BLITAR - Aroma khas susu fermentasi menyeruak lembut dari dapur rumah sederhana milik Yulianik, 47. Warga Desa Slorok, Kecamatan Garum, itu salah satu pelaku usaha minuman dengan berbagai khasiat. Dari ruang sempit di Blitar utara itu, perempuan ini dengan telaten mengaduk bahan-bahan segar menjadi yoghurt.
Aromanya menarik Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah untuk membeli produknya. Saat sidak pembangunan jalan pada Kamis lalu (6/11/2025), yoghurt buatannya langsung dibeli oleh Beky Rp 200 ribu.
“Awalnya saya tidak tahu kalau Pak Wabup datang ke lokasi pembangunan jalan. Saya ke depan rumah ada Pak Wabup dan menawari yoghurt buatan saya,” ujar Yulianik.
Dia menceritakan bahwa memang suka yoghurt, tetapi susah mendapatkan buatan rumahan. Padahal di Blitar banyak peternak sapi perah. Bahkan dulu di sebelah rumahnya ada tempat penampungan susu, tapi dia belum tahu cara mengolahnya.
Rasa penasaran itulah yang menuntunnya belajar membuat yoghurt sendiri. Berbekal semangat dan keinginan untuk mandiri, Yulianik kemudian mengikuti pelatihan di Balai Besar Pelatihan Pengolahan Peternakan Batu pada 2019. Sejak itu, dunia fermentasi susu menjadi bagian dari hidupnya.
Kini, Yulianik dikenal sebagai salah satu produsen yoghurt rumahan khas Blitar. Dia membuat yoghurt dengan berbagai varian rasa mulai melon, taro, jeruk, durian, cokelat, stroberi, hingga tropis mix.
Bentuknya pun beragam mulai dari stik panjang untuk anak-anak sekolah hingga botolan ukuran sedang yang banyak diburu pelanggan dewasa. “Kalau di pameran-pameran, yang stik panjang itu laris. Anak-anak suka sekali,” ujarnya sambil memperlihatkan kemasan warna-warni hasil produksinya.
Setiap hari, Yulianik hanya mampu memproduksi sekitar 20 liter susu menjadi yoghurt. Dia melakukannya nyaris seorang diri, tapi tetap dibantu tiga orang saat proses pengemasan. Menurutnya, memproduksi yoghurt itu harus tenang, sabar, dan bersih.
Sebab jika sedikit saja ada yang salah, maka bisa gagal dan harus buang susu berliter-liter. “Produk saya ini mudah rusak. Jadi kalau orang yang saya titipkan tidak tahu cara memperlakukan yoghurt, sayang sekali. Saya bikin ini dengan penuh cinta dan kebersihan,” katanya lirih.
Semangat Yulianik tidak padam. Di setiap botol yoghurt yang dia hasilkan, tersimpan cita-cita sederhana untuk menghadirkan minuman sehat bagi masyarakat dari hasil tangan warga desa sendiri. “Yoghurt ini sehat, rasanya segar, dan baik buat pencernaan. Saya ingin orang tahu bahwa produk rumahan dari desa juga bisa berkualitas,” pungkasnya. (jar/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah