Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Harga Tanaman Hias 2025 di Blitar Naik Tajam, Petani Ungkap Penyebab dan Prediksi Pasar

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 10 Desember 2025 | 00:30 WIB

Harga Tanaman Hias 2025 di Blitar Naik Tajam, Petani Ungkap Penyebab dan Prediksi Pasar
Harga Tanaman Hias 2025 di Blitar Naik Tajam, Petani Ungkap Penyebab dan Prediksi Pasar

BLITAR
— Tren tanaman hias di awal 2025 kembali menunjukkan pergerakan signifikan. Setelah dua tahun harga cenderung stabil, sejumlah jenis tanaman kini mengalami kenaikan tajam. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan besar seperti Jakarta dan Surabaya, tetapi juga merambah ke daerah penghasil tanaman hias seperti Blitar. Para petani menyebut tahun ini sebagai titik balik karena permintaan melonjak drastis dan stok tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Data kenaikan harga ini banyak dibahas dalam video YouTube yang berjudul “Harga Tanaman Hias 2025 di Blitar Naik Tajam, Petani Ungkap Penyebab dan Prediksi Pasar”, dan kini viral di media sosial.

Keyword harga tanaman hias 2025 menjadi buruan warganet karena banyak yang ingin memastikan apakah kenaikan ini akan berlangsung lama atau hanya fenomena musiman. Para penghobi tanaman hias mulai melakukan pengecekan pasar, sementara pedagang di Blitar mengaku kehabisan stok beberapa jenis tanaman populer seperti Monstera Varigata, Aglonema Red Anjamani, dan Philodendron Pink Princess. Situasi ini dinilai sebagai tanda bahwa pasar tanaman hias kembali hidup setelah sempat melemah di 2023–2024.

Salah satu petani senior di Kecamatan Ponggok, Sukarman, mengatakan bahwa tren kali ini tidak sekadar karena hobi, tetapi juga dipengaruhi pergeseran gaya interior rumah. Banyak rumah baru di Blitar dan Kediri menggunakan konsep “tropical minimalist”, sehingga permintaan tanaman ukuran medium meningkat drastis. “Tahun ini luar biasa. Harga Monstera Varigata yang tahun lalu sekitar 1,2 juta, sekarang sudah di kisaran 2,5 juta sampai 3 juta. Saya sendiri kaget, tapi pasar memang bergerak ke arah itu,” ujarnya.

Menurut Sukarman, produksi tanaman hias tahun 2025 belum bisa mengejar permintaan karena banyak petani beralih ke tanaman buah atau bibit buah sejak dua tahun lalu. Ketika tren tiba-tiba naik, stok tanaman hias tidak banyak. “Petani butuh waktu untuk memperbanyak. Tidak bisa langsung panen seperti sayuran. Itu sebabnya harga tanaman hias 2025 naiknya terasa sekali,” katanya.

Selain faktor stok, musim pancaroba yang cukup panjang di awal 2025 membuat banyak bibit gagal tumbuh. Beberapa jenis tanaman seperti Caladium dan Anthurium sempat terdampak cuaca ekstrem, membuat produksi menurun hingga 40 persen. Kondisi ini berkontribusi pada kenaikan harga yang kini ramai diperbincangkan di kalangan kolektor dan pedagang online.

Sementara itu, pedagang tanaman hias di pasar Wlingi, Anik Nurmala, menyebut bahwa tren pembeli tahun ini berbeda dengan masa pandemi 2020. Jika saat itu pembeli didominasi penghobi pemula, tahun ini pembeli mayoritas adalah pelaku dekorasi rumah dan wedding organizer. “Mereka beli bukan satu atau dua. Bisa sampai 20 pot untuk dekorasi event. Itu yang bikin stok cepat habis. Harga tanaman hias 2025 naik karena permintaan industri, bukan hanya hobi,” kata Anik.

Di sisi lain, pasar online seperti TikTok Shop turut berperan besar dalam menaikkan permintaan. Banyak video viral mengenai perawatan tanaman hias membuat jenis tertentu kembali populer. Tanaman seperti Syngonium Pink Splash dan Aglonema Big Roy mendadak dicari-cari setelah masuk FYP. “Sekarang pembeli tidak hanya dari Blitar. Banyak yang order dari Bali, Kalimantan, bahkan NTT. Semua lewat TikTok Shop,” tambah Anik.

Pengamat pertanian dari Universitas Negeri Malang, Dr. Lailatul Rofi’ah, menegaskan bahwa peningkatan harga tahun ini sebenarnya mengikuti pola siklus lima tahunan. “Tren naik-turun tanaman hias tidak acak. Biasanya setiap lima tahun ada puncak permintaan. Dan 2025 memang siklusnya,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa harga kemungkinan besar masih akan meningkat hingga pertengahan 2026, terutama jika tren dekorasi tropical tetap mendominasi.

Meski demikian, Dr. Lailatul mengingatkan pembeli agar tidak terjebak spekulasi. Ia menyarankan penghobi membeli tanaman untuk dinikmati, bukan untuk investasi semata. “Harga bisa turun sewaktu-waktu jika stok membaik. Tapi untuk 2025, kita harus akui bahwa harga tanaman hias 2025 sedang berada di puncaknya,” tutupnya.

Dengan tren yang semakin naik dan permintaan yang terus membesar, pasar tanaman hias 2025 diprediksi menjadi salah satu sektor paling menjanjikan di Blitar. Baik petani maupun pedagang berharap momentum ini dapat meningkatkan kembali ekonomi lokal, terutama di desa-desa yang mengandalkan budidaya tanaman hias sebagai sumber penghasilan utama.

Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra
#pasar #Monstera Varigata #tanaman hias Blitar #tren tanaman hias #penjualan