Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

RUU Clarity Act Kripto Amerika Serikat Masuki Fase Kritis: Senator Cynthia Lummis Targetkan Voting Pekan Depan

Muhammad Rusdian Nuzula • Rabu, 15 Juli 2026 | 20:25 WIB
RUU Clarity Act kripto Amerika Serikat masuki fase krusial. Senator Cynthia Lummis targetkan draf final dan voting senat pekan depan! (PINTEREST)
RUU Clarity Act kripto Amerika Serikat masuki fase krusial. Senator Cynthia Lummis targetkan draf final dan voting senat pekan depan! (PINTEREST)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Kepastian mengenai regulasi aset digital di Negeri Paman Sam memasuki babak penentuan seiring rencana pengajuan draf final RUU Clarity Act kripto Amerika Serikat ke lantai Senat. Senator Cynthia Lummis mengisyaratkan bahwa draf undang-undang yang telah digodok selama sepuluh bulan terakhir ini akan segera dirilis dalam hitungan hari. Jika tidak ada hambatan, pemungutan suara bersejarah terkait aturan komprehensif ini dijadwalkan berlangsung pada pekan yang dimulai 20 Juli mendatang.

Langkah cepat ini diambil mengingat tenggat waktu yang kian sempit sebelum Senat memasuki masa reses pada 7 Agustus mendatang. Masa reses tersebut secara luas dinilai sebagai kesempatan terakhir yang realistis untuk meloloskan aturan ini pada periode kongres sekarang. Kegagalan meloloskan undang-undang pada jendela waktu yang singkat ini memaksa seluruh proses legislasi harus diulang dari awal.

Baca Juga: 2 SMP Negeri di Kota Blitar Masih Kekurangan Siswa Baru, Pendaftaran Tetap Dibuka hingga Kuota Terpenuhi

Menanti Lampu Hijau dari John Thune dan Isu Etika

Meskipun Senator Cynthia Lummis optimis draf RUU ini bisa dibawa ke lantai Senat pada pekan 20 Juli, keputusan akhir berada di tangan Senator John Thune. Selaku figur kunci, Thune memegang kendali penuh dalam menentukan kapan regulasi krusial bagi industri aset digital ini akan didebatkan dan diputuskan. Sinyal yang dikirimkan Thune dalam satu bulan terakhir menunjukkan bahwa kesepakatan politik sangat bergantung pada satu isu krusial, yaitu pengetatan aturan etika.

Untuk mengamankan batas minimal 60 suara di Senat, pihak Republik wajib merangkul kubu Demokrat yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Senator Mark Warner. Kubu Demokrat terus mendesak adanya aturan etika yang ketat guna mencegah konflik kepentingan terkait kepemilikan aset digital di kalangan pejabat publik. Tanpa adanya konsensus mengenai transparansi ini, jalan bagi regulasi ini dipastikan buntu di tingkat parlemen.

Keterlibatan Gedung Putih dan Absennya Negosiator Utama

Di sisi lain, dinamika di tingkat eksekutif juga mengalami perubahan arah yang tak terduga. Patrick Witt, yang menjabat sebagai penasihat kripto utama di Gedung Putih sekaligus negosiator utama untuk aturan ini, dilaporkan mengambil cuti militer selama satu bulan mulai pekan depan. Witt dijadwalkan mengikuti pelatihan JAG di Army National Guard hingga 27 Juli mendatang.

Meski kepergian Witt terjadi di tengah fase paling krusial, beberapa analis melihat situasi ini dari sudut pandang yang optimis. Spekulasi yang berkembang menyebutkan bahwa negosiasi substantif kemungkinan besar telah rampung di balik layar sebelum Witt pergi. Seluruh draf kompromi mengenai batas hasil stablecoin, ketentuan pencucian uang, hingga persoalan etika kepemilikan kripto diduga kuat sudah disepakati kedua belah pihak.

Pentingnya Undang-Undang bagi Kepastian Hukum Pasar Kripto

Baca Juga: 2 SMP Negeri di Kota Blitar Masih Kekurangan Siswa Baru, Pendaftaran Tetap Dibuka hingga Kuota Terpenuhi

Pentingnya kehadiran aturan setingkat undang-undang ini ditegaskan kembali oleh Senator Cynthia Lummis untuk meluruskan kesalahpahaman publik. Lummis menekankan bahwa aturan dari lembaga independen seperti SEC maupun CFTC tidak akan pernah cukup untuk melindungi industri secara menyeluruh. Hanya kongres yang memiliki wewenang hukum kuat untuk memberikan mandat pengawasan pasar spot kepada CFTC maupun melindungi para pengembang dari penuntutan hukum yang tidak berdasar.

Tanpa adanya draf undang-undang baru ini, regulasi aset digital di Amerika Serikat akan terus berada di wilayah abu-abu tanpa kepastian hukum yang jelas. Sementara itu, draf baru yang akan segera meluncur diprediksi akan membawa sejumlah poin revisi yang krusial. Selain pengetatan kode etik pejabat publik, draf tersebut kabarnya akan mereformasi aturan keuangan terdesentralisasi (DeFi) demi meredam kekhawatiran terkait pendanaan ilegal.

Perdebatan mengenai regulasi ini juga memicu polarisasi tajam di tingkat lembaga penegak hukum nasional. Federal Law Enforcement Officers Association secara terbuka mengirimkan surat dukungan terhadap aturan baru ini kepada Komite Perbankan Senat. Sebaliknya, National Sheriffs Association, yang merupakan salah satu organisasi penegak hukum terbesar di Amerika Serikat, justru menyatakan penolakan keras terhadap draf undang-undang tersebut.

Dengan peta kekuatan yang terbagi rata 50-50, sidang dengar pendapat yang dijadwalkan pada hari Jumat ini akan menjadi indikator utama arah angin politik. Jika kesepakatan gagal tercapai pada sisa waktu beberapa pekan ini, masa depan regulasi kripto di Amerika Serikat dipastikan kembali gelap gulita. Seluruh mata pelaku pasar kini tertuju pada draf teks baru yang akan menjadi penentu hidup atau matinya regulasi bersejarah ini.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
RUU Clarity Act kripto Amerika Serikat perkembangan RUU Clarity Act kripto Amerika Serikat terbaru menjelang reses senat pasar kripto regulasi kripto AS kompromi etika kripto