BLITAR KAWENTAR - Fluktuasi harga kebutuhan pokok serta kenaikan Pertamax memicu perhatian publik sebulan terakhir. Meski inflasi Juni 2026 naik, kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat di wilayah Blitar dinilai masih aman.
Pantauan di Pasar Pon Kota Blitar menunjukkan harga pangan bergerak fluktuatif. Didik, salah seorang pedagang, menyebut harga cabai rawit kini berada di kisaran Rp35 ribu per kg dan kubis merangkak naik ke Rp9.500 per kg. Minyak goreng kemasan juga naik dari Rp42 ribu menjadi Rp44 ribu per 2 liter.
”Sudah terjadi sebulanan terakhir, dampaknya daya beli konsumen agak susut sedikit," katanya, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: Viral di Blitar, Aplikasi Re-Club Bantu Penghobi Tenis dan Padel Atur Jadwal Mabar
Sebaliknya, harga bawang merah justru melandai ke angka Rp30 ribu dari sebelumnya Rp45 ribu per kg.
Di lapak sembako, Mochammad Choirul mengeluhkan lonjakan signifikan pada komoditas tepung. Tepung tapioka naik dari Rp7 ribu menjadi Rp14 ribu per kg, sedangkan tepung ketan melonjak dari Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu per kg. Sementara itu, gula pasir tertahan di Rp17 ribu per kg, telur ayam ras Rp24 ribu per kg, dan MinyaKita Rp15.700 per liter.
"Daya beli sebetulnya masih relatif stabil. Cuma untuk tepung-tepungan memang naiknya terasa sekali," urai Choirul.
Situasi pasar ini beriringan dengan penyesuaian harga energi per 10 Juni lalu. Harga Pertamax melejit dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara BBM subsidi jenis Pertalite bertahan di angka Rp10.000 per liter.
Menanggapi hal ini, Kaprodi Manajemen Fakultas Ekonomi, Bambang Septiawan menilai kenaikan BBM nonsubsidi tersebut wajar akibat depresiasi rupiah terhadap dolar AS serta dampak geopolitik global. Meski Pertamax naik signifikan, Bambang meyakini daya beli masyarakat Blitar secara umum tidak akan goyah.
”Mayoritas masyarakat menengah ke bawah menggunakan Pertalite yang harganya masih ditahan pemerintah. Kesimpulannya daya beli masih normal dan aman, belum ada indikasi pergolakan," terangnya.
Baca Juga: Apa Itu Bixby? Kenali Fungsi Asisten AI Samsung yang Bisa Kontrol HP hingga Smart Home
Bambang tak menampik adanya efek psikologis pasar secara teori. Namun di Bumi Bung Karno, hal itu hanya sebatas perbincangan dan belum menjalar ke perilaku belanja yang ekstrem. Isu migrasi massal dari Pertamax ke Pertalite juga diyakini tidak akan masif terjadi karena kesadaran masyarakat Blitar sudah tinggi.
”Antrean panjang di SPBU dari pagi sampai malam tidak ada. Antrean hanya wajar di jam berangkat kerja atau pulang sekolah. Jadi posisinya masih aman," imbuhnya.
Baca Juga: Galaxy AI Jadi Andalan Samsung Galaxy S24 Ultra, Cukup Kuatkah Mengalahkan Pesona S23 Ultra?
Lebih lanjut, kenaikan Pertamax dan sektor transportasi ini memang turut menyumbang andil terhadap inflasi nasional Juni 2026 yang tercatat BPS sebesar 0,44% secara bulanan (month-to-month/mtm). Sektor trnsportasi sendiri menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,28%.
Kendati demikian, Bambang menegaskan angka inflasi tahunan yang berada di kisaran 3,34% masih dalam batas normal dan tidak perlu ditakuti.
”Inflasi di bawah 4 persen itu masih wajar dan justru dibutuhkan sistem ekonomi untuk menstabilkan uang yang beredar dengan tingkat produksi. Kenaikan ini memicu masyarakat aktif bertransaksi agar perputaran uang jalan dan tidak ditimbun," paparnya.
Baca Juga: Bixby Samsung Masih Layak Dipakai? Ini Fungsi, Keunggulan, dan Fitur AI yang Jarang Diketahui
Untuk menjaga stabilitas ke depan, Bambang mengapresiasi kebijakan pusat yang konsisten menahan harga Pertalite.
Sementara di tingkat lokal, ia menyarankan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Pemkot Blitar untuk terus menggencarkan operasi pasar jika ada komoditas pangan yang melonjak ekstrem.
”Program Pemkot Blitar seperti bantuan beras dan pemberian makanan pokok untuk lansia setiap pagi sudah bagus, meskipun saat ini ada efisiensi anggaran pusat dan penurunan PAD. Terpenting sekarang adalah edukasi ke masyarakat agar tetap konsumsi secara wajar dan tidak panic buying," pungkasnya.(mg1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah