BLITAR— Kota Bogor, khususnya kawasan Jalan Suryakencana, memang tak pernah kehabisan cerita soal kuliner legendaris yang bikin penasaran. Salah satu yang kini tengah menjadi buah bibir dan diburu para pecinta makanan adalah Cungkring Mang Uceng Suryakencana.
Warung kaki lima yang buka mulai pukul 06.30 pagi ini membuktikan popularitasnya dengan antrean pembeli yang sudah mengular bahkan sebelum Mang Uceng selesai menata dagangannya. Bukti sahihnya terlihat pada hari biasa, saat matahari baru meninggi, sudah ada pembeli fanatik dari Jakarta yang sengaja datang pagi-pagi buta. Bahkan, baru saja gerobak didorong dan payung terpasang, Mang Uceng sudah melayani pesanan pertama. Tak tanggung-tanggung, kurang dari 10 menit beroperasi, Cungkring Mang Uceng Suryakencana langsung ludes enam porsi penglaris.
Bukan Sekadar Kikil, Ini Komponen Rahasia Cungkring Mang Uceng
Apa sebenarnya yang membuat Cungkring Mang Uceng Suryakencana begitu istimewa hingga orang rela datang dari jauh—bahkan dari Malaysia dan Batam? Cungkring sendiri merupakan kuliner khas Bogor yang terdiri dari potongan kikil sapi dan jeroan, disajikan bersama lontong (atau ketupat saat siang), serta disiram bumbu kacang kental yang gurih.
Di gerobak Mang Uceng, tersedia tiga jenis isian utama yang meroy-meroy dan tebal: kikil, urat, dan kepala (jeroan kepala sapi). Kekuatan cita rasa terletak pada racikan bumbu kacang Mang Uceng yang otentik dan kaya rasa. Menurut Mang Uceng, semua bahan, termasuk stok kikil dan lontong pocong (lontong yang dibungkus daun pisang), sudah disiapkan sejak malam hari. Proses persiapan yang matang ini menjamin kualitas rasa dan tekstur yang konsisten, membuat pelanggan selalu kembali.
Strategi Jitu Hindari Antrean Panjang dan Panas-panasan
Fenomena antrean panjang menjadi pemandangan biasa, terutama saat akhir pekan. Mang Uceng mengakui, di hari biasa seperti hari Rabu, ia bisa menghabiskan 15 kilogram kikil dan 4 kilogram urat. Jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 60 kilogram pada hari libur atau weekend!
Namun, bagi Anda yang ingin menikmati Cungkring Mang Uceng Suryakencana tanpa desak-desakan, Mang Uceng memberikan kiat khusus: Datanglah saat jam buka, yakni pukul 06.30 WIB. Pembeli dari Tangerang dan Jakarta yang datang pagi terbukti bisa langsung dilayani tanpa mengantri lama. Selain itu, datang pagi menjamin Anda masih kebagian pilihan menu yang lengkap, termasuk lontong pocong khas yang sering habis duluan sebelum siang berganti ketupat.
Dari Bubur Ayam Keliling ke Raja Cungkring Suryakencana
Kisah Mang Uceng sendiri adalah cerminan kegigihan dalam dunia usaha. Sudah berjualan selama tujuh tahun terakhir, Mang Uceng telah melalui berbagai fase pahit manisnya berdagang. Sebelum sukses dengan cungkring, ia pernah menjajakan bubur ayam keliling, bahkan sempat mencoba berbagai jenis kuliner lain. Ia memulai jualan kikil hanya dengan 7-8 kilogram bahan, namun kini, berkat konsistensi dan doa, omzetnya meroket hingga sanggup menjual puluhan kilogram kikil per hari.
Mang Uceng menyampaikan kunci suksesnya sangat sederhana: Bersyukur, berdoa, dan bersabar dalam menghadapi rintangan jualan. Ia juga berterima kasih pada bantuan dari media sosial (sosmed) dan para content creator yang ikut memviralkan Cungkringnya, sehingga kini dikenal oleh pembeli dari berbagai penjuru, dari dekat hingga luar negeri.
Mang Uceng memastikan bahwa saat ini, Cungkring Mang Uceng baru memiliki satu cabang utama, yaitu di Jalan Suryakencana, depan Pempek Cembus Kito. Ia berencana membuka cabang di masa depan, namun untuk saat ini, dengan volume penjualan yang fantastis, fokus utamanya adalah menjaga kualitas dan melayani pelanggan dengan baik. Cungkring Mang Uceng buka setiap hari dari pukul 06.30 WIB hingga paling cepat pukul 15.00 WIB, atau sampai dagangan ludes tak bersisa. (*)