Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menilik Produksi Keripik Pare ala Warga Desa Tembalang Wlingi Blitar

Anggi Septian A.P. • Senin, 8 Desember 2025 | 20:00 WIB

 

 

GURIH: Hampir setiap hari Sukanti dan pekerjanya memproduksi pare menjadi keripik renyah.
GURIH: Hampir setiap hari Sukanti dan pekerjanya memproduksi pare menjadi keripik renyah.

BLITAR - Di tangan Sukanti, pare yang identik dengan rasa pahitnya menjadi camilan yang gurih dan nikmat. Sejak 2018, warga Desa Tembalang, Kecamatan Wlingi, ini mengolah pare menjadi keripik yang renyah dan oleh-oleh khas Blitar. Berikut kisah perjuangannya.

Di dusun kecil di Desa Tembalang, Kecamatan Wlingi, aroma pare renyah yang baru saja diangkat dari penggorengan kerap menyambut siapapun yang datang. Dari rumah sederhana milik Sukanti, ratusan kilogram keripik pare lahir setiap harinya, dikirim ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga merambah Kalimantan dan Bali.

Usaha yang kini dikenal dengan nama Kanza Kripik itu bukan sekadar cerita soal produk kuliner, melainkan juga kisah perjuangan, keteguhan, dan pemberdayaan keluarga.

Semua berawal pada 2018. Saat itu, Sukanti yang baru memiliki anak berusia dua tahun merasa kehilangan ritme pekerjaan yang dulu menjadi kebiasaannya. Dia ingin kembali aktif, namun tak mungkin meninggalkan rumah. Di sela mengurus anak,d ia menghabiskan waktu mencari ide bisnis di internet.

“Pas waktu itu sedang tren keripik pare. Saya coba produksi 4 kilo, tapi hampir sebulan tidak laku,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Dia sempat ragu memasarkan produknya. Namun keberanian mulai tumbuh saat ia memberanikan diri memposting keripik pare di Facebook. Satu pesanan datang, disusul pesanan grosir. Sejak saat itu, produksi meningkat dari hitungan kilogram menjadi puluhan kilogram. “Orang minta 10 kilo kemasan bal-balan, saya saja waktu itu tidak tahu. Tapi saya coba dan alhamdulillah jalan,” tuturnya.

Sukanti mengakui perjalanan usahanya tak selalu mulus. Salah satu cobaan terberat datang saat masa pandemi. Di awal Covid-19, produksi sempat berhenti tiga hingga empat bulan. Namun saat memasuki Ramadan 2020, pesanan justru membeludak. Dia mengirim hingga 3 ton keripik dan dari situ mampu membeli kendaraan sekaligus memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Tak berhenti di situ, badai kembali datang. Menjelang Lebaran, pesanan 600 kilogram stik bawang yang sudah diproduksi dibatalkan pembeli. Dengan mepetnya waktu, dia nyaris putus asa.

“Rasanya bingung, mau dibuang ke mana barang segitu banyak,” ceritanya. Dia lalu mencoba menawarkan produk ke toko grosir di Blitar, dan secara tak terduga diterima. Bahkan, pembelinya mau menanggung risiko bersama apabila terjadi retur setelah Lebaran.

Baca Juga: Peringati Hari Bakti ke-80 PUPR, Dinas PUPR Kota Blitar Ajak Pelaku Jasa Kontruksi Bangun Infrastruktur Berkualitas dan Tahan Lama

“Itu momen yang bikin saya bersyukur banget. Saya belajar, jangan produksi tanpa paham risiko,” ujarnya.

Di balik usaha ini, ada motivasi yang jauh lebih besar. Kisah kelam keluarga menjadi alasan Sukanti mendirikan usahanya. Sang mertua pernah menjadi korban penipuan arisan hingga kehilangan uang dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat keluarga menanggung beban berat.

“Saya ingin membantu mertua keluar dari tanggungan. Motivasi saya adalah membahagiakan orang-orang terdekat,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Kanza Kripik bukan hanya menopang keluarganya, melainkan juga menjadi sumber penghasilan bagi ibu-ibu di sekitar rumah.

Sebanyak sembilan pekerja tetap dan empat pekerja lepas terlibat dalam proses produksi. Setiap hari, mereka menghasilkan minimal dua kuintal keripik, dan saat musim Ramadan melonjak hingga 3 atau 4 kuintal.

Omzet bulanan pun berkisar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta dan bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat saat momen tertentu.

Bahan baku yang tergantung pada cuaca sempat menjadi kendala, terutama pare yang sulit didapat pada musim tertentu. Karena itu, Sukanti berinovasi dengan memproduksi keripik pisang atau jamur agar pekerja tetap memiliki penghasilan. “Saya ingin ibu-ibu di sini tetap kerja setiap hari. Usaha ini bukan milik saya saja, tapi milik kita bersama,” jelasnya.

Mimpi Sukanti tidak berhenti di angka omzet. Dia ingin memperluas tempat usaha, merekrut lebih banyak warga, dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas. “Kalau usaha lebih besar, saya bisa menampung lebih banyak orang. Itu cita-cita saya,” tegasnya.

Dari 4 kilogram yang hampir tidak laku hingga ratusan kilogram yang dikirim lintas provinsi, perjalanan Sukanti adalah bukti bahwa usaha kecil mampu tumbuh besar jika dibangun dengan tekat, keberanian, dan hati yang tulus. Di Desa Tembalang, keripik pare bukan lagi sekadar camilan melainkan menjadi simbol harapan, daya tahan, dan kebanggaan keluarga.(*/c1/sub) (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#keripik #Kecamatan Wlingi #blitar #mengolah #pare #oleh oleh #camilan