Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Harga Cabai Rawit Meroket Jelang Ramadan, Disperindag Kota Blitar Endus Ada Pengaruh Dapur MBG

M. Subchan Abdullah • Selasa, 10 Februari 2026 | 10:45 WIB
Harga Cabai Rawit Meroket, Disperindag Endus Pengaruh Dapur MBG
Harga Cabai Rawit Meroket, Disperindag Endus Pengaruh Dapur MBG

BLITAR KAWENTAR  – Mendekati Ramadan, pergerakan harga sejumlah komoditas bumbu dapur di Bumi Bung Karno mulai meninggi. Salah satunya adalah cabai rawit.


Berdasarkan pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kota Blitar di sejumlah pasar tradisional, harga cabai rawit mengalami lonjakan signifikan hingga menyentuh angka Rp 74 ribu per kilogram pada Senin (9/2) kemarin.


Kenaikan ini tergolong drastis, mengingat hanya dalam hitungan hari sebelumnya harga cabai masih bertengger di kisaran Rp 72 ribu per kilogram.

Meski harga kebutuhan pokok lain seperti beras, telur, minyak goreng, dan gula terpantau masih stabil dan aman terkendali, melambungnya harga cabai ini mulai menjadi atensi serius pemerintah daerah.


Kepala Disperindag Kota Blitar, Parminto mengungkapkan, kenaikan harga ini dipicu oleh akumulasi faktor cuaca dan tingginya permintaan pasar.

Cuaca buruk yang melanda beberapa wilayah sentra produksi mengakibatkan hasil panen petani tidak maksimal.

Selain kuantitas yang menurun, kualitas cabai yang dihasilkan cenderung kurang bagus dan cepat membusuk.


“Kondisi ini diperparah dengan stok yang menipis di tingkat pemasok, sementara permintaan justru sedang naik-naiknya.

Berdasarkan pengamatan kami, salah satu faktor pemicu tingginya permintaan datang dari kebutuhan operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini mulai masif.

Hal ini diperkirakan ikut memengaruhi ketersediaan pasokan untuk masyarakat umum,” jelas Parminto, kemarin (9/2).


Parminto menambahkan, fenomena kenaikan harga cabai ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Jawa Timur.

Mengingat Kota Blitar selama ini sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, rantai pasok menjadi sangat sensitif terhadap gangguan produksi di tingkat petani.


Disperindag telah menyiapkan sederet langkah antisipatif untuk menekan laju inflasi.

Pihaknya bersama jajaran terkait akan lebih intensif melakukan pemantauan stok dan harga, mulai dari pasar hingga langsung ke sentra produksi.


Selain itu, menggelar Pasar Murah yang bakal digelar menjelang Lebaran jika tren kenaikan harga terus berlanjut.

“Kami juga mendorong penguatan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).

Kami gerakkan kembali menanam cabai di lingkungan masing-masing sebagai solusi mandiri,” tambahnya.


Langkah strategis lainnya adalah kerja sama antardaerah untuk menguatkan simbiosis mutualisme.

Tujuannya bisa saling menopang kebutuhan pangan antardaerah. “Misalnya, kita ambil pasokan cabai dari Kediri, dan kita suplai kebutuhan daging ayam atau telur dari Blitar ke sana.

Dengan distribusi yang lancar, targetnya harga bisa kembali stabil dan terkendali,” pungkasnya. (sub/c1)

Editor : Satria Wira Yudha Pratama
#Harga Cabai Blitar #ketahanan pangan #harga kebutuhan pokok #disperdagin kota blitar #Pasar Tradisional Blitar