BLITAR KAWENTAR – Kenaikan harga kacang tanah menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha jajanan tradisional di Kota Blitar.
Salah satunya dirasakan produsen enting-enting dan geti di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, yang harus memutar otak agar usahanya tetap bertahan di tengah lonjakan biaya produksi.
Harga kacang tanah yang kini mencapai Rp 40 ribu per kilogram memaksa pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian.
Baca Juga: MPLS 2026 Diawasi Ketat, Dispendik Kota Blitar Tegaskan Stop Bullying dan Senioritas di Sekolah
Kondisi tersebut juga dialami Asna Rosida, 52, yang telah lebih dari satu dekade menggeluti usaha pembuatan enting-enting dan geti khas Blitar.
Menurut Asna, harga kacang tanah yang sebelumnya berada di kisaran Rp 25 ribu per kilogram kini melonjak hampir 50 persen.
Kenaikan tersebut menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya selama menjalankan usaha.
"Tantangan terbesar sekarang memang harga kacang tanah. Kenaikannya luar biasa, hampir 50 persen dibanding sebelumnya," ujarnya.
Untuk menutup sebagian kenaikan biaya produksi, Asna akhirnya menaikkan harga jual produknya.
Enting-enting dan geti yang sebelumnya dijual Rp 50 ribu per kilogram kini dipasarkan seharga Rp 60 ribu per kilogram.
Meski demikian, kenaikan harga tersebut tidak sepenuhnya mengikuti lonjakan harga bahan baku.
Asna sengaja mengambil kebijakan itu agar produk buatannya tetap terjangkau dan reseller tidak kesulitan memasarkannya kepada konsumen.
"Harga kacang naik hampir 50 persen, tapi harga jual saya naikkan sekitar 30 persen saja. Saya ambil jalan tengah supaya reseller tetap mudah menjual ke konsumen," tuturnya.
Baginya, menjaga loyalitas pelanggan jauh lebih penting dibanding mengambil keuntungan besar dalam waktu singkat.
Sebab, apabila harga terlalu tinggi, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan ikut menurun.
Tak hanya menaikkan harga jual, Asna juga melakukan inovasi pada resep produknya.
Jika sebelumnya enting-enting dan geti hanya menggunakan satu jenis bahan utama, kini ia memadukan kacang tanah dengan wijen.
Strategi tersebut dilakukan agar biaya produksi lebih terkendali tanpa mengurangi kualitas rasa. Menurutnya, perpaduan kedua bahan justru menghasilkan cita rasa yang lebih gurih.
"Sekarang saya campur kacang dengan wijen. Rasanya justru lebih gurih dan harga jualnya juga bisa menyesuaikan. Selama lebih dari 10 tahun usaha, baru kali ini saya mengalami harga kacang lebih mahal daripada wijen," ungkapnya.
Inovasi itu juga menjadi solusi agar usahanya tetap mampu bersaing di tengah naiknya harga bahan baku yang belum menunjukkan tanda-tanda turun.
Meski menghadapi tekanan biaya produksi, Asna bersyukur kapasitas usahanya masih mampu dipertahankan.
Hingga saat ini ia masih memproduksi sekitar satu kuintal enting-enting dan geti setiap hari.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi tersebut, Asna membutuhkan sekitar 75 kilogram kacang tanah per hari.
Jumlah itu menunjukkan betapa besarnya pengaruh kenaikan harga kacang terhadap biaya operasional usaha yang dijalankannya.
Beruntung, permintaan pasar masih relatif stabil. Produk buatannya tetap dipasarkan ke berbagai toko pusat oleh-oleh di Blitar, bahkan merambah sejumlah daerah di luar Pulau Jawa.
Beberapa wilayah tujuan pemasarannya antara lain Balikpapan, Bima, hingga Bali. Permintaan yang masih terjaga membuat roda produksi tetap berjalan dan para pekerjanya masih dapat dipertahankan.
"Alhamdulillah, produksinya masih stabil. Pesanan tetap ada sehingga saya juga masih bisa mempertahankan karyawan," pungkasnya.
Kondisi yang dialami Asna menjadi gambaran tantangan yang tengah dihadapi pelaku UMKM pangan tradisional.
Di tengah lonjakan harga bahan baku, mereka dituntut terus berinovasi agar usaha tetap berjalan, kualitas produk tetap terjaga, dan konsumen tidak kehilangan akses terhadap jajanan khas daerah yang telah menjadi bagian dari identitas kuliner Blitar.(*/c1/ady)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari