BLITAR – Kisah tentang usaha coffee shop tutup karena pandemi kembali muncul dari pengalaman pebisnis lokal Tulungagung, Sigit, tamu dalam program Pecah Telur bersama Mas Agung. Dalam obrolan tersebut, Sigit mengungkap perjalanan jatuh bangun usahanya, termasuk saat ia kehilangan bisnis kopi yang dirintis dengan modal besar, namun berujung pada lahirnya usaha baru yang lebih membumi: Nasi Uduk Bang Jenggot.
Hijrah dari Perbankan ke Dunia Usaha
Sigit memulai ceritanya dengan kilas balik perjalanan hidupnya. Ia dulunya bekerja sebagai pegawai bank di Surabaya. Namun, setelah memutuskan “hijrah”, ia memilih meninggalkan karier lamanya dan pindah ke Tulungagung bersama keluarga. Keputusan itu membawanya menjajal berbagai bidang usaha, hingga akhirnya membuka sebuah coffee shop bernama Koncoi Kopi.
“Waktu itu tiga bulan pertama omsetnya Masyaallah luar biasa,” ujar Sigit. Namun euforia itu tidak bertahan lama. Ketika pandemi Covid-19 melanda dan PPKM diberlakukan, usaha kopinya tak bisa bertahan. Inilah titik krisis yang membuat kisah usaha coffee shop tutup karena pandemi benar-benar dirasakan olehnya.
Modal Besar, Hasil Tak Sesuai Harapan
Untuk membangun Koncoi Kopi, Sigit mengeluarkan modal sekitar Rp250 juta. Sewa tempat saja mencapai Rp50 juta, sedangkan mesin kopi dan grinder berkisar Rp20 jutaan. Ia bahkan memanggil konsultan profesional—Indonesia Coffee Master 2019—sebagai bentuk keseriusan membangun bisnis.
“Kita sudah training barista, sudah paham manajemen, semua sudah dilakukan secara teori,” katanya. Namun takdir berkata lain. Pandemi membuat toko tutup lebih cepat dari rencana.
Selama tiga bulan pertama, omset Koncoi Kopi hanya sekitar Rp35 juta per bulan. Jelas tidak sebanding dengan investasi awal. Situasi makin berat ketika pembatasan jam operasional diberlakukan, membuat bisnis semakin tidak efektif untuk diteruskan.
Pelajaran Bisnis dan Sudut Pandang Spiritual
Di balik kegagalan itu, Sigit memandang kejadian tersebut bukan sekadar kerugian finansial. Ia mengaitkannya dengan sudut pandang spiritual. Menurutnya, seorang Muslim harus beriman pada takdir dan bersangka baik terhadap ketentuan Allah.
“Mungkin ini cara Allah mencuci harta saya. Mungkin ada yang kurang tepat dalam pengelolaan,” ujarnya.
Namun ia juga mengakui bahwa musibah pandemi bersifat nasional dan tak hanya menimpa dirinya. Meski demikian, pengalaman pahit itu justru menumbuhkan kreativitas baru. Ia mencari peluang usaha yang lebih relevan dengan kondisi masyarakat.
Lahirnya Nasi Uduk Bang Jenggot
Gagal di bisnis kopi bukan akhir perjalanan. Justru dari situ lahir ide membuka usaha kuliner yang lebih sederhana dan tahan krisis: Nasi Uduk Bang Jenggot.
Berawal dari diskusi dengan salah satu pelanggannya, Sigit menemukan fakta bahwa belum banyak sarapan nasi uduk yang buka pagi hari di Tulungagung. Ia kemudian melakukan riset menu dan mencoba berbagai resep hingga cocok dengan lidah lokal.
“Waktu itu usaha sarapan pagi masih jarang. Akhirnya kami coba test food dan alhamdulillah diterima,” jelasnya.
Usaha ini justru berkembang pesat. Cabangnya sempat mencapai enam gerai di Tulungagung dan belasan mitra di berbagai kota seperti Malang dan Batu. Model bisnis kemitraan yang ia terapkan pun cukup unik: mitra mendapatkan 100 persen keuntungan, sementara Sigit hanya membantu set up dan pelatihan.
Lebih Tenang, Lebih Bermanfaat
Dibanding saat mengelola coffee shop, Sigit mengaku bisnis nasi uduk memberi ketenangan lebih. Tekanan operasional berkurang, hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga, dan jumlah karyawan yang terlibat jauh lebih banyak.
“Kalau dibilang keren, owner coffee shop memang lebih prestisius. Tapi kalau dari sisi kenyamanan, halal, dan manfaat, saya jauh lebih tenang di Nasi Uduk Bang Jenggot,” katanya.
Hikmah dari Usaha yang Hilang
Kisah usaha coffee shop tutup karena pandemi yang dialami Sigit menjadi pengingat bahwa keberhasilan tak selalu diukur dari materi. Ada pelajaran besar dari setiap kehilangan, baik secara spiritual maupun bisnis.
“Kalau saya tidak mulai Koncoi Kopi dulu, mungkin tidak akan ada Nasi Uduk Bang Jenggot,” tutupnya.
Editor : Findika Pratama