BLITAR KAWENTAR – Kisah sukses pengusaha muda asal Kabupaten Blitar ini menjadi bukti bahwa keterbatasan modal bukan penghalang untuk membangun usaha besar.
Berbekal modal awal hanya Rp 3 juta dan pengalaman bekerja di bengkel las, pengusaha mesin chopper Blitar bernama Jawarul Mutakin kini berhasil mengembangkan usaha produksi mesin pertanian yang memasok puluhan unit ke berbagai daerah di Indonesia setiap pekan.
Pria berusia 24 tahun asal Desa Dadaplangu, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar tersebut merupakan pendiri Pusat Mesin Blitar, sebuah usaha yang memproduksi berbagai mesin pertanian dan peternakan seperti mesin chopper rumput, mesin pencacah, mixer pakan hingga mesin pelet.
Baca Juga: Gaji PNS 2026 Dipastikan Belum Berubah, Ini Daftar Lengkap Besaran Gaji ASN Berdasarkan Golongan
Setiap pekan, usaha miliknya mampu mengirim rata-rata 70 unit mesin dengan harga mulai Rp 1,8 juta hingga Rp 5 juta per unit.
Berkat pemasaran digital, produk mesin chopper Blitar kini telah menjangkau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali hingga Papua.
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Jawarul mengaku hanya bekerja selama sekitar satu setengah tahun di sebuah bengkel las.
Baca Juga: DBHCHT Kota Blitar Dipangkas Hampir 50 Persen, Sektor Kesehatan Tetap Jadi Prioritas Utama
Di tempat itulah dirinya belajar mengelas, menggunakan gerinda, hingga memahami proses pembuatan berbagai peralatan berbahan logam.
Inspirasi membuat mesin pencacah rumput muncul karena melihat para petani yang masih mencacah rumput secara manual menggunakan arit.
Menurutnya, pekerjaan tersebut memakan waktu dan tenaga sehingga ia mencoba membuat alat yang lebih praktis.
Berbekal hasil eksperimen sendiri, lahirlah mesin chopper pertama buatannya. Produk tersebut kemudian mulai dikenal masyarakat hingga memperoleh pesanan dari pemerintah sebanyak 40 unit. Pesanan itu menjadi titik balik berkembangnya usahanya.
Namun perjalanan bisnisnya tidak selalu berjalan mulus.
Di awal merintis usaha, Jawarul mengaku masih minim pengalaman dalam menghitung biaya produksi dan melakukan negosiasi harga.
Akibatnya, ia pernah menjual mesin dengan harga lebih murah dibanding biaya pembuatannya sehingga mengalami kerugian.
"Bahkan pernah modal bahan sekitar Rp2 juta tetapi saya jual hanya sekitar Rp1 juta karena belum paham menghitung harga," kenangnya.
Masa paling berat terjadi ketika pesanan sepi. Saat itu ia mengaku hidup benar-benar mandiri tanpa bergantung kepada siapa pun.
Bahkan selama sekitar satu hingga dua bulan, dirinya mengaku sering kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari karena tidak ada pemasukan dari pesanan mesin.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.
Motivasi terbesar Jawarul adalah memperbaiki kehidupan keluarga yang sehari-hari bekerja sebagai petani.
Karena berasal dari lingkungan pertanian, ia memahami kebutuhan petani dan peternak terhadap peralatan yang mampu meningkatkan produktivitas.
Momentum perkembangan usaha justru datang saat pandemi Covid-19. Ketika banyak masyarakat mulai beralih menjadi peternak, kebutuhan mesin pencacah rumput meningkat cukup tajam.
Di sisi lain, Jawarul juga mulai memanfaatkan media digital untuk memasarkan produknya.
Ia aktif membuat konten di YouTube dan berbagai platform online sehingga produk-produknya semakin dikenal masyarakat luas.
Menurutnya, pemasaran digital menjadi solusi paling efektif karena lokasi usahanya berada di desa yang jauh dari keramaian sehingga sulit mengandalkan penjualan secara langsung.
Kini sebagian besar penjualannya berasal dari transaksi online.
Baca Juga: Jadwal Pencairan PKH dan BPNT Tahap 3 2026 Diprediksi Akhir Juli, Ini Rincian Bantuannya
Dari sekitar 70 mesin yang dikirim setiap pekan, sekitar 50 unit merupakan hasil pemesanan melalui internet.
Pesatnya perkembangan usaha membuat Jawarul kini mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Saat ini jumlah pekerja yang terlibat di Pusat Mesin Blitar mencapai hampir 50 orang, termasuk bagian produksi, administrasi hingga tim pembuatan konten.
Baca Juga: Rumor Mariano Peralta ke Persib Bandung Makin Panas, Ciro Alves Munculkan Sinyal Comeback?
Sebagian besar karyawan berasal dari desa sekitar, termasuk teman-teman dan anggota keluarganya sendiri.
Selain mampu membeli tanah, kendaraan operasional hingga menyewa gudang, Jawarul mengaku memiliki keinginan untuk memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk rasa syukur.
Jawarul menilai kejujuran merupakan modal utama dalam membangun usaha.
Menurutnya, tanpa kepercayaan pelanggan, sebuah bisnis akan sulit berkembang meski memiliki kemampuan teknis yang baik.
Selain itu, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak mudah berpindah-pindah bidang usaha.
Menurutnya, konsistensi, kerja keras, pengalaman serta doa orang tua menjadi fondasi penting menuju kesuksesan.
"Bagi anak muda, cari pengalaman dulu. Setelah ilmunya cukup, baru mulai membuka usaha karena usaha juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar," ujarnya.
Kini, dari usaha yang dahulu dirintis seorang diri sambil mengangkut besi menggunakan gerobak hingga sempat terperosok ke parit, Jawarul berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang besar.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari