Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Perjuangan Pasutri Bangun Bisnis Skincare High Queen: Pernah Rugi Rp6 Miliar, Kini Tembus 28 Ribu Resi Sehari!

Findika Pratama • Jumat, 12 Desember 2025 | 19:30 WIB
Perjuangan Pasutri Bangun Bisnis Skincare High Queen: Pernah Rugi Rp6 Miliar, Kini Tembus 28 Ribu Resi Sehari!
Perjuangan Pasutri Bangun Bisnis Skincare High Queen: Pernah Rugi Rp6 Miliar, Kini Tembus 28 Ribu Resi Sehari!

BLITAR – Perjalanan membangun bisnis skincare High Queen ternyata tidak semudah yang terlihat di media sosial. Pasangan suami istri Prayogo Waluyo dan istrinya, yang akrab disapa Kak Ciwin, membagikan kisah jatuh bangun mereka mengembangkan brand skincare tersebut hingga akhirnya bisa stabil di angka 5.000–10.000 pengiriman per hari.

Dalam tiga menit pertama, pasangan ini secara eksplisit menegaskan bahwa kehidupan seorang pebisnis tidak selalu seindah yang dibayangkan. Mereka menyebut istilah “sawang sinawang”—yang tampak manis dari luar belum tentu mudah dijalani. Bahkan sejak awal membangun bisnis skincare High Queen, waktu berkumpul keluarga pun harus dikorbankan.

Awal Mula Membangun Brand High Queen

High Queen lahir dari keresahan sederhana. Kak Ciwin yang berlatar belakang kebidanan melihat banyak ibu hamil dan ibu menyusui kebingungan memilih skincare yang aman, namun tetap membuat wajah glowing. Dari kebutuhan ini, lahirlah produk pertama High Queen.

Nama “High Queen” sendiri dipilih setelah usulan brand “Queen” sudah lebih dulu terdaftar di HAKI. Mereka pun memilih “Hai, Queen!” sebagai sapaan. Filosofinya jelas: setiap perempuan adalah ratu, dan harus diratukan.

Produksi High Queen dilakukan di Surabaya dan Bogor. Awalnya, penjualannya tidak besar—bahkan dalam sehari hanya 13 resi. Namun pasangan ini kemudian menyasar komunitas para seller lama sebagai strategi awal. Bukan endorse mahal, melainkan dorongan organik dari seller berpengalaman yang bersedia bergabung dan me-review produk.

Strategi tersebut sukses. Minggu pertama mereka langsung mencatat 3.000 pesanan. Bulan berikutnya meningkat menjadi 8.000 hingga 10.000 pesanan.

Tantangan Berat: Supply Chain Kacau hingga Rugi Rp6 Miliar

Meski kini identik sebagai salah satu UMKM skincare yang tumbuh pesat, lika-liku bisnis skincare High Queen tidak main-main.

Tahun 2021 mereka diuji bagaimana produk harus “pecah pasar” lagi dan lagi.

Tahun 2022 masalah datang dari sisi supply chain. Stok sunscreen kacau, manajemen amburadul.

Tahun 2023 menjadi masa tersulit. Tim tidak perform, keputusan tidak tepat, dan manajemen belum matang membuat mereka harus menelan kerugian hingga lebih dari Rp6 miliar.

Kondisi tersebut membuat keduanya sempat saling menyalahkan. Pasangan yang juga seorang couplepreneur ini mengakui bahwa tekanan bisnis sering kali bercampur dengan masalah rumah tangga. Tahun 2024 bahkan menjadi fase paling menguras emosi bagi keduanya.

Namun di penghujung 2024, mereka duduk bersama, berdamai, dan membagi peran secara lebih profesional. Istri fokus pada strategi marketing dan selling, sedangkan suami menangani operasional, HR, dan branding.

Transformasi Digital: Konten Pertama Tembus 3 Juta Viewers

Keputusan suami turun gunung dari profesi dosen menjadi full time konten kreator dan pebisnis menjadi titik balik. TikTok menjadi pendongkrak eksposur High Queen.

Video pertama tentang lip scrub tembus 3 juta viewers. Konten edukasi mengenai bahaya skincare bermerkuri bahkan meledak hingga jutaan tayangan.

Keberhasilan konten membuat personal branding pasangan ini tumbuh cepat. Follower mereka kini mencapai 200.000 lebih.

Dari 13 Resi per Hari ke 28.000 Resi per Minggu

Perubahan manajemen dan kekompakan pasangan ini membuahkan hasil. Pada akhir 2024, High Queen mencatat lonjakan hingga 3.000%.

Pengiriman yang awalnya hanya 13 resi per hari kini pernah mencapai 28.000 resi dalam seminggu berturut-turut. Saking tingginya permintaan, mereka bahkan sempat kehabisan stok. Saat ini, pengiriman stabil di angka 5.000–10.000 per hari.

Bertahan dengan Prinsip Keberkahan

Meskipun tumbuh pesat, pasangan ini menegaskan bahwa bisnis skincare High Queen bukan semata-mata soal mencari kekayaan. Mereka berpegang pada prinsip mencari keberkahan.

Mereka juga menolak melihat tim sebagai “karyawan”. Semua dianggap sebagai rekan seperjuangan yang punya peran penting bagi keluarganya masing-masing.

“Rezeki itu bukan perlombaan. Ojo kesusu,” ujar Prayogo. Keduanya sepakat bahwa selama tim mau belajar dan memperbaiki diri, mereka akan mendukung sepenuhnya.

Kini, High Queen menjadi contoh bagaimana bisnis rumahan, yang awalnya hanya dikelola sendiri sambil menjaga anak, bisa berkembang menjadi brand besar melalui konsistensi, personal branding, dan manajemen yang matang.

 

Editor : Findika Pratama
#High Queen #bisnis skincare #Prayogo Waluyo #UMKM beauty #Couplepreneur