BLITAR - Keputusan memilih mobil untuk perjalanan jarak jauh (road trip) selalu menjadi dilema, terutama ketika harus menyeimbangkan antara kenyamanan penumpang, kapasitas bagasi, dan tentu saja, efisiensi bahan bakar. Baru-baru ini, sebuah pengujian independen dilakukan untuk menjawab rasa penasaran publik: apakah Suzuki Ertiga Hybrid benar-benar efisien, atau justru boros seperti rumor yang banyak beredar?
Pengujian ekstrem ini mengambil rute Jakarta - Bali - Malang - Jakarta, dengan total jarak tempuh mencapai lebih dari 3.000 kilometer. Kondisi perjalanan sangat beragam, mulai dari jalan tol lurus, kemacetan parah saat musim libur panjang, tanjakan ekstrem di jalur Situbondo-Baluran, hingga harus terjebak berjam-jam di pelabuhan penyeberangan dengan kondisi mesin dan AC terus menyala.
Berdasarkan catatan pengeluaran harian dan perhitungan bensin (full to full), Suzuki Ertiga Hybrid membuktikan tajinya. Pada rute awal Jakarta hingga Rest Area KM 575 (sekitar 641 km), mobil ini mencatat konsumsi BBM sebesar 16,05 km/liter. Angka ini bahkan semakin membaik saat rute tol lurus, menyentuh 17,21 km/liter. Rahasianya terletak pada fitur Cruise Control yang sangat membantu menjaga kecepatan konstan sehingga konsumsi bahan bakar menjadi lebih optimal.
Namun, ujian sesungguhnya terjadi saat mobil terjebak macet hingga 6 jam di pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang. Dengan mesin dan AC yang terus menyala demi kenyamanan anak-anak dan ibu hamil di dalam kabin, Ertiga Hybrid tetap menunjukkan tingkat efisiensi yang luar biasa. Setelah menyelesaikan total perjalanan sejauh 3.027,7 kilometer, mobil ini hanya menghabiskan 183,4 liter bensin (campuran Pertamax, Pertalite, dan BP92 sesuai ketersediaan di daerah).
Jika dirata-rata, konsumsi BBM Suzuki Ertiga Hybrid sepanjang road trip tersebut mencapai 16,5 km/liter. Angka ini secara signifikan mengalahkan rekor perjalanan rute serupa menggunakan Mitsubishi Xpander sebelumnya, yang hanya mencatatkan rata-rata 14 km/liter. Total biaya bahan bakar Ertiga Hybrid juga jauh lebih hemat, yakni sekitar Rp 2.099.000, dibandingkan Xpander yang menghabiskan dana lebih banyak meski menggunakan lebih banyak bahan bakar bersubsidi.
Selain urusan bensin, kenyamanan berkendara juga patut diapresiasi. Suspensi yang empuk, jok yang menopang tubuh dengan baik (supportive), serta kekedapan kabin yang luar biasa membuat pengemudi bahkan tidak menyadari saat melaju di kecepatan 100 km/jam. Meski fitur keselamatannya belum selengkap kompetitor seperti Hyundai Stargazer, tenaga Ertiga Hybrid dirasa jauh lebih mumpuni dan tidak ngos-ngosan saat harus menyalip kendaraan besar di jalur antar-kota dibandingkan Xpander.
Ditambah dengan kapasitas bagasi yang paling luas di kelasnya, serta diskon besar-besaran (hingga puluhan juta rupiah) yang membuat harga tipe tertingginya setara dengan mobil LCGC, Suzuki Ertiga Hybrid layak dinobatkan sebagai Low MPV all-rounder terbaik untuk perjalanan jarak jauh keluarga Indonesia.
Editor : Saifullah Muhammad Jafar