Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Supartono Bangkit dari Keterpurukan hingga Raup Puluhan Juta Berkat Monstera Varigata

Rendra Febrian Permana • Rabu, 10 Desember 2025 | 02:00 WIB
Kisah Supartono Bangkit dari Keterpurukan hingga Raup Puluhan Juta Berkat Monstera Varigata
Kisah Supartono Bangkit dari Keterpurukan hingga Raup Puluhan Juta Berkat Monstera Varigata

 

BLITAR – Perjalanan hidup Supartono, pria asal Mojokerto yang kini menetap di Blitar, menjadi bukti bahwa peluang bisa datang dari mana saja, termasuk dari dunia tanaman hias seperti Monstera Varigata. Melalui kisah jatuh bangun yang panjang, ia akhirnya menemukan jalan rezeki dari hobi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Awal Pindah ke Blitar dan Awal Usaha yang Sulit

Supartono bercerita bahwa awal mula ia datang ke Blitar hanyalah karena iseng berkunjung ke rumah adiknya. Udara yang adem membuatnya betah, apalagi karena saudara kembar istrinya juga tinggal di sini sehingga membuat mereka merasa tak boleh berjauhan. Dari situlah ia dan keluarga memutuskan pindah.

Sebelum terjun di tanaman, ia sudah mencoba berbagai macam usaha. Mulai dari beternak ulat kandang hingga bisnis donat. Semua dijalani dengan penuh semangat, namun tak satu pun bertahan lama. Usaha ulat Hongkong yang awalnya naik, tiba-tiba anjlok tanpa panen. Dari satu boks yang seharusnya menghasilkan 1,5 kilogram, ia hanya memanen sekitar dua ons. Kerugian menumpuk hingga puluhan juta.

Usaha donat pun tak lebih baik. Harga jual di Blitar jauh lebih rendah dibanding daerah asalnya, Mojokerto. Pelanggan sempat bertambah, namun kembali menurun. Pada titik itu ia benar-benar menyerah dan memilih bekerja ikut orang dengan bayaran harian hanya Rp30 ribu, tetap di bidang ulat Hongkong untuk mencari pengalaman.

Momen Terbesar: Bertemu Tanaman Hias

Dalam kondisi ekonomi yang terpuruk—bahkan sampai tak mampu bayar listrik—istrinya mulai menunjukkan ketertarikan pada tanaman hias. Dari situlah inspirasi itu muncul. Ia teringat kawasan Sirah Kencong, Blitar, yang terkenal dengan perkebunan tehnya. Dengan modal nekat, ia dan istri berboncengan motor melewati jalur terjal di tengah hutan untuk mencari tanaman.

Perjalanan berat itu terbayar ketika ia menemukan Monstera liar di alam. Ia kemudian meminta izin petugas setempat untuk mengambil beberapa tanaman. Dari situlah bibit awal usahanya bermula, jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda.

COVID-19: Tanaman Hias Meledak, Monstera Varigata Jadi Incaran

Pandemi menjadi titik balik terbesar dalam hidup Supartono. Ketika banyak orang mulai mencari hobi rumah, permintaan tanaman hias meningkat tajam. Ia memperbanyak bibit dengan metode cacah, lalu menjualnya secara online melalui Facebook. Pesanan mulai datang dari berbagai daerah, mulai dari batu bonggol, tanaman perform, hingga tanaman koleksi.

Dalam masa itu, Monstera Varigata menjadi primadona. Satu daun saja pernah terjual hingga Rp15 juta. Varietas lain seperti kuping gajah varigata dan bilodendron juga ikut naik daun. Bahkan ia pernah menjual satu tanaman seharga Rp30 juta. Setiap hari ia bisa mengirim 40 hingga 50 tanaman, bahkan pernah mencapai 150–200 pesanan ketika buyer dari Pekanbaru belanja dalam jumlah besar.

Baca Juga: Liga 4 Bergulir, PSBI Blitar Siapkan Skuad Muda Andalan, Ini Targetnya

BLT Garden: Nama yang Unik, Rezeki Berlipat

Usaha tanaman hiasnya diberi nama “BLT Garden”, pemberian seorang temannya. Nama yang awalnya hanya gurauan itu justru mudah diingat banyak orang. Pembeli pun makin banyak yang memilih transfer langsung tanpa ribet.

Supartono juga bercerita bahwa banyak petani atau kolektor yang punya tanaman bagus, tetapi dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, sehingga perform-nya tidak maksimal. Padahal, menurutnya, perform adalah kunci nilai jual. “Orang hobi itu nggak ada patokan harga,” ujarnya. Selama tanaman unik dan tampil bagus, harga bisa dipatok tinggi.

Harga Anjlok, Stok Banyak, Tetap Bertahan

Setelah tiga tahun, demam tanaman hias mulai turun drastis. Harga-harga yang dulunya selangit seperti Monstera Varigata kini merosot tajam. Tanaman yang dulu ia beli Rp20 juta dan ditawar Rp25 juta, ia tahan supaya daunnya bertambah. Namun ternyata harga pasar turun, membuatnya rugi besar.

Meski begitu, ia tetap bertahan. Baginya, usaha tanaman bukan sekadar tren. Selama perawatan baik, tanaman akan kembali bernilai. Ia pun kini lebih selektif memilih stok dan berfokus pada tanaman jumbo atau perform tinggi yang memiliki nilai stabil.

Kembali ke Filosofi Awal: Nilai Ada pada Keunikan

Supartono mengaku semakin memahami dunia tanaman. Ia mencontohkan plediserium atau tanaman berkarakter tegak dan kerdil yang justru bernilai mahal. Ia pernah menjual jenis tertentu hingga Rp30 juta. Semua kembali pada mindset, ujarnya. Jika percaya tanaman itu bernilai, pembeli pun akan datang.(*)

Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi
#bisnis tanaman #Monstera Varigata #Supartono Blitar #BLT Garden #tanaman hias