BLITAR KAWENTAR – Kisah inspiratif datang dari eks TKI Korea asal Blitar, Puguh Ahmad Miftahudin. Setelah bekerja selama tiga tahun dua bulan di Korea Selatan dan berhasil mengumpulkan tabungan sekitar Rp1 miliar, pria asal Desa Salamrejo, Kecamatan Binangun, Kabupaten Blitar itu memilih pulang kampung untuk membangun usaha sendiri.
Alih-alih menghabiskan hasil jerih payahnya, mantan TKI Korea tersebut mengalokasikan uang tabungannya untuk membeli rumah, tanah, serta membangun bisnis kuliner dengan merek "Jajanku".
Kini usahanya berkembang dengan beberapa booth yang tersebar di wilayah Blitar Selatan.
"Kurang lebih dapat sekitar Rp1 miliar, termasuk uang pesangon. Saya gunakan untuk rumah, modal usaha, dan membeli beberapa bidang tanah," ungkap Puguh.
Puguh menceritakan, keinginannya bekerja di Korea Selatan muncul karena ingin memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Ia menempuh jalur resmi melalui program pemerintah. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengikuti kursus bahasa Korea di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
Biaya kursus saat itu sekitar Rp3,5 juta yang dibayarnya secara mandiri. Setelah itu, ia mengurus berbagai persyaratan seperti paspor, pemeriksaan kesehatan, hingga mengikuti ujian kemampuan bahasa Korea yang diselenggarakan pemerintah.
Menurutnya, anggapan bahwa calon pekerja harus mengeluarkan biaya hingga Rp75 juta atau Rp100 juta untuk bekerja di Korea tidak sepenuhnya benar apabila mengikuti prosedur resmi.
"Kalau mengikuti jalur pemerintah, prosesnya bertahap dan jauh lebih terjangkau," jelasnya.
Baca Juga: Gaji PNS 2026 Dipastikan Belum Berubah, Ini Daftar Lengkap Besaran Gaji ASN Berdasarkan Golongan
Selama bekerja di sebuah pabrik tekstil di Korea Selatan, Puguh bertugas menangani bongkar pasang mesin produksi.
Pendapatan yang diterimanya rata-rata berada di kisaran Rp30 juta per bulan, tergantung jumlah lembur yang diperoleh.
Ia mengatakan biaya hidup di Korea relatif hemat karena makan siang dan makan malam disediakan perusahaan selama hari kerja.
Baca Juga: DBHCHT Kota Blitar Dipangkas Hampir 50 Persen, Sektor Kesehatan Tetap Jadi Prioritas Utama
Dengan kebutuhan hidup sekitar Rp5 juta per bulan, sebagian besar penghasilannya dapat ditabung.
Namun, menurutnya tidak semua pekerja Indonesia mampu membawa pulang tabungan besar.
Banyak pekerja yang justru menghabiskan penghasilan untuk membeli barang elektronik terbaru maupun menikmati hiburan malam yang legal di Korea Selatan.
Baca Juga: Kenaikan Gaji PNS 2026 Masih Jadi Tanda Tanya, Ini Daftar Gaji ASN Terbaru Berdasarkan Golongan
"Kalau tidak kuat menahan godaan, uangnya bisa habis di sana," katanya.
Puguh sengaja memperpanjang masa kontraknya hingga tiga tahun dua bulan.
Keputusan tersebut diambil agar apabila suatu saat ingin kembali bekerja ke Korea Selatan, proses administrasinya lebih mudah dibandingkan harus mengulang dari awal sebagai pekerja baru.
Baca Juga: Kenaikan Gaji ASN 2026 Menguat? Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa Beri Sinyal, Ini Penjelasannya
Selama bekerja, jam kerjanya mencapai 12 jam per hari. Bahkan beberapa rekannya ada yang bekerja hingga 17 jam ketika permintaan produksi meningkat.
Meski demikian, ia mengaku budaya kerja di Korea sangat disiplin sehingga membuatnya banyak belajar tentang etos kerja.
Sekembalinya ke Indonesia, Puguh tidak memilih berdiam diri.
Ia mulai membangun usaha makanan ringan dengan merek "Jajanku".
Nama tersebut dipilih karena dianggap memiliki kedekatan emosional dengan konsumen sehingga mudah diingat.
Produk yang dijual antara lain basreng, tahu krispi, aneka camilan, serta minuman kekinian.
Sebagian produk diproduksi sendiri bersama sang istri setiap dini hari sebelum didistribusikan ke seluruh booth penjualan.
Saat ini, usahanya telah memiliki empat booth yang tersebar di wilayah Blitar Selatan.
Setiap booth mampu menghasilkan omzet sekitar Rp1 juta hingga Rp1,2 juta per hari sebelum dikurangi biaya operasional dan bahan baku.
Puguh menerapkan strategi ekspansi bertahap.
Keuntungan dari satu booth tidak langsung dinikmati, tetapi diputar kembali untuk membuka booth baru.
Menurutnya, biaya investasi mendirikan satu booth berkisar Rp7 juta hingga Rp8 juta.
Seluruh transaksi penjualan juga dipantau setiap hari melalui laporan dari masing-masing karyawan sehingga pengelolaan stok tetap terkendali.
Selain menjalankan bisnis kuliner, Puguh juga membuka jasa pengurusan pajak kendaraan bermotor karena sebelumnya pernah bekerja di bidang biro jasa.
Ke depan, Puguh ingin menjadikan "Jajanku" sebagai salah satu merek jajanan yang dikenal masyarakat Blitar, khususnya wilayah Blitar Selatan.
Baca Juga: Autentikasi Taspen Error, Gaji Pensiunan PNS Juli 2026 Belum Cair? Ini Penjelasan Resmi PT Taspen
Meski menghadapi tantangan seperti cuaca ekstrem yang kerap menyebabkan booth di daerah rawan banjir harus tutup sementara, ia tetap optimistis mengembangkan usahanya.
Bagi masyarakat yang ingin memulai bisnis, Puguh berpesan agar tidak hanya memiliki rencana, tetapi juga segera mengambil tindakan.
"Kalau punya rencana tapi tidak pernah bertindak, ya hanya jadi angan-angan. Yang penting langsung action, konsisten, dan mentalnya harus kuat," pesannya.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari