BLITAR – Hidup seorang sopir bus pariwisata tak pernah benar-benar bisa ditebak. Di balik kenyamanan para wisatawan yang duduk santai menikmati perjalanan, ada kisah panjang penuh perjuangan, tekanan, hingga rindu keluarga yang jarang terucap. Hal itu diungkapkan Sugeng (56), salah satu sopir senior yang kini bekerja di PO Yen Putra. Dalam sebuah perbincangan, ia menggambarkan bagaimana profesi sopir pariwisata adalah pekerjaan yang terlihat sepele namun menyimpan beban besar di pundak.
Pada tiga paragraf awal inilah, Sugeng menanggapi anggapan masyarakat bahwa sopir bus pariwisata identik dengan ugal-ugalan. “Enggak semua begitu,” katanya. Menurutnya, kesan ugal-ugalan justru banyak muncul di bus reguler karena sopir dikejar waktu, jarak antar keberangkatan yang mepet, serta persaingan ketat antarkendaraan. “Kalau pariwisata itu nyantai, enggak dikejar jam keberangkatan,” jelasnya.
Justru, kata Sugeng, sopir wisata sering mengikuti permintaan penumpang. Ada rombongan yang ingin cepat sampai, ada yang minta santai saja. “Customer itu enggak sama. Kita hanya ngikuti,” ujarnya. Di jalan tol, ia mengakui bahwa kecepatan mobil besar seperti bus memang lebih tinggi. Tetapi di jalan bawah, arus kendaraan yang padat membuat sopir harus ekstra hati-hati. “Yang penting perjalanan nyaman,” tambahnya.
Awal Mula Menjadi Sopir: Dari Terpaksa hingga Terbiasa
Perjalanan Sugeng sebagai sopir dimulai jauh sebelum ia benar-benar dewasa. Sejak duduk di bangku SMK, ia sudah mengemudi mobil barang untuk membantu ekonomi keluarga. Ia menjadi yatim piatu sejak SMP, memaksanya bekerja sambil sekolah. “Kita harus mikir sendiri. Hidup sendiri,” kenangnya.
Di tahun 1999, ia nekat menjadi sopir bus di Sumber Kencono. Tak ada pelatihan formal, tak ada mentor. Ia belajar langsung di jalan karena tuntutan ekonomi sebagai kepala keluarga. “Kebentur keadaan. Nekad karena harus menghidupi rumah tangga,” katanya.
Setelah bertahun-tahun pindah dari satu PO ke PO lain, akhirnya Sugeng memilih bekerja di PO Yen Putra, perusahaan transportasi wisata yang menurutnya memberi kenyamanan lebih bagi para sopir. Selain jarak kerja yang masih bisa ditempuh pulang-pergi dari rumahnya, sistem perusahaan juga lebih rapi. “Servis, perawatan, semuanya sudah dihandle kantor. Kita enggak mikir,” ungkapnya.
Rindu Anak yang Tak Pernah Selesai
Di balik perjalanan panjang di aspal, ada cerita paling pribadi yang ia akui sebagai tantangan terbesar: urusan keluarga. Sebagai sopir bus pariwisata, Sugeng hampir selalu bekerja di akhir pekan—hari ketika anak-anaknya justru libur dan ingin bersama ayahnya.
“Sering diprotes,” katanya sambil tertawa kecil. Anak-anaknya dulu selalu kebingungan karena setiap Minggu sang ayah tak ada di rumah. “Kalau anak libur, bapaknya kerja. Liburnya malah di hari biasa,” tuturnya.
Meski begitu, keluarga Sugeng sudah terbiasa. Mereka memahami ritme kerja sang ayah yang memang tak sama dengan kebanyakan orang. Sesekali, jika dapat jatah libur hari Minggu, Sugeng selalu menyempatkan waktu khusus untuk keluarga. “Selama di rumah enggak ada keluhan ekonomi, ya nyaman,” ujarnya.
Baca Juga: Pelaku Dibawah Umur, Kasus Pembuangan Bayi di Blitar Ditangani Unit PPA Polres
Kini, semua anaknya sudah lulus dan bekerja. Baginya, itu menjadi kebanggaan terbesar dari profesi yang ia jalani puluhan tahun. “Saya sudah bisa mengentaskan anak-anak. Itu yang paling saya syukuri,” katanya.
Sopir, Hiburan, dan Cerita Tanpa Henti di Jalan
Meski lelah dan tekanan pekerjaan sering datang, Sugeng mengakui bahwa perjalanan bus selalu memberi cerita baru. Setiap hari, ada saja kejadian lucu, unik, hingga menguji kesabaran. Ia dan kernet sering saling menghibur agar stres tak menumpuk di perjalanan.
“Penumpang tidur semua, kita yang menghibur satu sama lain,” ujarnya. Menurutnya, justru banyak kisah menarik yang hanya bisa didapat saat bus tengah melaju. “Perjalanan itu agenda wisata juga. Banyak cerita di jalan.”
Terkait keselamatan, Sugeng bersyukur tak pernah mengalami kecelakaan berat. Kalaupun ada, hanya insiden kecil seperti spion patah. Semua itu bisa diatasi setibanya di garasi karena ada mekanik yang siap membantu.
Komitmen: Selama Mematuhi Aturan, Semua Akan Nyaman
Sugeng menutup ceritanya dengan satu prinsip sederhana: patuh pada perusahaan dan mengemudi sesuai prosedur. “Selama kita enggak ada kesalahan, ya nyaman,” katanya. Menurutnya, kenyamanan sopir dan penumpang sangat bergantung pada satu hal: konsistensi mengikuti aturan.
Bagi Sugeng, menjadi sopir bus pariwisata bukan hanya soal membawa kendaraan besar, tetapi tanggung jawab, kesabaran, dan cinta keluarga yang terus ia jaga meski jarak tak selalu memungkinkan.
Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra