KREATIF: Ardhiana Malrasari menunjukkan tas karyanya berbahan kain jins bekas.
BLITAR KAWENTAR – Tumpukan celana jins bekas yang biasanya berakhir sebagai limbah ternyata bisa menjadi sumber penghasilan.
Hal itu dibuktikan oleh Ardhiana Malrasari, warga Kelurahan dan Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, yang berhasil menyulap celana bekas pekerja tambang menjadi tas dan aneka produk fesyen bernilai ekonomi tinggi.
Kreativitas tersebut bahkan membuat produknya diminati pembeli dari berbagai daerah. Tidak sedikit pelanggan yang menjadikan tas buatannya sebagai oleh-oleh hingga dibawa ke luar negeri.
Usaha yang kini berkembang itu berawal dari kondisi sulit saat pandemi Covid-19. Sejak 2015, Ardhiana menekuni usaha pembuatan tas berbahan kain impor.
Namun ketika pandemi melanda, pasokan bahan baku mengalami kendala akibat pembatasan impor sehingga dirinya harus mencari alternatif lain.
Di tengah keterbatasan tersebut, ia melihat tumpukan celana jins bekas milik suaminya yang bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan. Dari situlah ide untuk memanfaatkan limbah fesyen mulai muncul.
Awalnya Ardhiana hanya mencoba-coba mengolah kain dari celana bekas tersebut.
Namun hasilnya ternyata cukup menarik, terlebih setelah dipadukan dengan batik ciprat karya penyandang disabilitas.
Perpaduan bahan daur ulang dan sentuhan motif batik membuat produknya memiliki ciri khas tersendiri. Respon positif dari konsumen membuatnya semakin yakin mengembangkan usaha tersebut secara serius.
Ia kemudian mulai membongkar celana jins bekas, membuat pola, dan menjahitnya menjadi berbagai produk fesyen yang unik serta memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan bahan bekas pada umumnya.
Meski berbahan dasar limbah, proses pembuatan produk tidak bisa dilakukan secara instan.
Setiap celana jins harus melalui tahapan yang cukup panjang sebelum siap diolah.
Mulai dari pencucian ulang, pemilahan berdasarkan warna dan tingkat kepudaran kain, pembongkaran jahitan, hingga pemotongan sesuai pola desain yang telah ditentukan. Setelah seluruh tahapan selesai, bahan baru dijahit menjadi produk jadi.
Menurut Ardhiana, pemilihan warna menjadi salah satu bagian penting agar perpaduan kain menghasilkan tampilan yang menarik dan memiliki nilai estetika tinggi.
Saat ini Ardhiana memproduksi berbagai jenis produk seperti tas, topi, pouch, hingga tempat tisu. Seluruh proses produksi dilakukan di rumahnya dengan bantuan dua orang pekerja.
Karena proses pengerjaannya cukup detail, harga produknya juga relatif tinggi. Satu tas dijual mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu tergantung ukuran serta tingkat kesulitan pengerjaan.
Dalam sebulan, ia mampu menghasilkan sekitar 50 tas dengan omzet mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Angka tersebut menunjukkan bahwa limbah fesyen memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara kreatif.
Bagi Ardhiana, usaha yang dijalankannya bukan sekadar mencari keuntungan. Ia juga ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah fesyen.
Menurutnya, barang bekas tidak selalu harus berakhir menjadi sampah. Dengan kreativitas dan inovasi, limbah dapat diubah menjadi produk baru yang memiliki manfaat sekaligus nilai ekonomi.
Saat ini pemasaran produknya masih mengandalkan media sosial dan pesanan langsung dari pelanggan.
Baca Juga: Lapas Blitar Perketat Tes Urine Napi Usai Gagalkan Penyelundupan 920 Pil Koplo
Meski demikian, jangkauan pasarnya terus berkembang hingga berbagai daerah di Indonesia.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas mampu melahirkan peluang usaha baru sekaligus membantu mengurangi limbah tekstil yang semakin meningkat setiap tahun. (*/c1/sub)
Editor : Ratna Anggi Puspita Sari