BLITAR – Produksi ikan konsumsi di Kabupaten Blitar sepanjang tahun lalu menunjukkan capaian signifikan, terutama dari sektor budidaya kolam. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar, total produksi ikan dari seluruh jenis wadah budidaya mencapai 17.301 ton per tahun, dengan nilai ekonomi mencapai Rp 377,2 miliar.
Plt. Kabid Perikanan Budidaya Disnakkan Kabupaten Blitar, Evy Hariyati mengatakan, capaian tersebut menunjukkan potensi besar sektor budidaya air tawar di wilayahnya.
“Mayoritas pembudidaya di Kabupaten Blitar masih mengandalkan kolam karena lebih mudah dikembangkan dan cocok dengan kondisi geografis serta ketersediaan air di wilayah ini,” ujarnya.
Dari empat jenis wadah budidaya yang ada, kolam menjadi penyumbang terbesar dengan volume produksi mencapai 16.839,9 ton per tahun, atau lebih dari 97 persen dari total produksi ikan konsumsi di daerah ini.
Nilai produksi dari kolam juga paling tinggi, yakni sebesar Rp 340,8 miliar per tahun. Angka tersebut mencerminkan dominasi budidaya kolam sebagai tulang punggung sektor perikanan di Kabupaten Blitar.
Sementara itu, tambak berkontribusi sebesar 431,2 ton per tahun dengan nilai ekonomi sekitar Rp 31,2 miliar. Disusul oleh jaring apung dengan produksi 28,17 ton senilai Rp 610 juta, serta mina padi dengan volume relatif kecil, yaitu 2,04 ton senilai Rp 102 juta per tahun.
Ia menambahkan, hingga kini pihaknya terus melakukan pembinaan untuk menjaga stabilitas produksi dan kualitas hasil budidaya. “Kami tetap melakukan pendampingan, pelatihan teknis, serta fasilitasi sarana dan prasarana agar produktivitas bisa terus meningkat,” lanjutnya.
Meski belum melakukan rekap akhir untuk 2025, Disnakkan Kabupaten Blitar optimistis hasil budidaya ikan tahun ini akan meningkat, seiring dengan penguatan akses permodalan dan kemitraan dengan pelaku usaha perikanan.
“Kami yakin tren produksi 2025 akan lebih baik, apalagi dengan semakin banyaknya petani ikan yang beralih menggunakan sistem kolam modern,” pungkas Evy. (kho/ynu) (*)