BLITAR KAWENTAR - Di tengah gempuran aneka ragam kuliner modern dan kekinian di Blitar, sebuah warung sederhana di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, justru semakin menunjukkan taringnya sebagai destinasi kuliner legendaris yang tak lekang oleh waktu.
Adalah Warung Soto Babat Pak Jito yang mampu bertahan selama hampir empat dekade, menjadi bukti nyata betapa kuatnya ikatan rasa yang ditawarkan.
Warung ini bukanlah restoran mewah dengan pendingin ruangan, melainkan berawal dari sebuah bangunan sangat sederhana yang dindingnya masih terbuat dari anyaman bambu atau gedek.
Di masa awalnya, almarhum Pak Jito, sang pendiri, bersama istrinya, Suryani, yang kini berusia 65 tahun, tidak hanya berjualan soto babat.
Mereka merintis usaha dengan menjajakan es campur tempo dulu, sebuah minuman segar dengan es serut manual yang menjadi primadona di masa lalu.
"Orang tua merintis dari 1984. Dulu sebelum sebesar ini, hanya warung kecil sambil jualan es campur," kenang Windari, putri Suryani yang kini membantu mengelola warung, kepada Koran ini kemarin (1/4).
Seiring berjalannya waktu, menu es campur perlahan tergeser oleh popularitas es kekinian.
Namun, es campur legendaris Pak Jito tidak benar-benar hilang dan tetap menjadi kenangan manis bagi pelanggan lama yang serin gkali menanyakannya.
Meskipun, kini sudah tidak diproduksi karena keterbatasan tenaga dan proses pembuatan yang memakan waktu lama.
Pelanggan kini datang untuk menikmati kelezatan soto babat dan soto daging yang menjadi ikon warung ini.
Saat ditanya mengenai rahasia di balik cita rasa yang selalu konsisten dan mampu menarik kerumunan pelanggan setiap harinya, Windari menekankan pentingnya menjaga resep rahasia asli yang diwariskan oleh orang tuanya.
Bumbu-bumbu yang digunakan tetap sama, sederhana, tanpa tambahan bahan kimia yang aneh-aneh.
"Nggak ada resep rahasia, pokoknya masakannya resep panggah (tetap) sederhana dari dulu, bumbu-bumbu lama itu," ungkapnya, lantas tersenyum.
Selain resep, ketelatenan dan kesabaran dalam menghadapi pasang surut usaha juga menjadi kunci keberhasilan warung ini bertahan hingga kini.
Satu hal yang unik dari Soto Babat khas Pak Jito adalah ikatan emosional yang terjalin dengan para pelanggannya.
Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Murah Perawatan Mudah 2026, Budget Rp50 Jutaan Bisa Dapat Mesin Badak!
Warung ini tidak hanya menawarkan kepuasan lidah, tetapi juga menjadi tempat bagi banyak orang untuk bernostalgia.
Banyak pelanggan setianya yang mengaku sudah diajak makan di warung ini sejak masih anak-anak oleh orang tua atau nenek mereka.
"Kata pelanggan, biasanya dulu waktu kecil diajak orang tuanya, terus merantau, terus ke sini lagi. Kangen masa kecil," cerita Windari.
Pengalaman masa kecil inilah yang membuat mereka selalu rindu dan kembali lagi, bahkan setelah bertahun-tahun merantau ke luar kota.
Proses operasional di warung ini masih sangat terjaga keasliannya dan kental dengan nuansa kekeluargaan.
Seluruh proses memasak dan penyajian ditangani langsung oleh Suryani, dibantu oleh Windari, dan anggota keluarga lainnya.
Mereka tidak menggunakan karyawan dari luar karena ingin memastikan kualitas dan kebersihan makanan benar-benar terjaga.
"Marem lek dipegang dewe (puas kalau dipegang sendiri)," tegas Windari. Sistem pengelolaan kekeluargaan ini juga membuat suasana di warung terasa hangat dan akrab, membuat pelanggan merasa seperti makan di rumah sendiri.
Baca Juga: 10 Mobil Bekas Murah Rp30 Jutaan Terbaik 2026, Nomor 5 Legendaris dan Cocok untuk Keluarga!
Meskipun harus menghadapi masa-masa sepi, terutama di hari-hari biasa atau saat musim hujan, keluarga besar Pak Jito tidak pernah menyerah.
Mereka tetap konsisten membuka warung setiap harinya mulai sekitar pukul 10.00 WIB sampai habis.
Tak jarang, di hari-hari ramai seperti akhir pekan atau musim liburan, warung ini sudah harus tutup pada jam 4 sore karena semua hidangan telah ludes dipesan oleh para pelanggan setianya.
"Minimal 20 kilogram babat per hari, kadang kalau ramai bisa sampai 25 kilogram," sebut Windari, menggambarkan volume penjualan hariannya.
Kini, di bawah asuhan Suryani dan dibantu oleh putrinya sebagai generasi penerus, Warung Soto Babat Pak Jito terus melangkah maju.
Dulu yang awal buka satu porsi soto babat dihargai Rp 125, kini seiring perkembangan waktu sudah dibanderol Rp 9 ribu per porsi.
Meskipun menu es campur yang legendaris sudah tidak lagi menjadi menu utama, cita rasa soto babatnya yang khas dan suasana hangat kekeluargaannya tetap menjadi magnet kuat yang menarik siapa saja untuk kembali dan kembali lagi.
Membuktikan bahwa kuliner legendaris dengan resep asli memang tak akan pernah kehilangan pesonanya.(*/c1/sub)
Editor : Oksania Difa Ilmada