BLITAR KAWENTAR – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang akhir pekan kembali menjadi sorotan pelaku pasar.
Pada perdagangan Kamis, 18 Desember, IHSG terkoreksi 0,68 persen, namun masih bertahan di area atas dan dinilai berada dalam fase konsolidasi sehat.
Kondisi ini membuat investor mulai berhitung untuk strategi transaksi Jumat, 19 Desember 2025.
Meski IHSG ditutup melemah, pergerakan saham-saham berfundamental kuat justru didominasi penguatan.
Saham perbankan menjadi penopang utama pasar, seiring derasnya aksi beli investor asing.
Situasi ini memberi sinyal bahwa minat terhadap sektor keuangan masih terjaga di tengah kewaspadaan pasar terhadap potensi koreksi jangka pendek.
Data transaksi menunjukkan saham Bank Mandiri (BMRI) menjadi emiten yang paling banyak diakumulasi asing.
Dalam satu hari, investor asing membukukan net buy sebesar Rp472,7 miliar.
Harga saham BMRI pun merespons positif dengan penguatan sekitar 2 hingga 3 persen, setelah sebelumnya beberapa hari bertahan di area support 4.990–5.000.
Selain Bank Mandiri, saham Bank Central Asia (BBCA) juga mencatatkan akumulasi asing sebesar Rp172,9 miliar.
Harga BBCA menguat signifikan dan sempat mencoba menembus level resistance, meski belum berhasil melakukan breakout.
Saham perbankan besar lainnya seperti BBRI juga terpantau aktif diperdagangkan, meskipun asing mencatatkan net sell terbatas.
Kondisi ini menunjukkan rotasi dana masih terjadi di dalam pasar.
Investor asing terlihat mulai mengurangi porsi di saham-saham tertentu, sementara tetap agresif mengoleksi saham perbankan utama yang dinilai memiliki valuasi menarik dan fundamental kuat menjelang tutup tahun.
Di sisi lain, IHSG yang berada di level tinggi membuat risiko koreksi tetap perlu diantisipasi.
Saham-saham yang sudah naik signifikan dinilai rawan terkoreksi lebih dalam jika indeks melemah.
Sebaliknya, saham berfundamental baik yang masih berada di area bawah dinilai relatif lebih aman karena valuasinya belum terlalu mahal.
Faktor global turut memengaruhi sentimen pasar. Data inflasi Amerika Serikat terbaru tercatat lebih rendah dari perkiraan, memicu pelemahan dolar AS.
Kondisi ini dinilai positif bagi pasar saham dalam jangka menengah, karena membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter.
Namun, dampaknya tidak selalu langsung terasa pada pergerakan harian IHSG.
Di pasar aset global, Bitcoin masih bergerak sideways di area support sekitar USD 85.000 per koin.
Pergerakan yang cenderung datar ini mencerminkan sikap wait and see investor kripto terhadap arah kebijakan global.
Sementara itu, harga emas dunia relatif stabil di tengah rilis data ekonomi Amerika, menunjukkan daya tahan emas sebagai aset lindung nilai.
Nilai tukar rupiah sendiri terpantau masih melemah terhadap dolar AS. Meski dolar global melemah, rupiah belum sepenuhnya mendapatkan momentum penguatan.
Pelaku pasar berharap rupiah tetap bertahan di bawah level psikologis Rp17.000 per dolar AS demi menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Menjelang perdagangan Jumat, investor diimbau tidak terlalu agresif.
Akhir pekan kerap diwarnai volume transaksi yang lebih sepi, sehingga pergerakan harga bisa lebih mudah berbalik arah.
Bagi investor jangka pendek, strategi mengamankan keuntungan melalui trailing stop atau sebagian taking profit dinilai bijak.
Untuk saham perbankan seperti BMRI, BBCA, dan BBRI, potensi masih terbuka selama mampu bertahan di atas area support teknikalnya.
Namun, disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci, terutama di tengah posisi IHSG yang sudah berada di level tinggi.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia masih menunjukkan fondasi yang solid, ditopang akumulasi asing di saham-saham unggulan.
Arah IHSG dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh konsistensi aliran dana asing, stabilitas global, serta kehati-hatian investor menjelang penutupan pekan.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.