Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Rugi Karena Budi Daya Gurami, Warga Blitar Ini Kini Malah Sukses Ekspor Koi

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 10 November 2025 | 21:20 WIB
BANGKIT: Usai alami kerugian di budidaya ikan gurami, warga asal Kebonagung pilih terjun ke dunia koi.
BANGKIT: Usai alami kerugian di budidaya ikan gurami, warga asal Kebonagung pilih terjun ke dunia koi.

BLITAR – Siapa sangka kegagalan bisa menjadi awal dari kesuksesan. Itulah yang dialami Nur Atim, 45, pengusaha ikan koi asal Desa Kebonagung, Kecamatan Wonodadi, yang kini sukses mengekspor ikan hias ke luar negeri seperti Brunei Darussalam dan Italia.

Kisahnya bermula pada 2018 ketika Nur Atim memutuskan untuk beralih dari budi daya ikan konsumsi ke ikan hias. Sebelumnya, dia sempat membudidayakan ikan gurami selama dua tahun, tapi hasilnya justru rugi besar.

Dia menuturkan, gurami sulit mendapatkan harga bagus di pasaran. Sementara biaya pakan terus naik membuat margin keuntungan semakin tipis. Dari situ, Nur Atim mencoba bangkit dengan belajar budi daya ikan koi dari teman-temannya. “Saya banyak belajar dari rekan-rekan sesama pembudi daya. Ternyata ikan hias seperti koi ini risikonya lebih kecil dibanding ikan konsumsi,” ujarnya.

Menurutnya, nilai kerugian dari ikan hias relatif kecil karena masih bisa dijual meskipun kualitasnya menurun. Kini, setelah hampir satu dekade menekuni usaha koi, Nur Atim memiliki lima kolam besar di lahan miliknya.

Setiap kolam bisa diisi ribuan bibit koi kecil. Namun, setelah melalui proses seleksi ketat, hanya sekitar 50 ekor terbaik yang dipertahankan hingga siap jual. “Pembibitan biasanya butuh 2 bulan, sedangkan hasil akhir bisa dicapai dalam waktu sekitar 1 tahun 7 bulan, tergantung kapasitas kolam,” jelasnya.

Jenis koi yang dibudidayakan Nur Atim antara lain Gonsake dan Kohaku, dua varietas yang memiliki corak khas dan diminati pasar internasional. Untuk meningkatkan nilai jual, dia pun aktif mengikuti kontes ikan koi di berbagai daerah. “Kalau menang kontes, harga koi bisa naik berkali-kali lipat,” katanya.

Harga koi yang dihasilkannya bervariasi mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 15 juta per ekor, tergantung kualitas dan prestasi ikan tersebut. Bahkan, dari sekali mengikuti kontes, omzetnya bisa mencapai Rp 19 juta hingga Rp 78 juta.

Kini, Nur Atim menjadi salah satu contoh nyata bahwa sektor perikanan hias di Kabupaten Blitar memiliki potensi besar. “Yang penting sabar dan tekun. Dari situ rezeki akan mengikuti,” pungkasnya dengan senyum yakin. (kho/c1/ynu) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#luar negeri #Kecamatan Wonodadi #mengekspor ikan hias #budi daya ikan konsumsi #pengusaha ikan koi