BLITAR – Fenomena cliper semakin ramai diperbincangkan, terutama setelah banyak influencer besar mulai membuka peluang bagi para pengikutnya untuk memotong ulang konten mereka dan mendapatkan bayaran. Dalam video terbaru Pecah Telur, salah satu editor internal, Iqbal, mengulas secara gamblang bagaimana fenomena cliper tumbuh, berubah, hingga kini dilirik oleh brand-brand besar sebagai bagian dari strategi pemasaran digital.
Fenomena cliper bukan hanya menjadi tren di media sosial, tetapi juga mulai dianggap sebagai peluang pendapatan baru. Bahkan, beberapa influencer besar diketahui memberikan reward menggiurkan berdasarkan performa view. Inilah alasan mengapa fenomena cliper melonjak dan menarik perhatian banyak kreator baru yang ingin mencoba peruntungan mereka.
Menurut Iqbal, fenomena cliper mulai muncul seiring meningkatnya popularitas live streaming di YouTube dan platform lainnya. Konten live yang panjang—bahkan ada yang mencapai delapan jam—membuat penonton mencari cuplikan tertentu tanpa harus menonton keseluruhan video. Celah inilah yang diisi oleh para cliper.
Apa Itu Cliper dan Kenapa Fenomenanya Meledak?
Dalam penjelasannya, Iqbal menyebut bahwa cliper adalah individu yang memotong video panjang, seperti live streaming atau podcast berdurasi lebih dari satu jam, menjadi potongan-potongan pendek yang lebih mudah dikonsumsi. Potongan tersebut kemudian diunggah ke platform seperti TikTok, YouTube Shorts, maupun Reels.
Selain karena kebutuhan penonton, banyak juga orang yang secara kreatif memotong video idolanya, lalu mengunggah ulang untuk membangun akun konten pendek mereka sendiri. Ketika potongan itu viral, engagement pun meningkat—baik untuk cliper maupun sang influencer.
“Demand-nya jelas ada. Penonton tidak ingin menonton 8 jam live, jadi mereka mencari cuplikan,” ujar Iqbal.
Influencer Mulai Komersialisasi Cliper
Iqbal mengungkap bahwa sejumlah influencer besar seperti Ferry Irwandi, Timoty Ronald, dan Agus Leo Halim mengadakan sayembara cliper. Sistemnya bermacam-macam, mulai dari pembayaran berdasarkan jumlah view, hingga bonus langsung jika potongan video masuk FYP kreator.
Timoty Ronald, misalnya, memberi reward langsung Rp1 juta untuk video yang muncul di FYP miliknya. Sementara Agus Leo Halim menggunakan sistem checkpoint: Rp300 ribu, Rp500 ribu, hingga Rp1 juta berdasarkan target view tertentu.
Beberapa influencer bahkan telah menyiapkan platform khusus. Agus Leo Halim memiliki Linkit, sedangkan Ferry Irwandi membuka rekrutmen cliper melalui Discord, lengkap dengan aturan, hashtag, serta mekanisme pelaporan view.
“Influencer ini punya keberanian memberi reward besar karena mereka tahu potensi sebarannya,” tambah Iqbal.
Namun, menurutnya, hanya 1 dari 100 orang yang benar-benar mampu mencapai view ratusan ribu hingga jutaan. Selain karena kualitas edit, algoritma platform seperti TikTok juga sangat menentukan performa video.
Cliper vs Influencer: Mana Lebih Menjanjikan?
Dalam diskusi, muncul pernyataan viral yang mengatakan bahwa anak muda lebih memilih menjadi cliper dibanding influencer. Namun Iqbal tidak sepakat.
Menurutnya, pekerjaan cliper sangat bergantung pada momen. Ketika tren live streaming menurun, kebutuhan terhadap cliper bisa ikut meredup. Selain itu, skill cliper relatif terbatas pada editing saja, berbeda dengan influencer yang harus memiliki kreativitas, kemampuan membangun persona, hingga inovasi konten.
“Influencer lebih menjanjikan secara jangka panjang karena mindset kreatifnya terus berkembang,” jelasnya.
Meski begitu, Iqbal mengakui bahwa skill menjadi influencer tetap berguna meskipun seseorang gagal menjadi kreator besar. Skill tersebut tetap relevan untuk bekerja di perusahaan, terutama di tim kreatif atau content creator.
Fenomena Cliper untuk Brand, Apakah Efektif?
Dalam proyek freelance terbarunya, Iqbal bekerja sebagai cliper untuk sebuah brand. Ia menjelaskan bahwa cliper untuk brand memiliki dua tujuan utama: meningkatkan awareness atau mendorong penjualan (sales).
Jika tujuannya awareness, maka brand ingin cuplikan konten mereka tersebar luas, memperkuat branding, dan menciptakan top-of-mind di masyarakat. Sementara untuk sales, potongan video biasanya difokuskan pada promosi produk, edukasi manfaat, atau testimoni singkat.
Namun, ia menilai efektivitas strategi ini masih bervariasi, bergantung pada kreativitas cliper, kualitas materi inti, serta algoritma platform.
“Brand-brand mulai tertarik karena melihat banyak influencer berhasil memanfaatkan clipper untuk memperluas kolam audiens,” ujar Iqbal.
Fenomena ini diprediksi terus berkembang, meski persaingan antar cliper juga semakin ketat.(*)
Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi