Perbedaan Tanam Bawang Merah Umbi dan Biji TSS, Mana yang Lebih Untung untuk Petani?

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS perlu dipahami petani. Simak kelebihan, kekurangan, biaya, hingga waktu panen agar bisa memilih metode budidaya paling menguntungkan.(pinterest)
Perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS perlu dipahami petani. Simak kelebihan, kekurangan, biaya, hingga waktu panen agar bisa memilih metode budidaya paling menguntungkan.(pinterest)

BLITAR - Perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS menjadi salah satu topik yang paling sering ditanyakan petani, terutama saat menentukan metode budidaya yang paling menguntungkan. Masing-masing sistem memiliki kelebihan dan kekurangan, mulai dari biaya produksi, kecepatan panen, hingga risiko serangan penyakit.

Dalam praktiknya, sebagian besar petani di Indonesia masih mengandalkan sistem tanam menggunakan umbi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, metode True Shallot Seed (TSS) atau tanam bawang merah dari biji mulai banyak dilirik karena dinilai lebih hemat biaya dan menghasilkan bibit yang lebih sehat.

Lalu, apa saja perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS? Berikut penjelasan lengkapnya agar petani dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi lahan, modal, dan target usaha taninya.

Sistem Tanam Umbi Masih Jadi Pilihan Utama

Sistem tanam umbi merupakan metode budidaya bawang merah yang paling umum diterapkan petani. Bibit berasal dari umbi hasil panen sebelumnya yang kemudian dipotong sedikit pada bagian ujung sebelum ditanam langsung di bedengan.

Baca Juga: 31 Perenang Kabupaten Blitar Adu Cepat di Kejurprov Akuatik Junior Jawa Timur 2026, Ini Target yang Diincar

Keunggulan utama metode ini adalah proses pertumbuhan tanaman berlangsung lebih cepat. Umbi yang sudah siap bertunas membuat tanaman lebih mudah tumbuh sehingga tingkat keberhasilan penanaman juga relatif tinggi.

Selain itu, masa panennya lebih singkat dibandingkan metode lain. Petani umumnya sudah bisa memanen bawang merah sekitar 55 hingga 60 hari setelah tanam.

Kecepatan panen ini menjadi alasan mengapa banyak petani tetap memilih sistem umbi, terutama ketika mengejar perputaran modal yang cepat.

Biaya Bibit Umbi Cukup Besar

Di balik keunggulannya, sistem tanam umbi memiliki kelemahan yang cukup signifikan, yakni biaya bibit yang tinggi.

Baca Juga: Kontingen Atlet Tinju Kota Blitar Borong Medali di Wali Kota Cup Madiun, Pertina: Capaian Ini Belum Berakhir

Dalam budidaya bawang merah, biaya pembelian bibit umbi bahkan dapat mencapai sekitar 40 persen dari total biaya produksi. Angka tersebut tentu menjadi beban tersendiri, terutama bagi petani dengan modal terbatas.

Selain persoalan biaya, penggunaan umbi juga memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit. Umbi yang berasal dari musim tanam sebelumnya berpotensi membawa virus maupun jamur yang dapat menurunkan produktivitas tanaman.

Karena itu, kualitas bibit harus benar-benar diperhatikan agar hasil panen tetap optimal.

Tanam Biji TSS Mulai Banyak Diminati

Alternatif lain yang kini semakin populer adalah sistem tanam menggunakan biji atau dikenal sebagai True Shallot Seed (TSS).

Pada metode ini, bibit tidak berasal dari umbi, melainkan dari biji yang harus disemai terlebih dahulu, mirip seperti penyemaian cabai maupun tomat.

Bibit hasil semaian kemudian dipindahkan ke lahan setelah berumur sekitar 40 hingga 45 hari.

Metode ini menawarkan sejumlah keuntungan yang cukup menarik, terutama dari sisi efisiensi biaya.

Benih Lebih Murah dan Bibit Lebih Sehat

Salah satu kelebihan utama sistem TSS adalah biaya benih yang jauh lebih rendah dibandingkan bibit umbi.

Biaya benih hanya sekitar seperempat dari biaya pembelian bibit umbi, sehingga petani dapat menghemat pengeluaran sejak awal musim tanam.

Selain lebih hemat, bibit yang berasal dari biji juga umumnya lebih sehat karena memiliki risiko lebih kecil membawa penyakit dari musim sebelumnya.

Tanaman hasil TSS juga dikenal mampu menghasilkan umbi dengan ukuran yang lebih seragam sehingga kualitas panennya lebih baik.

Kondisi tersebut membuat metode ini mulai banyak dipertimbangkan sebagai alternatif budidaya bawang merah yang lebih berkelanjutan.

Waktu Panen Lebih Lama dan Perlu Ketelatenan

Meski menawarkan banyak keuntungan, sistem TSS juga memiliki tantangan tersendiri.

Proses budidaya membutuhkan waktu lebih panjang karena bibit harus melalui tahap penyemaian terlebih dahulu.

Secara keseluruhan, masa tanam hingga panen berkisar antara 70 hingga 90 hari, lebih lama dibandingkan sistem umbi.

Selain itu, petani juga harus lebih telaten selama proses penyemaian. Perawatan bibit menjadi faktor penting agar tanaman tumbuh optimal sebelum dipindahkan ke lahan utama.

Keterampilan dalam mengelola persemaian menjadi salah satu kunci keberhasilan metode ini.

Pilih Metode Sesuai Kondisi Usaha Tani

Baik sistem tanam umbi maupun biji TSS sama-sama memiliki peluang menghasilkan panen yang baik apabila diterapkan dengan benar.

Bagi petani yang memiliki modal lebih dan ingin memperoleh hasil panen lebih cepat, sistem umbi masih menjadi pilihan yang praktis.

Sebaliknya, bagi petani yang ingin menekan biaya produksi serta memperoleh bibit yang lebih sehat, metode TSS layak dipertimbangkan meski membutuhkan waktu dan perawatan lebih intensif.

Pada akhirnya, pemilihan metode budidaya bawang merah sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan, kemampuan modal, pengalaman petani, dan tujuan usaha tani yang ingin dicapai.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Perbedaan tanam bawang merah umbi dan biji TSS True Shallot Seed Budidaya bawang merah petani bawang merah bawang merah