Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menatap Dunia UMKM di Tahun 2026, AUM Kota Blitar: Mari Maksimalkan Pasar Baru dan Online

M. Subchan Abdullah • Rabu, 31 Desember 2025 | 17:30 WIB
Ketua Asosiasi Usaha Makanan dan Minuman (AUM) Kota Blitar, Asna Rosida
Ketua Asosiasi Usaha Makanan dan Minuman (AUM) Kota Blitar, Asna Rosida

BLITAR KAWENTAR - Tahun 2026 bakal menjadi tahun penuh tantangan dan kejutan bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di Bumi Bung Karno.

Pasalnya, situasi ekonomi belakangan terakhir ini tidak begitu bergairah.

Daya beli yang menurun serta kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pokok menjadi faktor pemicunya.

Kondisi ini menjadi beban tersendiri, khususnya bagi pelaku industri kecil dan menengah. Mereka pun harus mengatur strategi agar roda usahanya tetap berputar, paling tidak bisa bertahan.

Penerapan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah di tahun ini turut membawa dampak meskipun tidak terlalu signifikan.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah (pemda) berupaya agar roda perekonomian masyarakat tetap berputar. Di antara upayanya adalah menggelar sejumlah event serta pameran UMKM dan pemberian stimulus bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat miskin.

Ketua Asosiasi Usaha Makanan dan Minuman (AUM) Kota Blitar, Asna Rosida menyebut, 2025 merupakan tahun penuh tantangan. Kondisinya hampir menyerupai pandemi Covid-19 lalu.

"Bisa dibilang mirip Korona lalu. Di mana sejumlah harga bahan pokok naik dan daya beli masyarakat menurun. Ketika kondisi pasar sudah seperti dulu lagi. Sepi,” ujarnya.

Kondisi seperti ini dikeluhkan oleh hampir seluruh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Baik itu yang bergerak di sektor usaha makanan, minuman, dan kerajinan.

”Pusat oleh-oleh juga turut terimbas. Mereka juga mengeluh karena kunjungan wisata juga berkurang. Meski di data kunjungan disebut naik, tetapi wisatawan ini belum tentu membeli oleh-oleh,” ungkap warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sananwetan, ini.

Karena itu, butuh strategi serius untuk mendongrak daya beli masyarakat.

Baca Juga: PKDI Kabupaten Blitar Menerawang 2026 Di Tengah Pemangkasan Anggaran Dana Desa hingga Stigma Korupsi

Dengan tren pemasaran yang kini bergeser secara online atau dalam jaringan (daring), pasar-pasar baru bermunculan.

Pelaku UMKM atau industri kecil dan menengah harus bisa memanfaatkan peluang tersebut agar bisa bersaing dan tidak tergerus perubahan zaman. 

Nah di 2026 nanti, Asna mengaku masih sulit untuk memprediksi kondisi perekonomian. Meskipun ada optimisme, kekhawatiran tetaplah ada.

”Saya tidak tahu nanti di 2026 seperti apa. Apakah perekonomian kembali stabil dan daya beli masyarakat naik atau masih sama. Bahkan, malah lebih buruk. Semoga saja tidak,” tutur produsen enting-enting dan geti ini.

Maka itu, pelaku IKM mulai saat ini harus mampu untuk membaca peluang pasar. Ubah pola pikir pemasaran lama dengan cara baru yakni lewat pemasaran online.

”Mari teman-teman untuk berubah dan memanfaatkan peluang pasar baru di era serbadigital ini. Kita harus mengikuti perkembangan zaman dan tren penjualan secara online di media sosial (medsos) maupun platform lainnya,” sarannya. 

Kendati pemerintah daerah sudah berupaya menggelar pelatihan pemasaran online bagi pelaku UMKM maupun IKM, menurut Asna, itu belum optimal. Belum tampak dampak yang signifikan dari pelatihan tersebut.

”Seharusnya setelah pelatihan itu ada pendampingan serius, jangan setelah itu ditinggal. Pemerintah juga harus selektif dan mengawal mereka yang potensial mengembangkan usaha atau bisnisnya,” tegasnya.

Pemerintah daerah, lanjut dia, harus benar-benar hadir mendampingi pelaku usaha yang ingin berkembang dan maju. Selain itu juga bisa memahami situasi dan kondisi pelaku UMKM.

"Dengarkan aspirasi dan kebutuhan mereka. Syukur-syukur bisa diwujudkan,” pungkasnya. (sub/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pasar baru #dunia usaha #medsos #UMKM #ikm #pelaku industri #aum #tahun 2026 #Kota Blitar #Asosiasi Makanan dan Minuman