Bongkar Strategi Bertahan Hidup: Pengajar ITB Sarankan Lulusan Baru Ambil Waralaba Murah untuk Belajar Manajemen Usaha
Rahma Nur Anisa• Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:00 WIB
bisnis waralaba kemungkinan gagalnya kecil dan marginnya kecil
BLITAR KAWENTAR - Bagi lulusan baru yang memiliki modal terbatas namun ingin belajar berbisnis, Tirta Mandira Hudhi, pengajar paruh waktu di Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, memberikan saran praktis dengan ambil waralaba makanan dan minuman yang murah.
Dalam sebuah kuliah yang disampaikan kepada mahasiswa tingkat akhir, Tirta menjelaskan bahwa tujuan mengambil waralaba bukan semata mencari keuntungan, melainkan mempelajari sistem manajerial usaha. "Pilihlah bisnis waralaba yang kemungkinan gagalnya kecil dan marginnya kecil," sarannya.
Ia menyebut beberapa contoh waralaba ayam goreng seperti Olive, Sabana, dan merek lainnya yang bisa dimulai dengan modal 25 hingga 35 juta rupiah. "Tujuan di sana bukan cari laba. Kalian belajar cara mengelola sehingga cara kelola itu yang membuat kalian terinspirasi untuk berbisnis yang sebenarnya," jelasnya.
Menurut Tirta, sistem waralaba makanan dan minuman murah ini cocok untuk lulusan baru yang memiliki ketiga parameter positif tabungan stabil, privilege memadai, dan indeks prestasi serta pengalaman kerja yang bagus. Dengan mengambil waralaba, risiko kegagalan lebih kecil karena sistemnya sudah teruji.
Namun bagi mereka yang hanya memiliki satu parameter positif, Tirta menyarankan untuk tidak langsung berbisnis. "Kerja dulu. Kerja ini akan membuat mental kalian tangguh dan membuat kalian tahu rasanya diperintah orang," tegasnya.
Ia menekankan pentingnya pengalaman kerja sebelum berbisnis. Dengan bekerja, seseorang bisa belajar dari lingkungan kerja yang baik maupun buruk. "Kalau ketemu kantor toxic, jangan jadi atasan seperti itu. Kalau ketemu kantor yang membuat kalian tumbuh, jadilah atasan seperti itu," ujarnya.
Tirta juga memberikan saran tentang lama waktu bekerja sebelum memutuskan berbisnis. Bagi yang hanya memiliki satu parameter positif, ia menyarankan bekerja selama dua hingga tiga tahun. Sementara bagi yang memiliki dua parameter negatif atau lebih, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai lima tahun atau lebih.
Menariknya, Tirta tidak menyarankan untuk berhenti kerja ketika sudah memulai bisnis. "Profesi ganda adalah yang terbaik. Kerja dari jam delapan sampai lima, tapi punya bisnis," katanya. Ia sendiri mengaku menjalani tujuh profesi sekaligus.
Dalam konteks memulai bisnis, Tirta juga memberikan peringatan keras tentang utang. Ia tidak menyarankan berutang untuk modal usaha jika bisnis belum pasti berjalan dengan baik. "Berutanglah kalau bisnismu sudah pasti. Jangan berutang kalau bisnismu belum pasti," pesannya.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang terjebak dalam utang karena menggadaikan aset keluarga untuk modal usaha yang belum tentu berhasil. "Jangan gadaikan rumah orang tua demi bisnis yang belum pasti," tegasnya.
Tirta juga menekankan pentingnya literasi keuangan sebelum memulai bisnis. Ia menyarankan lulusan baru untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang keuangan, perpajakan, dan manajemen usaha melalui berbagai cara, baik kuliah, kursus singkat, maupun belajar mandiri dari buku dan sumber daring.
"Kalau mau kaya, perbaiki pola pikir dulu. Untuk belajar memperbaiki otak tidak harus dengan kuliah. Boleh dengan kursus singkat, dengarkan sumber daring yang bermanfaat, baca buku, baca artikel, baca jurnal," sarannya.
Sebagai penutup, Tirta mengingatkan bahwa berbisnis bukan sekadar mengejar gelar pengusaha atau memenuhi standar masyarakat, melainkan tentang bertahan hidup di tengah ketidakpastian. "Pengusaha itu bertarung dengan ketidakpastian di setiap hidupnya. Hidup itu soal bertahan," pungkasnya. (*)