BLITAR KAWENTAR – Keputusan meninggalkan karier mapan di dunia perbankan internasional bukan perkara mudah.
Namun, itulah langkah yang diambil Surya, pendiri Garum Farm Blitar, yang memilih pulang kampung untuk membangun peternakan domba sekaligus menjalani konsep slow living yang menurutnya lebih menenangkan.
Sebelum mendirikan Garum Farm pada 2019, Surya menghabiskan hampir satu dekade berkarier di salah satu bank BUMN.
Baca Juga: DBHCHT Kota Blitar Dipangkas Hampir 50 Persen, Sektor Kesehatan Tetap Jadi Prioritas Utama
Penempatan terakhirnya bahkan berada di Singapura. Ia juga pernah bekerja di Yogyakarta, Jakarta hingga Belanda.
Meski menikmati kehidupan kota besar yang serba modern dan terstruktur, kerinduan terhadap Indonesia serta keinginan membangun kehidupan yang lebih bermakna akhirnya membawanya kembali ke Kabupaten Blitar.
"Yang saya cari sekarang bukan sekadar pendapatan, tapi bagaimana hidup lebih tenang dan sesuai ritme," ujarnya.
Menurut Surya, banyak orang salah memahami konsep slow living. Baginya, gaya hidup tersebut bukan berarti bekerja santai atau mengurangi produktivitas.
Sebaliknya, slow living merupakan upaya mengendalikan diri agar tidak memaksakan kehidupan di luar kemampuan.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat yang tergesa-gesa membeli sesuatu melalui cicilan, padahal kondisi keuangan maupun bisnis belum benar-benar stabil.
"Slow living itu mengembalikan kita ke ritme yang sesuai kemampuan dan fokus pada kebutuhan, bukan keinginan," katanya.
Konsep tersebut juga dinilai selaras dengan nilai Islam tentang qanaah atau merasa cukup.
Garum Farm sendiri lahir dari cita-cita almarhum ayahnya yang sejak kecil pernah menjadi penggembala domba.
Baca Juga: Daftar Gaji PNS 2026 Terbaru, Benarkah Naik? Ini Penjelasan Lengkap Besaran Gaji Sesuai Golongan
Ketika memasuki masa pensiun, sang ayah ingin kembali memelihara domba sebagai aktivitas sehari-hari.
Surya yang memang menyukai satwa sejak kecil akhirnya ikut terlibat mengembangkan peternakan tersebut.
Bahkan, ia mengaku sempat bercita-cita memiliki kebun binatang karena terinspirasi tokoh konservasi satwa asal Australia, Steve Irwin.
Namun perjalanan bisnis tidak langsung berjalan mulus. Sebelum fokus di peternakan, Surya sempat mencoba berbagai usaha mulai dari berjualan makanan ringan, madu hingga jasa konsultan keuangan. Sebagian besar usaha tersebut terdampak pandemi Covid-19.
Perubahan besar terjadi ketika Garum Farm mendapat pendampingan seorang konsultan peternakan internasional asal Belanda, Will Van den Ecker.
Selama dua pekan, konsultan tersebut melakukan observasi menyeluruh terhadap kondisi peternakan.
Baca Juga: Bos Taspen Ungkap Fakta Dana Pensiun ASN 2026, Pelayanan Digital Belum Sepenuhnya Diminati Pensiunan
Alih-alih menyarankan penggunaan teknologi mahal, ia justru menekankan pentingnya perbaikan nutrisi pakan.
Hasilnya cukup signifikan. Tingkat kematian domba menurun drastis, angka kelahiran anak kembar meningkat, serta induk lebih mampu menghasilkan susu sehingga tidak lagi membutuhkan susu pengganti.
Selain itu, sistem kandang juga diubah. Garum Farm kini memiliki kandang khusus untuk proses kelahiran agar anak domba lebih aman dari risiko cedera maupun tertindih induk lain.
Sistem pencatatan produksi dan keuangan juga mulai diterapkan secara lebih profesional sehingga setiap biaya, produksi hingga proyeksi arus kas dapat dipantau dengan baik.
Surya menyadari bisnis peternakan memiliki siklus harga yang fluktuatif.
Karena itu, Garum Farm tidak hanya mengandalkan penjualan domba.
Lahan peternakan kini dimanfaatkan untuk menanam jagung, cabai dan pepaya. Limbah kotoran ternak juga diolah menjadi pupuk organik yang memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, strategi tersebut membuat operasional peternakan tetap berjalan meskipun harga domba sedang turun.
"Domba tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi aset yang didukung usaha-usaha lain," jelasnya.
Perubahan terbesar yang dirasakan Surya justru terjadi pada pola pikirnya.
Ia mengaku dahulu selalu mengejar keuntungan secepat mungkin sehingga beberapa kali mengambil keputusan bisnis hanya karena tergiur iming-iming keuntungan.
Kini, ia memandang usaha sebagai bentuk ikhtiar dan rasa syukur, bukan semata-mata alat mencari uang.
Baca Juga: ASEAN Shopee Cup 2026-2027 Tambah 16 Tim, Hasil Drawing Grup dan Regulasi Baru Jadi Sorotan
Ia juga mengaku banyak belajar membedakan antara mengeluh dan meminta petunjuk kepada Allah.
Menurutnya, setiap ujian bukanlah hukuman, melainkan "pagar" yang mengarahkan manusia agar tetap berada di jalan yang benar.
"Kalau kita meminta hikmah di balik setiap ujian, biasanya solusi datang dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan," ungkapnya.
Baca Juga: Jadwal Persib Bandung di ASEAN Shopee Cup 2026-2027, Hadapi Port FC hingga Johor Darul Ta'zim
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika tanpa diduga Garum Farm mendapatkan pendampingan gratis dari konsultan peternakan internasional asal Belanda yang membawa banyak perubahan mendasar bagi perkembangan usaha.
Kini, selain terus mengembangkan Garum Farm, Surya juga menerapkan prinsip hidup sederhana kepada keluarganya. Ia membiasakan anak-anak mendapatkan hadiah melalui tantangan dan usaha, bukan karena sekadar meminta.
Baginya, semakin sedikit kebutuhan yang dimiliki seseorang, semakin merdeka pula hidup yang dijalani.
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari