Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Produk Blitar Tembus Pasar Luar Negeri, Mantan PMI Jadi Jembatan Ekspor Makanan Olahan hingga Diminati Diaspora Indonesia

Akhmad Nur Khoiri • Senin, 6 Juli 2026 | 13:10 WIB
Ilustrasi pelaku UMKM mengemas produk makanan olahan untuk dikirim ke luar negeri. (Ilustrasi/AI)
Ilustrasi pelaku UMKM mengemas produk makanan olahan untuk dikirim ke luar negeri. (Ilustrasi/AI)

 

BLITAR KAWENTAR – Produk Blitar tembus pasar luar negeri tidak hanya melalui perusahaan eksportir berskala besar.

 Di balik pengiriman berbagai makanan olahan khas Bumi Penataran ke sejumlah negara, terdapat peran mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang memanfaatkan jaringan pertemanan selama bekerja di luar negeri untuk memasarkan produk lokal.

Fenomena produk Blitar tembus pasar luar negeri ini menunjukkan bahwa peluang ekspor tidak selalu bergantung pada perusahaan besar.

Baca Juga: Libur Sekolah, Lebih dari 15 Ribu Orang Tinggalkan Blitar Lewat Terminal Patria, Bali dan Jakarta Jadi Tujuan Favorit

Mantan PMI yang telah kembali ke tanah air justru menjadi penghubung antara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan konsumen di berbagai negara melalui jaringan pertemanan yang telah lama terjalin.

Pemerintah Kabupaten Blitar pun melihat pola pemasaran tersebut sebagai peluang yang dapat terus dikembangkan.

Selain membantu memperluas pasar bagi UMKM, aktivitas ekspor skala kecil ini dinilai mampu memperkenalkan produk unggulan Kabupaten Blitar kepada masyarakat internasional, khususnya komunitas diaspora Indonesia.

Baca Juga: Rekomendasi 10 HP Oppo dan Vivo RAM 8/256 GB Terbaik 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Murlina, mengatakan hingga kini masih terdapat mantan PMI yang secara mandiri mengirimkan produk makanan olahan ke berbagai negara.

Pengiriman dilakukan berdasarkan pesanan dari rekan-rekan yang masih bekerja di luar negeri. Sebagian besar merupakan teman sesama pekerja migran yang telah mengenal berbagai produk khas Indonesia sejak masih berada di tanah air.

"Ada yang melakukan ekspor sendiri secara individu dalam skala kecil. Mereka memanfaatkan jaringan pertemanan karena sebelumnya pernah bekerja di luar negeri, kemudian sekarang melayani pesanan dari teman-teman yang masih berada di sana," ujarnya.

Menurut Murlina, aktivitas tersebut berlangsung secara berkelanjutan karena hubungan pertemanan yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal utama dalam pemasaran produk.

Produk yang paling banyak dikirim merupakan makanan olahan khas Indonesia yang sulit ditemukan di negara tempat para pekerja migran bekerja.

Kerinduan terhadap cita rasa kampung halaman membuat permintaan berbagai makanan khas tetap tinggi, meskipun jumlah pengirimannya tidak sebesar ekspor yang dilakukan perusahaan besar.

Baca Juga: Tiga Puskesmas di Kabupaten Blitar Jadi Atensi usai Capaian BIAS Tahun Lalu Kurang Maksimal

Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pribadi, berbagai produk tersebut juga sering diperkenalkan kepada kerabat maupun komunitas diaspora Indonesia sehingga semakin banyak orang mengenal produk asal Kabupaten Blitar.

Murlina menjelaskan, pemasaran tersebut berkembang secara alami melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.

 Mantan PMI memperkenalkan produk kepada teman kerja, keluarga, hingga komunitas Indonesia di luar negeri yang kemudian ikut melakukan pemesanan.

Baca Juga: Honda dan Nissan Bangun Aliansi Baru, Strategi Lawan Dominasi Mobil Listrik China Terungkap

Menurut Murlina, karakter ekspor mandiri berbeda dengan ekspor industri berskala besar.

Ekspor perusahaan umumnya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, perubahan nilai tukar mata uang, hingga permintaan pasar internasional.

 Sebaliknya, pengiriman yang dilakukan mantan PMI cenderung lebih stabil karena didorong kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Baca Juga: Presiden Prabowo di Hari Bhayangkara ke-80: Polri Harus Dekat dengan Rakyat, Tegakkan Hukum Tanpa Pandang Bulu

"Permintaan dari teman-teman yang berada di luar negeri biasanya terus ada. Karena sifatnya untuk konsumsi, pengirimannya relatif tetap berjalan," katanya.

Stabilnya permintaan tersebut menjadi peluang tersendiri bagi pelaku UMKM Kabupaten Blitar untuk terus memasarkan produk mereka meskipun dalam skala yang masih terbatas.

Meski ekspor mandiri terus berkembang, Disperindag Kabupaten Blitar tetap mendorong para pelaku usaha agar mampu menjadi eksportir dengan skala yang lebih besar.

Baca Juga: Persib Bandung Siapkan 12 Amunisi Baru, Ada Sandy Walsh hingga Ragnar Oratmangoen, Siapa yang Resmi Gabung?

Berbagai program pembinaan terus dilakukan, mulai dari pelatihan peningkatan kualitas produk, standardisasi mutu, hingga pendampingan proses ekspor agar produk UMKM memenuhi persyaratan pasar internasional.

Pemerintah berharap semakin banyak produk unggulan Kabupaten Blitar yang mampu menembus pasar global melalui jalur ekspor resmi sehingga nilai ekonomi yang dihasilkan juga semakin besar.

"Kami terus memberikan pembinaan kepada pelaku usaha agar memenuhi standar yang dipersyaratkan pasar internasional. Harapannya, semakin banyak produk unggulan Kabupaten Blitar yang dapat menembus pasar ekspor secara lebih luas," pungkas Murlina.

Baca Juga: Pidato Hari Bhayangkara ke-80: Presiden Tegaskan Polri untuk Masyarakat, Soroti Hukum, Korupsi hingga Ketahanan Pangan

Keberhasilan mantan PMI membuka akses pasar internasional menjadi bukti bahwa jejaring sosial dapat menjadi modal penting dalam pengembangan ekspor daerah.

Dengan dukungan pemerintah melalui pembinaan dan peningkatan kualitas produk, peluang produk Blitar tembus pasar luar negeri diperkirakan akan semakin besar sehingga mampu meningkatkan daya saing UMKM sekaligus memperkuat perekonomian Kabupaten Blitar.(kho/c1/sub)

Editor : Ratna Anggi Puspita Sari
#Ekspor UMKM Blitar #Makanan Olahan Blitar #Produk Blitar Tembus Pasar Luar Negeri #Disperindag kabupaten blitar #mantan PMI