JAKARTA - Evaluasi bisnis dinilai menjadi salah satu langkah penting bagi pelaku usaha untuk memastikan perusahaan tetap bertahan dan terus berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi. Memasuki 2026, seorang pelaku usaha membagikan metode evaluasi yang diterapkannya dengan mengacu pada pendekatan Warren Buffett, mulai dari analisis keuangan hingga penilaian terhadap aspek nonkeuangan.
Menurutnya, awal tahun selalu menjadi momentum untuk meninjau kembali seluruh kinerja usaha yang dikelola bersama tim. Evaluasi tersebut tidak hanya bertujuan mengukur pencapaian selama satu tahun terakhir, tetapi juga menjadi dasar dalam menyusun strategi bisnis ke depan.
Ia menilai kegagalan yang terjadi pada tahun sebelumnya tidak perlu disesali secara berlebihan. Sebaliknya, setiap kegagalan dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk memperbaiki langkah pada periode berikutnya.
Baca Juga: Jadwal Semifinal SEA V Cup 2026: Timnas Voli Putra Indonesia vs Vietnam, Duel Penentu Tiket Final
Awal Tahun Jadi Waktu Tepat Mengevaluasi Bisnis
Dalam pemaparannya, ia mengatakan setiap awal tahun selalu melakukan evaluasi terhadap seluruh lini usaha yang dikelolanya. Kebiasaan tersebut telah dilakukan secara rutin karena dinilai mampu membantu perusahaan terus berkembang.
Menurutnya, dunia usaha selalu dipenuhi ketidakpastian. Karena itu, pelaku usaha harus siap menghadapi berbagai perubahan melalui proses evaluasi yang berkelanjutan.
Ia juga menegaskan bahwa prinsip evaluasi tidak hanya berlaku dalam bisnis. Metode serupa dapat diterapkan pada berbagai proyek maupun target pribadi yang sedang diupayakan.
Tiga Indikator Utama ala Warren Buffett
Sebagai acuan, ia menggunakan kerangka evaluasi yang disebut mengadopsi pendekatan investor dunia Warren Buffett.
Menurutnya, Warren Buffett lebih memilih menyederhanakan proses penilaian bisnis dengan berfokus pada tiga indikator utama, yakni Return on Equity (ROE), Operating Margin, dan Free Cash Flow (FCF).
Ketiga indikator tersebut dinilai cukup untuk memberikan gambaran mengenai kualitas sebuah bisnis, efektivitas penggunaan modal, serta kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan dalam jangka panjang.
Return on Equity Menilai Efektivitas Penggunaan Modal
Indikator pertama yang dijelaskan adalah Return on Equity atau ROE.
ROE digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari modal yang dimiliki. Semakin tinggi nilai ROE, semakin efisien perusahaan memanfaatkan modal yang ditanamkan.
Ia memberikan ilustrasi menggunakan dua perusahaan.
Perusahaan A memiliki laba bersih sebesar Rp15 juta dengan modal Rp75 juta. Berdasarkan perhitungan tersebut, ROE perusahaan mencapai 20 persen.
Sementara Perusahaan B memperoleh laba bersih Rp25 juta dengan modal Rp500 juta sehingga menghasilkan ROE sebesar 5 persen.
Melalui contoh tersebut, ia menjelaskan bahwa perusahaan dengan laba yang lebih besar belum tentu memiliki kinerja yang lebih baik.
Menurutnya, perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan lebih tinggi dibandingkan modal yang digunakan menunjukkan efisiensi yang lebih baik dalam menjalankan usaha.
Konsep tersebut juga dapat diterapkan di luar dunia bisnis.
Ia mencontohkan seseorang yang sedang belajar bahasa Inggris dapat membandingkan dua metode belajar. Apabila metode pertama membutuhkan waktu dua jam untuk menghasilkan kemajuan 10 persen, sedangkan metode kedua hanya membutuhkan satu jam dengan hasil 30 persen, maka metode kedua dinilai lebih efektif untuk dilanjutkan.
Operating Margin Mengukur Ruang Gerak Perusahaan
Indikator berikutnya adalah Operating Margin.
Menurutnya, Operating Margin menunjukkan jumlah laba operasional yang tersisa setelah seluruh biaya operasional perusahaan dibayarkan.
Perhitungan dilakukan dengan membagi laba operasional terhadap total pendapatan, kemudian dikalikan 100 persen.
Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan memiliki pendapatan Rp500 juta dalam satu bulan. Setelah dikurangi biaya operasional seperti bahan baku, gaji karyawan, sewa, dan logistik, perusahaan masih memiliki laba operasional sebesar Rp150 juta.
Dengan kondisi tersebut, Operating Margin perusahaan mencapai sekitar 30 persen.
Ia menjelaskan bahwa margin operasional yang tinggi memberikan ruang gerak lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi.
Perusahaan memiliki kesempatan mengembangkan produk baru, mencoba strategi pemasaran baru, hingga melakukan riset dan pengembangan tanpa mengganggu operasional utama.
Menurutnya, konsep tersebut telah diterapkan dalam bisnis yang dikelolanya sehingga perusahaan memiliki ruang untuk terus berkembang melalui berbagai percobaan strategi.
Sebaliknya, perusahaan dengan Operating Margin yang rendah akan memiliki ruang gerak yang lebih terbatas.
Kondisi tersebut membuat bisnis lebih rentan menghadapi perubahan ekonomi maupun gejolak pasar yang terjadi secara tiba-tiba.
Free Cash Flow Menentukan Kesehatan Arus Kas
Indikator ketiga yang digunakan adalah Free Cash Flow atau FCF.
Berbeda dengan omzet maupun laba bersih, FCF menunjukkan jumlah kas yang benar-benar tersedia setelah perusahaan membayar biaya operasional dan belanja modal.
Dana tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti ekspansi usaha, pembayaran utang, maupun pembagian dividen.
Ia memberikan contoh perusahaan yang memiliki arus kas operasional sebesar Rp500 juta dan pengeluaran modal Rp200 juta.
Dengan kondisi tersebut, perusahaan memiliki Free Cash Flow sebesar Rp300 juta.
Menurutnya, perusahaan yang memiliki FCF tinggi umumnya mempunyai tingkat likuiditas yang baik.
Bisnis juga tidak terlalu bergantung pada pendanaan eksternal ketika ingin melakukan pengembangan usaha.
Ia menambahkan tidak ada angka baku mengenai besarnya FCF yang dianggap ideal.
Namun secara umum, bisnis yang sehat memiliki Free Cash Flow positif dan cenderung meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu.
Evaluasi Tim Tidak Kalah Penting
Selain aspek keuangan, ia juga menilai evaluasi terhadap sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pertumbuhan perusahaan.
Menurutnya, perusahaan perlu membangun sistem kerja yang mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kualitas maupun kenyamanan karyawan.
Ia mengungkapkan tingkat pergantian pegawai di perusahaan yang dikelolanya selama tiga tahun terakhir berada di bawah lima persen.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dicapai melalui sistem kerja yang lebih efisien sekaligus memberikan kesempatan kepada karyawan untuk terus berkembang.
Pelatihan, pemberian umpan balik, dan ruang untuk berinovasi dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan kemampuan tim.
Apabila seluruh dukungan telah diberikan tetapi hasil kerja belum berkembang, menurutnya perlu dicari penyebab lain, termasuk kemungkinan adanya masalah pribadi maupun kelelahan yang memengaruhi performa karyawan.
Product Market Fit Harus Terus Diuji
Aspek lain yang turut dievaluasi adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar atau product market fit.
Menurutnya, tidak sedikit bisnis gagal karena terlalu percaya diri terhadap produknya tanpa memastikan apakah benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.
Ia menilai promosi yang besar tidak akan memberikan hasil apabila produk tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Keberhasilan sebuah produk, menurutnya, dapat dilihat dari apakah konsumen bersedia melakukan pembelian ulang, bahkan tanpa bergantung pada potongan harga.
Karena itu, pelaku usaha perlu terus mengevaluasi apakah produk yang ditawarkan masih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Exit Strategy Perlu Dipersiapkan Sejak Awal
Bagian terakhir yang menjadi perhatian adalah exit strategy.
Menurutnya, banyak pelaku usaha menganggap strategi keluar dari bisnis sebagai bentuk pesimisme.
Padahal, exit strategy merupakan bagian dari perencanaan agar perusahaan memiliki langkah antisipasi apabila kondisi tidak berjalan sesuai harapan.
Ia mencontohkan sejak awal pelaku usaha perlu menentukan tujuan akhir bisnis, apakah akan dijual, melantai di bursa, diteruskan kepada keluarga, atau dilepas ketika target tertentu telah tercapai.
Dengan memiliki rencana tersebut, setiap keputusan yang diambil akan lebih terarah dan selaras dengan tujuan jangka panjang perusahaan.
Evaluasi Perlu Didukung Data yang Akurat
Dalam melakukan evaluasi, ia menjelaskan pentingnya menggunakan data yang akurat agar proses pengambilan keputusan lebih efektif.
Menurutnya, pengelolaan data bisnis yang terintegrasi memudahkan perusahaan melihat kondisi penjualan, keuangan, inventaris, hingga sumber daya manusia dalam satu sistem sehingga proses evaluasi tidak perlu dilakukan secara manual.
Di akhir pemaparannya, ia kembali menegaskan bahwa evaluasi bisnis merupakan proses yang harus dilakukan secara rutin, bukan hanya ketika perusahaan menghadapi masalah.
Menurutnya, dengan memahami efektivitas penggunaan modal, kekuatan arus kas, ruang gerak operasional, kualitas tim, kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar, hingga kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan melalui exit strategy, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan. Ia pun mengajak para pelaku usaha agar pada 2026 tidak hanya bekerja lebih keras, tetapi juga bekerja lebih cerdas melalui evaluasi yang terukur dan berkesinambungan.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : MALAKA