Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Peluang Bisnis Tanaman Hias Masih Menjanjikan, Founder Me Time Factory Ungkap Strategi Bertahan di Tengah Persaingan

M. Helmi Nurhisam • Selasa, 14 Juli 2026 | 15:30 WIB
Bisnis tanaman hias masih menjanjikan. Founder Me Time Factory membagikan strategi bertahan, membangun personal branding, dan menghadapi persaingan digital.(pinterest)
Bisnis tanaman hias masih menjanjikan. Founder Me Time Factory membagikan strategi bertahan, membangun personal branding, dan menghadapi persaingan digital.(pinterest)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Bisnis tanaman hias masih menyimpan peluang bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan perubahan pasar. Founder Me Time Factory, Muri Anandayu, membagikan pengalaman membangun usaha tanaman hias sejak 2016 hingga mampu bertahan melewati masa pandemi dan menghadapi persaingan yang semakin ketat di era digital.

Dalam program Women Stock IDX Channel, Muri menjelaskan bahwa bisnis yang dirintisnya tidak langsung berfokus pada tanaman hias. Awalnya, Me Time Factory bergerak di bidang kerajinan kreatif dengan menghias pot plastik menggunakan kain flanel.

Namun, konsep tersebut kurang berkembang di pasar. Muri kemudian mencoba menjual kaktus sebelum akhirnya memperluas produk ke tanaman berbunga dan tanaman hias daun.

Berawal dari Kerajinan, Beralih ke Tanaman Hias

Muri mengungkapkan, toko kecil yang dibukanya mulai mendapat respons positif hanya dalam waktu dua minggu. Bahkan, pelanggan sudah datang mengantre sebelum toko dibuka.

Baca Juga: Harga Ikan Koi Bisa Tembus Rp2 Juta Meski Ukurannya Kecil, Ini Rahasia Membedakan Koi Murah dan Premium

Setelah mencoba tanaman berbunga, ia menyadari penjualan kurang stabil karena bunga memiliki musim berbunga yang berbeda-beda. Kondisi itu membuatnya mengalihkan fokus ke tanaman hias daun seperti aglaonema yang dinilai memiliki permintaan lebih konsisten.

Menurutnya, penjualan meningkat signifikan saat pandemi karena banyak masyarakat mencari aktivitas baru selama berada di rumah.

Strategi Berubah Setelah Pandemi

Memasuki masa pascapandemi, kondisi pasar kembali berubah. Permintaan ritel menurun karena semakin banyak orang yang mulai menjual tanaman hias.

Baca Juga: Peluang Hobi Memelihara Reptil: Panduan Lengkap Cara Merawat yang Benar bagi Pemula Agar Sehat

Muri mengatakan Me Time Factory kemudian mengubah strategi bisnis. Jika sebelumnya mengandalkan penjualan ritel, kini perusahaan lebih banyak mengerjakan proyek pengadaan tanaman untuk hotel berbintang, pusat perbelanjaan, rumah pejabat, hingga rumah artis.

Perubahan strategi tersebut dinilai mampu menjaga keberlangsungan usaha di tengah persaingan yang semakin luas.

Persaingan Meningkat di Era Digital

Menurut Muri, digitalisasi membawa dampak positif sekaligus tantangan baru bagi pelaku bisnis tanaman hias.

Ia mengungkapkan banyak pekerja yang terkena PHK saat pandemi akhirnya beralih menjadi penjual tanaman. Bahkan, sejumlah pemasok yang sebelumnya hanya menyuplai tanaman kini ikut menjual produk secara langsung melalui media sosial.

Selain persaingan yang semakin ketat, Muri juga mengaku pernah mengalami penipuan melalui akun media sosial palsu yang mengatasnamakan usahanya sehingga merugikan konsumen.

Personal Branding Jadi Kunci

Untuk menghadapi kompetisi, Muri memilih memperkuat personal branding. Ia aktif tampil di media sosial agar calon pelanggan mengenal langsung sosok di balik Me Time Factory.

Menurutnya, kehadiran founder dalam konten menjadi salah satu cara membangun kepercayaan pelanggan, terutama untuk menangani proyek bernilai besar.

Ia juga menekankan pentingnya pelayanan yang profesional, baik secara daring maupun langsung kepada pelanggan.

Selektif Memilih Produk dan Menjaga Kualitas

Muri mengaku tidak mengejar tren tanaman hias dengan harga fantastis yang berisiko tinggi.

Ia lebih memilih tanaman yang memiliki permintaan berulang sehingga perputaran bisnis tetap berjalan. Meski pernah menjual tanaman dengan harga puluhan juta rupiah, fokus utamanya tetap pada produk yang memiliki pasar lebih luas.

Selain itu, setiap tanaman yang dijual harus melalui proses pemeriksaan kualitas atau quality control (QC). Tanaman yang baru sembuh dari serangan hama tidak langsung dipasarkan meskipun ada pelanggan yang ingin membelinya.

Menurutnya, menjaga kualitas jauh lebih penting daripada mengejar penjualan sesaat.

Memanfaatkan Pengalaman untuk Membuka Kelas Bisnis

Selain menjual tanaman, Muri juga mengembangkan usaha melalui kelas bisnis.

Ia membagikan pengalaman mengenai strategi pemasaran, membangun merek, hingga mengelola usaha kepada peserta dari berbagai daerah.

Baginya, pengalaman selama bertahun-tahun membangun bisnis dapat menjadi nilai tambah sekaligus sumber pendapatan baru.

Kepemimpinan dan Pengelolaan Tim

Dalam menjalankan usaha, Muri menerapkan sistem kerja berbasis tim sehingga operasional tetap berjalan meski dirinya tidak selalu berada di lokasi usaha.

Ia membagi tim berdasarkan fungsi, mulai dari pemasaran proyek, layanan pelanggan, hingga pengiriman. Dengan sistem tersebut, bisnis dapat berjalan lebih mandiri.

Muri juga menerapkan gaya kepemimpinan yang mendorong setiap anggota tim memiliki target dan tujuan pengembangan diri.

Pesan untuk Calon Pengusaha

Menutup perbincangan, Muri mendorong masyarakat, khususnya perempuan, agar tidak ragu memulai usaha.

Menurutnya, era digital menyediakan banyak sarana belajar sehingga siapa pun dapat mengembangkan kemampuan berbisnis.

Ia menegaskan bahwa perempuan tetap bisa menghasilkan pendapatan dari rumah selama memiliki kemauan untuk belajar, membangun tim, dan terus beradaptasi dengan perubahan pasar.

Editor : M. Helmi Nurhisam
peluang bisnis tanaman hias di era digital Me Time Factory personal branding bisnis tanaman hias Bisnis Tanaman Hias