Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Inspiratif Abah Aziz Bangun The Lawu Group dari Nol: Dari Nyunggi Hasil Panen hingga Jadi Pengusaha Wisata Terbesar di Lereng Lawu

Rendra Febrian Permana • Rabu, 10 Desember 2025 | 02:30 WIB
Dari Nyunggi Hasil Panen hingga Jadi Pengusaha Wisata Terbesar di Lereng Lawu
Dari Nyunggi Hasil Panen hingga Jadi Pengusaha Wisata Terbesar di Lereng Lawu

BLITAR – Kisah perjalanan hidup Abah Aziz, pendiri The Lawu Group, menjadi inspirasi bagi banyak orang. Lahir dan besar di keluarga petani sederhana di Lereng Lawu, ia melewati masa kecil penuh perjuangan. Namun berkat tekad dan kerja keras, ia berhasil membangun The Lawu Group, sebuah manajemen wisata yang kini memiliki lebih dari 30 unit usaha mulai rekreasi, resto, resort, hingga pusat oleh-oleh. Perjalanan panjang inilah yang menjadikannya salah satu pelaku industri wisata paling disegani di Tawangmangu.

Masa Kecil Penuh Perjuangan di Lereng Lawu

Abah Aziz bercerita, sejak kecil ia sudah terbiasa membantu orang tua di ladang, menggembala, mencari kayu, hingga membawa hasil panen sejauh tiga kilometer setiap hari. Bahkan untuk bersuci dari najis mughaladah setelah membersihkan kandang babi, ia mempraktikkannya dengan cara yang ketat—membasuh dengan tanah tujuh kali, lalu mandi sebelum berangkat sekolah.

Kondisi ekonomi keluarga membuatnya hampir tidak melanjutkan sekolah. Usai lulus SD, ibunya tidak mengizinkan ia masuk SMP. Namun dengan tekad kuat, ia memohon, menangis, bahkan sakit karena terus dipendam. Setelah melalui penolakan dan masalah administratif saat mendaftar SMP negeri, akhirnya ia bisa masuk sekolah swasta berkat ayahnya yang iba melihat perjuangannya.

Kuliah Sambil Bekerja dan Puncak Karier di Asuransi

Cita-cita awal Abah Aziz sebenarnya menjadi guru agama. Ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah. Namun karena harus membiayai hidup sendiri, ia bekerja sambil kuliah. Kariernya di industri asuransi justru melesat lebih cepat dibanding pendidikan yang ia tempuh.

Di semester tiga, ia memutuskan berhenti kuliah dan fokus bekerja. Kariernya terus naik: mulai agen, supervisor, distrik manajer, area manajer, hingga akhirnya mencapai posisi direktur utama atau CEO. Namun di puncak karier itulah ia merasa ada yang kurang: ia tidak bisa membantu saudara-saudaranya yang rata-rata hanya lulusan SD dan SMP, tidak memenuhi syarat minimal pendidikan di perusahaannya.

Kesadaran Spiritual yang Mengubah Jalan Hidup

Pada tahun 2009 saat menunaikan ibadah haji, ia berdoa agar diberikan jalan untuk membangun bisnis yang bisa membantu keluarganya dan masyarakat sekitar. Tidak lama setelah itu, ia mulai mempelajari usaha peternakan kambing perah. Ia mengirim adik-adiknya belajar langsung ke peternak sukses.

Usaha pertama bernama Etawafam Tawangmangu. Dari sinilah ide bisnis lain bermunculan. Ia lalu membuka usaha kuliner Sate Lawu Tawangmangu bersama rekannya Habib Abdullah Hanis pada 2017. Konsep restoran keluarga yang nyaman, bersih, dan mampu menampung bus wisata membuatnya langsung menjadi ikon baru di Tawangmangu.

Lahirnya The Lawu Group dan 34 Unit Usaha

Dari dua usaha awal tersebut, Abah Aziz merintis The Lawu Group, sebuah manajemen kolaborasi berbasis pariwisata. Model bisnisnya meliputi rekreasi, resto, resort, dan oleh-oleh. Total kini ada sekitar 34 unit yang dikelola—baik dibangun dari nol maupun take over dari pengelola sebelumnya.

Unit-unit wisata seperti Laupark, Sakura Hill, Wonderpark, dan berbagai kafe bertema unik menjadi daya tarik baru di Tawangmangu. Setiap destinasi memiliki konsep berbeda agar saling melengkapi, seperti ikon Taman Salju di Laupark atau Japan of Java di Sakura Hill.

Tantangan SDM hingga Pandemi Covid-19

Awal pengembangan The Lawu Group tidak mudah. Banyak karyawan yang direkrut berasal dari keluarga sendiri dan masyarakat sekitar yang sebelumnya bekerja sebagai petani, pencari kayu, atau buruh. Mereka belum terbiasa dengan standar pelayanan wisata, sehingga perlu dilatih dari dasar.

Tantangan terbesar datang saat pandemi Covid-19. Semua unit—wisata, resto, kafe, penginapan—ditutup. Untuk bertahan, mereka mengalihkan resort menjadi tempat isolasi mandiri, membuka layanan take away, menjual paket buka-sahur Ramadan ke para dermawan, hingga menjual voucher menginap dengan diskon 50%.

Meski berat, strategi itu membuat dapur tetap ngebul dan usaha tetap bertahan.

Prinsip Bisnis: Saling Menguatkan

Abah Aziz memegang prinsip tidak menaruh telur dalam satu keranjang. Bisnisnya dibuat beragam agar saling menguatkan. Ada unit yang surplus, ada pula yang disubsidi. Baginya, keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari proses. “Itu tanda bahwa kita hanya manusia,” ujarnya.(*)

Editor : Bherliana Naysila Putri Suwandi
#tawangmangu #Sate Lawu #Abah Aziz #wisata lereng gunung lawu #The Lawu Group