BLITAR KAWENTAR - Kabar baik bagi peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar. Setelah beberapa waktu mengeluhkan anjloknya harga telur di tingkat peternak, kini terbuka pasar baru melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan, pemerintah juga tetapkan harga terbaru untuk komoditas tersebut.
Dalam Rapat Supply Chain Telur yang difasilitasi Pemkab Blitar di Ruang Candi Penataran Kantor Bupati Blitar, Kamis (4/6), mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama asosiasi dan koperasi peternak telur rakyat menyepakati kerja sama penyerapan telur dengan harga Rp 24 ribu per kilogram.
Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah mengatakan, kesepakatan tersebut merupakan langkah konkret untuk membantu peternak telur rakyat sekaligus memperkuat rantai pasok program MBG di Kabupaten Blitar.
Baca Juga: IPAL Bermasalah, 23 SPPG di Kabupaten Blitar Dihentikan Sementara Operasionalnya
"Kami berharap kebutuhan telur untuk SPPG semakin banyak dipenuhi oleh peternak Kabupaten Blitar melalui koperasi maupun kelembagaan peternak yang sudah ada," ujar Beky.
Dalam kesepakatan tersebut, mitra SPPG bersedia menggunakan telur sebagai salah satu menu MBG minimal dua kali dalam sepekan.
Sebaliknya, asosiasi dan koperasi peternak telur rakyat siap menyediakan pasokan sesuai kebutuhan dan mengantarkannya langsung ke dapur SPPG dengan standar kualitas yang telah disepakati.
Baca Juga: Berkembang Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group, Ekonomi Keluarga di Semarang Ini Makin Kuat
Selain itu, kedua belah pihak sepakat melakukan transaksi jual beli telur dengan harga Rp 24 ribu per kilogram. Harga tersebut nantinya akan disesuaikan secara bertahap hingga mendekati harga acuan pemerintah (HAP).
"Kesepakatan bersama ini dapat diperbaiki sewaktu-waktu sesuai perkembangan di lapangan. Ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan kebutuhan program pemerintah dengan potensi produksi telur yang dimiliki Kabupaten Blitar,” ungkap pria yang khas dengan jambul birunya ini.
Untuk diketahui, Bumi Penataran sebagai salah satu sentra peternakan ayam petelur terbesar di Indonesia yang memiliki kapasitas produksi besar sehingga membutuhkan pasar yang jelas dan berkelanjutan.
Baca Juga: Dinilai Langgar Etik, Kampus UNU Blitar Resmi Pecat Oknum Dosen Cabul Ini
Sebagai tindak lanjut kesepakatan tersebut, Dinas Peternakan (Disnakkan) Kabupaten Blitar akan memetakan 117 SPPG aktif dengan 17 koperasi dan asosiasi peternak telur yang ada. Faktor jarak dan lokasi menjadi pertimbangan utama agar distribusi berjalan lebih efektif dan efisien.
Sementara itu, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemkab Blitar.
Baca Juga: Rukun Haji Tuntas, Jemaah Haji Blitar Siap Geser Madinah di Tanggal Ini
Menurut dia, kesepakatan tersebut menjadi solusi awal untuk memperluas akses pasar bagi peternak telur rakyat yang selama ini terdampak penurunan harga.
Maino menilai skema penyerapan telur melalui SPPG dapat memberikan kepastian pasar sekaligus memperbaiki iklim usaha peternak. Bahkan, model kerja sama yang diterapkan di Kabupaten Blitar berpotensi menjadi percontohan bagi daerah lain.
"Saat ini harga telur di tingkat peternak Blitar sekitar Rp 21 ribu per kilogram. Tadi kita sepakat untuk sementara dibeli Rp 24 ribu per kilogram dan peternak mengantar langsung ke SPPG. Harapannya ini akan menaikkan harga di pasar," jelasnya.
Baca Juga: Kota Blitar “Darurat” Orang Gendut, Belasan Ribu Warga Alami Obesitas
Menurut Maino, produksi telur di Kabupaten Blitar mencapai sekitar 450 ton per hari atau berkontribusi hingga 30 persen terhadap kebutuhan telur nasional.
Karena itu, keberhasilan program penyerapan telur melalui SPPG diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur MBG di Kabupaten Blitar, tetapi juga dapat menyuplai kebutuhan SPPG di daerah lain.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah