BLITAR – Perjalanan hidup Abah Aziz, pendiri The Lawu Group, menjadi salah satu kisah inspiratif tentang kerja keras, keikhlasan, serta tekad untuk membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Dari kecil hidup dalam keterbatasan di desa pegunungan, pria bernama lengkap Pamin Abu Aziz itu tumbuh dengan perjuangan panjang sebelum akhirnya membangun The Lawu Group, jaringan bisnis wisata yang kini menjadi ikon di kawasan Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Masa Kecil Penuh Perjuangan
Abah Aziz lahir dari keluarga petani sederhana di lereng Gunung Lawu. Sejak kecil, ia terbiasa menggembala kambing, mencari kayu, hingga membantu orang tua di ladang. Bahkan untuk melanjutkan sekolah saja, ia sempat tidak diizinkan karena alasan ekonomi. Namun tekadnya kuat. Ia mengidolakan guru agama di SD dan ingin menjadi seperti sosok panutannya itu.
Karena tidak direstui ibu, ia nyaris tidak bisa masuk SMP. Saat akhirnya mendaftar, namanya bahkan tidak tercantum karena tidak menulis nomor ujian. Tetapi ia tidak menyerah. Berkat bantuan ayah dan dukungan seorang pelanggan, ia akhirnya bisa masuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) meski harus “ngenger” di rumah seorang kepala dusun.
Selama tinggal di rumah orang lain, ia bekerja keras setiap hari. Mulai mengambil air dari sendang, mencari rumput, membersihkan kandang sapi, ayam, hingga kandang babi. Praktik bersuci dari najis berat yang biasanya hanya teori, justru dijalani setiap hari. Setelah itu, ia berjalan kaki 3 kilometer sambil memanggul hasil panen sebelum berangkat sekolah.
Karier Moncer di Dunia Asuransi
Selepas lulus sekolah, Abah Aziz bekerja di industri keuangan. Kariernya melesat sejak pertama menjadi agen, supervisor, district manager, hingga akhirnya mencapai jabatan prestisius: direktur utama sebuah perusahaan asuransi besar.
Namun di puncak kesuksesan itu, ia justru merasa hampa. “Apa gunanya saya sampai puncak karir tapi tidak bisa membantu saudara-saudara saya?” ujarnya. Mayoritas keluarganya hanya lulusan SD atau SMP sehingga tidak memenuhi syarat bekerja di perusahaan tempat ia memimpin.
Kesadaran itu semakin kuat ketika ia menunaikan ibadah haji pada 2009. Di Tanah Suci, ia berdoa agar diberi petunjuk untuk merintis bisnis yang bisa membuka lapangan kerja bagi keluarga dan masyarakat.
Lahirnya The Lawu Group
Sepulang haji, Abah Aziz mulai mencari ilmu bisnis. Usaha pertama yang ia jalankan adalah beternak kambing perah. Ia mengirim adik-adiknya belajar ke berbagai peternak sukses hingga akhirnya membuka Etawa Farm Tawangmangu.
Dari usaha kambing itu, ia kemudian menggandeng sahabatnya, Habib Abdullah Hanis, untuk membuka bisnis kuliner. Tahun 2017, lahirlah Sate Lawu Tawangmangu, resto sate keluarga berkapasitas lebih dari 300 orang. Bukan warung sate biasa, melainkan restoran bersih, luas, dan nyaman, yang langsung menjadi ikon wisata kuliner.
Kesuksesan itu menjadi batu loncatan berdirinya The Lawu Group, manajemen kolaborasi bisnis wisata yang membawahi tiga sektor utama: rekreasi, resto, dan resort—dikenal sebagai konsep 3R+O (Rekreasi, Resto, Resort, dan Oleh-oleh).
Kini The Lawu Group mengelola lebih dari 34 unit bisnis, termasuk destinasi wisata keluarga, kafe, resort, glamping, hingga pusat oleh-oleh. Beberapa dikelola dari nol, sebagian lainnya merupakan take over dari destinasi yang sebelumnya meredup.
Konsep Kolaborasi dan Mitra yang Saling Menguatkan
Dalam menjalankan bisnis, Abah Aziz menekankan konsep sinergi. Ada unit yang dibangun sendiri, ada yang bekerja sama dengan Perhutani, Pemkab, perusahaan daerah, bahkan Kodam seperti Benteng Pendem. Skema kerja sama pun beragam: sewa murni, bagi hasil, hingga manajemen operator.
Tidak semua unit menghasilkan keuntungan. Dari sekitar 33—34 unit, masih ada tujuh yang disubsidi. “Saling menutupi dan menguatkan. Yang berhasil menopang yang belum berhasil,” katanya. Bagi Abah Aziz, kegagalan adalah pengingat bahwa manusia hanya berikhtiar, sementara Allah yang menentukan hasil.
Bertahan di Masa Pandemi
Pandemi COVID-19 menjadi tantangan terberat. Seluruh unit wisata, resto, dan resort terpaksa tutup. Abah Aziz berdiskusi dengan keluarga dan karyawan, lalu mencari cara agar dapur tetap mengepul.
Beberapa strategi dilakukan: menjual paket isolasi mandiri di resort, membuka layanan take away, menjual paket buka dan sahur untuk para dermawan, hingga memberikan diskon 50% untuk pemesanan glamping. Berkat itu, The Lawu Group tetap bertahan.
Dari Desa ke Manajemen Wisata Besar
Kini The Lawu Group menjadi salah satu kekuatan wisata terbesar di Tawangmangu. Dari Lau Park dengan ikon Taman Salju, Sakura Hill bertema Jepang, hingga Wonder Park untuk camping dan resort, semuanya memiliki konsep berbeda.
Bagi Abah Aziz, bisnis bukan sekadar untung, tetapi sarana membantu sesama. “Harta harus dibawa mati, yaitu dalam bentuk amal dan manfaat,” ungkapnya.
Editor : Findika Pratama