Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Pendiri Kebab Turki Baba Rafi Ungkap Kunci UMKM Naik Kelas, Leadership dan Personal Branding Jadi Penentu Kesuksesan

M. Helmi Nurhisam • Kamis, 9 Juli 2026 | 15:40 WIB
Pendiri Kebab Turki Baba Rafi membagikan strategi agar UMKM naik kelas melalui leadership, personal branding, membangun tim, dan ekspansi bisnis.(pinterest)
Pendiri Kebab Turki Baba Rafi membagikan strategi agar UMKM naik kelas melalui leadership, personal branding, membangun tim, dan ekspansi bisnis.(pinterest)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COMUMKM naik kelas tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau banyaknya pelanggan. Menurut pendiri Kebab Turki Baba Rafi, Nilam Sari, faktor terpenting justru terletak pada kemampuan seorang pemilik usaha dalam memimpin tim, membangun sistem, dan terus mengembangkan diri sebagai entrepreneur.

Dalam sebuah perbincangan mengenai dunia kewirausahaan, Nilam membagikan pengalamannya membangun bisnis dari satu gerobak kaki lima hingga berkembang menjadi lebih dari 1.400 outlet di 10 negara. Perjalanan panjang tersebut membuatnya memahami bahwa tantangan terbesar pelaku UMKM naik kelas bukan sekadar persoalan operasional, melainkan perubahan pola pikir seorang owner.

Menurut Nilam, banyak pelaku UMKM naik kelas yang masih terjebak mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Mulai dari operasional, administrasi, hingga pengambilan keputusan masih bergantung kepada pemilik usaha. Kondisi tersebut membuat bisnis sulit berkembang karena owner tidak memiliki waktu untuk menyusun strategi jangka panjang.

Ia mengaku pernah mengalami fase ketika hampir seluruh aktivitas bisnis dilakukan sendiri. Namun seiring bertambahnya jumlah outlet, ia mulai menyadari pentingnya mendelegasikan pekerjaan yang bersifat rutin kepada tim agar bisa fokus pada pengembangan usaha.

"Kalau semua pekerjaan masih dikerjakan owner, kapan bisnisnya berkembang?" ungkapnya.

Baca Juga: Cara Keluar dari Kemiskinan Ala Theoderich Goh, Bongkar Rahasia Raih Rp1 Miliar Pertama yang Jarang Disadari

Nilam menjelaskan bahwa membangun tim tidak bisa dilakukan sekaligus. Pada tahap awal, pelaku usaha cukup merekrut orang untuk mengambil alih pekerjaan yang sifatnya berulang. Setelah bisnis semakin besar, struktur organisasi bisa diperkuat dengan supervisor, manajer, hingga profesional yang memiliki pengalaman lebih tinggi.

Ia menilai banyak pelaku UMKM takut merekrut karyawan karena khawatir biaya operasional meningkat. Padahal, menurutnya, penambahan sumber daya manusia yang tepat justru menjadi investasi agar bisnis mampu bertumbuh lebih cepat.

Selain persoalan tim, Nilam juga menyoroti mental block yang masih sering dimiliki pelaku usaha. Banyak entrepreneur merasa nyaman dengan omzet yang sudah diperoleh sehingga enggan melakukan ekspansi ataupun membuka cabang baru.

Padahal, menurutnya, seorang pebisnis harus terus memiliki keinginan untuk belajar. Dunia usaha selalu berubah sehingga pemilik bisnis perlu terbuka terhadap ilmu baru, mentor, komunitas, hingga pengalaman dari entrepreneur lain.

Ia juga mengingatkan bahwa bisnis yang sehat harus dibangun melalui sistem, bukan hanya mengandalkan kemampuan owner. Ketika seluruh keputusan bergantung kepada satu orang, bisnis akan sulit berkembang karena kapasitas pemilik usaha memiliki batas.

Pengalaman membangun Kebab Turki Baba Rafi juga mengajarkan bahwa owner harus mampu menjual visi perusahaan kepada calon karyawan. Saat perusahaan memiliki tujuan yang jelas dan prospek yang menarik, talenta terbaik akan lebih mudah bergabung meskipun bisnis masih dalam tahap berkembang.

Menurut Nilam, hal lain yang tidak kalah penting adalah personal branding. Ia menegaskan bahwa personal branding bukan berarti memamerkan gaya hidup mewah di media sosial, melainkan membangun reputasi melalui karya, pengalaman, kompetensi, dan kontribusi yang diberikan kepada masyarakat.

Dengan personal branding yang kuat, seorang entrepreneur memiliki daya tawar yang lebih tinggi saat bertemu investor, calon mitra, maupun pelanggan. Orang akan lebih mudah memberikan kepercayaan karena telah mengenal rekam jejak pemilik bisnis tersebut.

Baca Juga: 90 Persen Startup Gagal, Penyebab Sebenarnya Bikin Kaget, Ternyata Bukan Sekadar Kekurangan Modal

Nilam juga mendorong pelaku UMKM agar aktif bergabung dalam komunitas bisnis. Melalui komunitas, entrepreneur dapat memperoleh mentor, bertukar pengalaman, membangun kolaborasi, hingga memperluas jaringan yang berpotensi mempercepat pertumbuhan usaha.

Tak hanya itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga mental ketika menghadapi berbagai tantangan bisnis. Menurutnya, kegagalan dalam merekrut karyawan, konflik usaha, maupun hambatan operasional merupakan bagian dari proses belajar yang harus dihadapi setiap entrepreneur.

Menutup perbincangan, Nilam berharap semakin banyak brand lokal Indonesia yang mampu berekspansi ke pasar internasional. Ia optimistis kebangkitan UMKM Indonesia akan terus berlanjut apabila para pelaku usaha berani membangun sistem, memperkuat leadership, serta terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Baginya, kesuksesan sebuah bisnis bukan hanya diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari kemampuan menciptakan lapangan kerja, memberi manfaat bagi masyarakat, serta membawa produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Kebab Turki Baba Rafi #Ekspansi Bisnis #personal branding #UMKM #leadership