Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Abah Aziz Bangun The Lawu Group: Dari Nyunggi Hasil Panen Hingga Punya 34 Unit Wisata di Tawangmangu

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 10 Desember 2025 | 01:30 WIB
Kisah Abah Aziz Bangun The Lawu Group: Dari Nyunggi Hasil Panen Hingga Punya 34 Unit Wisata di Tawangmangu
Kisah Abah Aziz Bangun The Lawu Group: Dari Nyunggi Hasil Panen Hingga Punya 34 Unit Wisata di Tawangmangu

BLITAR – Nama The Lawu Group belakangan ramai diperbincangkan para pelaku wisata. Di balik berkembangnya puluhan destinasi rekreasi, resto, resort, dan pusat oleh-oleh di kawasan Tawangmangu, ada sosok Abah Aziz—pria desa yang meniti perjalanan panjang dari kemiskinan, kegigihan, hingga menjadi pengusaha dengan 34 unit usaha wisata.

Perjalanan Keras dari Lereng Lawu

Abah Aziz, yang bernama lengkap Pamin Abu Aziz, lahir dan besar di Belumbang, Karanganyar. Masa kecilnya tidak jauh dari kehidupan khas anak petani: menggembala, membantu orang tua mencari rumput dan kayu, serta ikut bekerja di ladang. Jarak tiga kilometer menuju sekolah ditempuh sambil nyunggi hasil panen setiap hari.

Bahkan untuk urusan bersuci ketika membantu membersihkan kandang babi, ia melakukan praktik najis mughaladzah—membasuh tubuh tujuh kali dengan tanah. Hidup keras itu menjadi fondasi mentalnya.

Orang tuanya sempat melarangnya kuliah karena ketiadaan biaya. Namun ia bersikeras. “Insyaallah saya kuliah sambil bekerja,” ujarnya dalam testimoni video. Saat berhasil mendapatkan penghasilan pertamanya, sang ibu menangis haru.

Mengejar Karier, Menemukan Kesadaran Baru

Abah Aziz sempat bercita-cita menjadi guru agama. Ia menempuh pendidikan madrasah hingga kuliah jurusan Tarbiyah. Namun karier di perusahaan asuransi justru lebih cepat mengangkatnya. Ia memulai dari agen hingga mencapai puncak prestasi sebagai CEO.

Meski sudah menduduki jabatan tertinggi, ada kegelisahan yang muncul. “Apa gunanya saya sampai puncak karier, tapi tidak bisa membantu saudara saya?” katanya. Rata-rata pendidikan keluarganya hanya sampai SD atau SMP, sementara perusahaan tempatnya bekerja mensyaratkan minimal SMA.

Kesadaran itu memuncak saat ia berhaji tahun 2009. Ia berdoa agar diberi petunjuk untuk membangun usaha yang membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Lahirnya The Lawu Group

Sepulang dari haji, muncul keinginan kuat untuk belajar bisnis. Pilihan pertama jatuh pada peternakan kambing perah. Ia mengirim adik-adiknya untuk belajar langsung dari peternak sukses, lalu membangun usaha Etawafarm Tawangmangu.

Dari sanalah jejaring terbuka. Ia bertemu Habib Abdullah Hanis, pecinta kambing sekaligus juru masak andal. Kolaborasi keduanya melahirkan Sate Lawu Tawangmangu pada 2017—resto keluarga berkonsep modern, parkir luas, dan kapasitas hingga 300 orang. Konsep berbeda dari warung sate kebanyakan membuatnya langsung viral dan menjadi ikon baru Tawangmangu.

Seiring waktu, usaha berkembang pesat. The Lawu Group kini menaungi lebih dari 34 unit usaha—mulai destinasi wisata, resort, kafe, resto, sampai pusat oleh-oleh. Beberapa dibangun dari nol, sebagian lain merupakan objek lama yang mereka take over dan naikkan kembali dengan manajemen baru.

Strategi Manajemen: Kolaborasi dan Diferensiasi

Kekuatan The Lawu Group ada pada konsep kolaborasi. Mereka tidak menaruh semua “telur dalam satu keranjang”. Unit bisnis disebar di banyak lokasi dengan konsep yang berbeda-beda:

Lawu Park dengan kampung salju dan snow machine sungguhan.

Sakura Hill berkonsep “Japan of Java”.

Wonderpark sebagai kawasan camping dan resort keluarga.

Deretan kafe unik seperti Kalenja (The Best View), 2020 (High Café), dan MHV dengan panorama 360 derajat.

Beberapa unit bahkan berjalan menopang unit lain. “Dari 30-an unit, masih ada yang harus disubsidi. Tapi konsep taawun itulah yang membuat semuanya saling menguatkan,” ujarnya.

Ujian Besar Saat Pandemi

Pandemi menjadi masa paling berat. Semua unit wisata tutup total. Namun komunikasi terbuka menjadi kunci. Ia berdiskusi dengan keluarga, manajemen, dan karyawan untuk mencari solusi terbaik—termasuk sistem kerja bergilir agar tetap bisa memberikan 50–60% gaji.

Mereka kemudian menjual paket isolasi mandiri di resort, menjual menu takeaway, hingga menyediakan paket buka puasa dan sahur yang dibeli para dermawan untuk disalurkan ke masjid dan panti asuhan. Dalam sebulan Ramadan, dapur The Lawu Group tetap menghasilkan lebih dari 600–800 porsi per hari.

Diskon 50% untuk voucher menginap juga dilakukan demi menjaga arus kas. “Yang penting uang masuk dulu,” kenangnya.

Membangun SDM dari Nol

Satu hal yang konsisten: membangun SDM lokal. Banyak karyawan dulunya petani, pencari kayu, atau buruh bengkel. Mereka dilatih hingga layak bekerja di industri wisata. “Walau usia tua, kalau mau belajar, kita ajari,” kata Abah Aziz.

Filosofi Bisnis: Harta Harus Dibawa Mati

Ada kalimat Abah Aziz yang menjadi pegangan: “Salah kalau orang bilang harta tidak dibawa mati. Harta harus dibawa mati—caranya dengan jadi amal jariyah.”

Melalui The Lawu Group, ia membuktikan bahwa bisnis bisa menjadi sarana keberkahan, menolong keluarga, serta membuka lapangan kerja luas di Tawangmangu.

 

Editor : Dimas Galih Nur Hendra Saputra
#bisnis #sate #pengusaha #The Lawu Group #lawu park