BLITAR - Pembahasan mengenai strategi suksesi bisnis menjadi salah satu topik menarik dalam perbincangan Raditya Dika bersama Sandiaga Uno. Di tengah diskusi seputar pengembangan perusahaan, Raditya mengaku penasaran bagaimana cara memastikan sebuah bisnis tetap bertahan ketika pendirinya sudah tidak lagi aktif memimpin.
Menurut Raditya, banyak perusahaan yang dibangun dengan sosok pendiri sebagai pusat pengambilan keputusan. Kondisi tersebut membuat keberlangsungan usaha menjadi tantangan ketika pemilik mulai pensiun atau tidak lagi mampu mengelola perusahaan secara langsung.
Menanggapi hal tersebut, Sandiaga Uno membagikan pengalamannya selama membangun berbagai perusahaan hingga terjun ke dunia pemerintahan. Ia menegaskan bahwa proses suksesi seharusnya tidak dilakukan secara mendadak, melainkan dipersiapkan sejak awal perusahaan mulai berkembang.
Suksesi Harus Disiapkan Jauh Sebelum Pemimpin Mundur
Sandiaga mengungkapkan dirinya pernah mengalami masa sulit ketika sebuah bisnis mengalami kehancuran akibat kondisi ekonomi. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa kualitas bisnis dan keberlanjutan perusahaan harus menjadi perhatian utama sejak awal.
Karena itu, setiap kali menunjuk seorang CEO, Sandiaga selalu memberikan pesan agar pemimpin tersebut langsung memikirkan siapa sosok yang kelak mampu menggantikannya. Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh menjadi satu-satunya orang yang memahami jalannya perusahaan.
Ia bahkan meminta setiap CEO menyiapkan beberapa kandidat penerus sehingga ketika terjadi pergantian kepemimpinan, perusahaan tetap berjalan tanpa mengalami guncangan besar.
Pengalaman di Pemerintahan Ikut Membentuk Cara Berpikir
Prinsip tersebut juga diterapkan Sandiaga ketika dipercaya masuk ke pemerintahan. Ia mengaku mulai mempercepat proses regenerasi setelah memutuskan fokus pada pengabdian sebagai pejabat publik.
Menurutnya, keputusan yang diambil seorang menteri akan berdampak kepada jutaan masyarakat sehingga proses pergantian kepemimpinan harus direncanakan dengan matang.
Ia juga mencontohkan bagaimana saat memimpin organisasi maupun kementerian, dirinya selalu memikirkan siapa figur yang layak melanjutkan estafet kepemimpinan ketika masa jabatannya berakhir.
Integritas Menjadi Faktor Paling Penting
Saat ditanya bagaimana menentukan calon penerus yang tepat, Sandiaga mengaku tidak ada rumus pasti. Namun, ia selalu melihat tiga aspek utama, yakni integritas, semangat bekerja, dan kemampuan intelektual.
Meski demikian, ia menilai integritas tetap menjadi syarat yang paling tidak bisa ditawar. Baginya, kemampuan seseorang masih bisa diasah, tetapi karakter dan kejujuran merupakan fondasi utama seorang pemimpin.
Sandiaga menjelaskan bahwa integritas dapat terlihat dari rekam jejak seseorang ketika menghadapi persoalan kecil maupun besar. Cara seseorang mengambil keputusan sehari-hari menjadi cerminan karakter yang akan dibawanya saat memimpin organisasi.
Budaya dan Pendidikan Berperan Membentuk Karakter
Dalam diskusi tersebut, Sandiaga juga menyinggung masih banyaknya persoalan integritas di tengah masyarakat. Menurutnya, budaya permisif sering kali membuat pelanggaran kecil dianggap sebagai hal biasa.
Padahal, nilai-nilai kejujuran telah diajarkan sejak kecil melalui lingkungan keluarga maupun pendidikan. Karena itu, ia menilai pembentukan karakter harus dimulai dari rumah agar seseorang memiliki komitmen menjaga integritas ketika memasuki dunia kerja.
Bagi Sandiaga, keberhasilan sebuah bisnis bukan hanya ditentukan oleh besarnya keuntungan, tetapi juga kemampuan perusahaan menciptakan pemimpin baru yang mampu menjaga kualitas, keberlanjutan, dan nilai-nilai organisasi dalam jangka panjang.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Raditya Dika