BLITAR KAWENTAR – Di balik indahnya warna ikan koi yang menghiasi kolam para penghobi, tersimpan perjuangan panjang seorang peternak ikan koi Blitar bernama Karis.
Berawal dari pekerja serabutan dengan kondisi ekonomi pas-pasan, pria asal Desa Bendosari, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar itu kini berhasil mengembangkan usaha budidaya ikan koi yang memasok pasar ke berbagai daerah di Indonesia.
Melalui Raja Brantas Koi Farm, Karis telah menekuni usaha budidaya ikan koi Blitar sejak 2008.
Selama hampir dua dekade, ia menghadapi berbagai tantangan mulai dari keterbatasan modal hingga jatuh bangun mempertahankan usaha.
Namun berkat kegigihan dan dukungan orang-orang di sekitarnya, usahanya terus berkembang hingga sekarang.
"Kalau menurut saya yang penting menerima apa adanya, jangan banyak mengeluh, selalu bersyukur, dan jangan meninggalkan ibadah," ujar Karis saat menceritakan perjalanan usahanya.
Karis mengaku awalnya tidak memiliki latar belakang sebagai peternak ikan. Ketertarikannya terhadap ikan koi muncul karena melihat sang kakak lebih dulu memelihara ikan hias tersebut.
Rasa penasaran membuatnya ikut mencoba membudidayakan koi. Ternyata hasilnya cukup menjanjikan sehingga ia memutuskan untuk serius menekuni usaha tersebut.
Sebelum menjadi peternak, Karis bekerja serabutan. Ia pernah menjadi buruh bangunan hingga bekerja di sawah demi memenuhi kebutuhan hidup.
Menurutnya, pekerjaan apa pun akan dijalani selama halal dan mampu menghidupi keluarga.
Perjalanan membangun usaha tidak selalu berjalan mulus. Karis mengaku pernah mengalami masa sulit ketika modal usahanya habis.
Bahkan, saat kondisi tersebut terjadi, ia sempat berniat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri demi memperbaiki kondisi ekonomi.
Baca Juga: Gaji PNS 2026 Dipastikan Belum Berubah, Ini Daftar Lengkap Besaran Gaji ASN Berdasarkan Golongan
Namun niat tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat bantuan modal dari seorang teman yang mempercayainya.
Dukungan itu menjadi titik balik yang membuatnya bangkit dan kembali fokus mengembangkan usaha budidaya ikan koi.
"Tempat ini berdiri sejak tahun 2008. Banyak sekali suka dukanya, tapi tetap dijalani," ungkapnya.
Dalam memasarkan produknya, Karis mengombinasikan penjualan secara langsung maupun online.
Pembeli yang datang ke lokasi bisa memilih ikan sendiri, sementara pelanggan dari luar daerah dilayani melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan TikTok.
Berkat pemasaran digital tersebut, ikan koi hasil budidayanya kini dikirim hampir setiap hari ke berbagai kota di Indonesia.
Jakarta menjadi salah satu daerah tujuan pengiriman terbesar.
Selain pasar domestik, Karis juga pernah mengirim ikan koi ke luar negeri. Namun frekuensinya tidak terlalu sering karena stok ikan yang memenuhi standar ekspor masih terbatas.
Berbeda dengan sebagian peternak yang menggunakan kolam beton, Karis justru lebih mengandalkan kolam tanah atau kolam lumpur untuk proses pembesaran ikan.
Menurutnya, pertumbuhan ikan koi di kolam lumpur jauh lebih optimal dibandingkan kolam beton.
Sementara itu, proses seleksi dan penyortiran tetap dilakukan di kolam pembesaran sebelum ikan dibawa ke rumah untuk menjalani proses perawatan akhir atau "salon" agar tampil lebih maksimal sebelum dipasarkan.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap kualitas air.
Baginya, sirkulasi air yang baik menjadi kunci utama menghasilkan koi berkualitas.
Selain menjaga kualitas air, Karis menggunakan berbagai jenis pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan ikan, mulai dari pakan untuk mempertajam warna merah, mempertegas warna hitam dan putih, hingga meningkatkan pertumbuhan tubuh.
Proses budidaya ikan koi dari benih hingga siap dipasarkan membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan.
Selama masa pemeliharaan, ikan akan melalui tiga tahap penyortiran.
Sortir pertama dilakukan saat ikan berusia satu bulan dengan ukuran sekitar lima sentimeter.
Sortir kedua dilakukan pada usia empat bulan ketika ukuran ikan mencapai 15 hingga 20 sentimeter.
Sedangkan sortir ketiga dilakukan saat usia tujuh bulan dengan panjang sekitar 30 hingga 35 sentimeter.
Saat panen, ukuran ikan umumnya telah mencapai 40 hingga 50 sentimeter.
Jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan adalah Gosanke, yaitu Kohaku, Showa, dan Sanke, yang hingga kini masih menjadi favorit para penghobi ikan koi.
Karis menegaskan seluruh ikan yang dijual berasal dari hasil budidayanya sendiri, mulai dari indukan, pemijahan, pembesaran hingga proses penjualan.
Menurutnya, pelaku usaha harus memahami seluruh proses bisnis agar mampu bertahan di tengah persaingan.
Ke depan, ia berencana memperluas usahanya dengan menambah berbagai jenis ikan hias selain koi.
Bagi Karis, keberhasilan dalam usaha tidak hanya ditentukan oleh modal, tetapi juga kesabaran, kerja keras, rasa syukur, dan pantang menyerah.
"Kalau berusaha jangan pernah menyerah. Kalau ada kesulitan terus dijalani saja. Lama-lama pasti ada hasilnya," pesannya.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari