuk naik kelas dan menjadi pemain utama di negeri sendiri.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#digitalisasi kuliner #bisnis makanan siap saji #peluang usaha 2025 #Darby Nusantara #UMKM Lokal